Coba sebutkan satu saja nama seseorang yang anda tahu persis, belum pernah menemui satu kegagalan pun dalam hidupnya. Bisa? Sama, saya juga tidak 🙂

Bahkan Bill Gates pernah melewati beberapa fase yang lazim disebut “kegagalan” oleh banyak orang: dropout dari Harvard University dan pernah bekerja untuk salah satu perusahaan yang kemudian gulung tikar.

Albert Einstein baru bisa berkomunikasi lisan pada usia 9 tahun dan sempat ditolak untuk melanjutkan pendidikan di salah satu politeknik terkemuka di Zurich.

Thomas Alva Edison berhasil mempelajari seribu kesalahannya dalam menciptakan bola lampu, hingga akhirnya kemudian berhasil menemukan formula yang tepat pada percobaan yang ke seribu satu.

Dan saya, ah saya. Nama saya belum sebesar nama-nama di atas dan karya saya belum dikenal oleh banyak orang. Tapi tentu saja, seperti orang-orang lainnya, saya pernah juga mengalami beberapa pembelajaran yang mungkin bisa disebut sebagai kegagalan. Dan saya juga tidak selalu berada dalam kondisi siap ketika menemui hal-hal macam itu. Ada beberapa fase dimana saya tentu sempat bertanya-tanya, “Kenapa saya? Apa kesalahan yang pernah saya lakukan hingga bisa diberi kegagalan seperti ini? Apa ini ganjaran atas perbuatan di masa lalu saya yang kurang mengenakkan bagi orang lain?”, dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berlanjut hingga akhirnya saya mampu berpikir jernih dan kembali memutar otak untuk tidak berkubang pada permasalahan yang sama, namun bagaimana mengubah pola pikir untuk menganggap jalan untuk keluar dari masalah tersebut adalah jalan yang sama untuk meraih keberhasilan.

Advertisement

Saya perlahan-lahan mulai belajar bahwa hal-hal extraordinary yang berada di luar dugaan kita sebagai manusia, hal-hal yang biasa disebut “kegagalan” ini adalah hal yang lumrah dialami oleh siapapun, tanpa kecuali, selama masih hidup di dunia. Memang, mungkin hal-hal ini memiliki kaitan tertentu dengan perbuatan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Bukan seperti ganjaran atau balasan, sebab saya yakin semesta bekerja dengan sangat baik hati, bahkan ‘hukuman’ pun bukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan sebuah kegagalan. Hal-hal yang disebut kegagalan ini lebih kurang mirip seperti hubungan sebab-akibat. Kita berproses dengan tidak maksimal, tentu hasil yang didapat tidak akan maksimal juga. Kita tidak memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk mendidik buah hati dengan baik, maka proses pembelajaran mereka juga jadi tidak optimal.

Setelah sedikit banyak mulai paham bahwa kegagalan itu lumrah, lazim, common, b aja… Terus gimana dong menyikapi datangnya hal-hal macam itu?

Gagal itu pasti, selain jatah gagal harus dihabiskan dulu kalau kata Pak Dahlan Iskan, yang mempengaruhi semesta kita masing-masing sebenarnya bukan gagalnya itu, tapi bagaimana reaksi kita terhadapnya: menolak dan terus-menerus meratapi kesalahan, atau belajar menerima dan bersedia untuk mengoreksi kembali.

Karena hal-hal extraordinary hanya datang pada orang-orang yang siap untuk jadi extraordinary, saya percaya kalau diperlukan taktik-taktik dan sikap-sikap yang extraordinary juga dalam menghadapinya. Cara yang ordinary itu seperti apa? Banyak! Galau terus-terusan, baper ndak mau move on, takut mencoba lagi, terkungkung dalam rasa rendah diri… Nah, kan menjijikkan sekali!

Kita manusia-manusia extraordinary harus pakai cara tergila mungkin: jadikan gagal sebagai pondasi keberhasilan.

Gagal dijadikan pondasi keberhasilan itu maksudnya gimana? Bukannya dimana-mana, keberhasilan yang besar itu dihasilkan dari keberhasilan kecil yang kita lakukan setiap harinya? Not really. Ungkapan itu ada benarnya, tapi kalau dari gagal aja kita sudah bisa membangun optimisme, lalu optimisme itu dipupuk terus, dikit demi sedikit dibangun dan diupgrade, toh ujung jalannya akan sama juga kan? Keberhasilan yang besar.

Michael Jordan has amazingly said,

“I've missed more than 9,000 shots in my career. I've lost almost 300 games. 26 times, I've been trusted to take the game-winning shot and missed. I've failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed.”

Another extraordinary person with extraordinary thoughts!

Jadi, untukmu, yang sedang merasa terpuruk atau resah gelisah tak tentu arah, diombang-ambingkan dan merasa dipermainkan keadaan, coba mindsetnya dibalik. Jangan mau diperalat situasi, tapi peralat situasi, cari celah dan manfaatkan baik-baik.

It’s not only about the timing, it takes courage, too. Life is like a game of uncertainty, assume well and play good.

Artikel ini juga dipublikasikan di http://schasyana.blogspot.co.id/2016/05/ini-untuk-kamu-yang-sedang-merasa-gagal.html