Untukmu yang sempat membuatku jatuh hati

Ternyata kau sudah lama tak muncul dalam ponselku, dimana? Pertanyaan bodoh. Aku bukan siapa – siapa, bahkan takkan menjadi siapa dalam hidupmu. Percakapan kita hanya sebatas itu, ya teman. Takkan lebih. Semenjak hari itu, mungkin aku menyukaimu.

Halo bagaimana kabarmu tuan berkacamata? Kau kah itu yang sedang berjalan di sudut jalan? Pandanganku mulai tak jelas. Ah, ternyata bukan! Otakku sudah mulai dipenuhi bayang – bayangmu. Sudah beberapa hari kau tak muncul di ponselku mungkin ku rindu. Meski aku tahu kabarmu hanya penyembuh luka di hatimu sendiri, tidak untukku. Kau sekarang sedang beradu dengan lalumu yang mungkin akan menjadi masa depanmu. Aku hanya pendengar baikmu sekaligus teman sepermainanmu. Ingatanku masih kuat ketika kau bersemangat menceritakan dia, dia yang sempat singgah di hatimu dan mungkin sekarang menjadi idola di hatimu (lagi).

Aku tak banyak berharap padamu meski tak sengaja ku gantungkan harapan padamu. Ya aku tahu, kau hanya menghubungi ketika kau sedang penat dengan duniamu dan butuh sandaran. Tetapi bolehkan kita bertukar posisi? Aku juga butuh sandaran, sayang. Aku cukup senang ketika kau mendengarkanku sedang berceramah menceritakan seseorang yang sempat menarik perhatianku akhir – akhir ini. Sebenarnya bukan itu tujuanku, aku hanya ingin kau memperhatikan kehidupanku sedikit saja seperti aku memperhatikanmu selama ini. Namun tak semudah itu, kau sibuk dengan ponselmu dan mungkin dia yang menjadi idolamu sedang mencarimu. Ah menyebalkan!

Baiklah mungkin sudah cukup aku menggantungkan harapanku padamu karena aku tahu kita hanya sebatas teman sepermainan yang saling bertukar cerita tanpa perasaan lebih. Aku tidak pernah menyesal pernah mempunyai perasaan padamu. Persetan dengan perasaanku, ku harap kau bahagia dengan duniamu. Satu lagi, jangan pernah lupa menghubungiku ketika kau ingin pulang sebentar dan hatimu sedang patah.