Apupun alasannya, aku belum dapat menerima keputusannmu. Betapa pedih dan sakitnya hati ini kau tinggalkan. Mungkin bagimu ini tidak berpengaruh apa-apa. Toh kamu terlihat melenggang santai pergi, bahkan dengan penuh suka cita. Dimankah letak hatimu?

Tidak usah menarik ke belangkang permasalahan yang kita alami hingga kau memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Sekarang yang harus kita lihat adalah, siapa diatara kita yang "berhianat?" Bagaimana mungkin hatiku tidak berdarah-darah selepas kau tinggalkan. Bagaimana mungkin?

Apa yang ada di kepalamu sehingga membuat keputusan pahit ini, pahit bagiku. Tidak ingatkah perjuangan kita mempertahankan hubungan kita selama ini. Apakah matamu memang sudah dibutakan oleh dia yang mungkin lebih dari pada aku?

Boleh saja kamu pergi, tapi tolong jangan memperdalam luka yang telah kau buat dengan memamerkan dia yang sekarang ada disampingmu. Tak puaskan dengan cukup "meninggalkanku" tanpa harus menambahkan kata "menghianati"? Tidak bisakah?

Haruskah aku menghapus ingatanku atas dirimu? Tapi bagaimana caranya? Mungkinkah?