Hai kamu, terimakasih setidaknya kamu sudah menerima pesan itu. Pesan perkenalan atas kekagumanku kepada dirimu yang sungguh luar biasa. Bagaimana tidak luar biasa ? Kau baru saja menyelesaikan studimu di jenjang yang tertinggi di usia yang masih dikatakan sangat muda. Jarang orang yang menyelesaikan di usia sepertimu. Ku sampaikan pesan singkat itu agar setidaknya kau mengetahui bahwa aku sangat mengagumimu, walaupun aku tahu bahwa aku dan kamu memang sebelumnya tidak pernah bertemu maupun berkenalan.

Hai kamu, setelah mengetahuimu dan melihatmu di berbagai video, yang aku tahu kau adalah orang yang sangat baik dan sangat lucu, kau juga taat beragama dan sangat santun. Ayahku pasti sangat suka dengan kepribadianmu, asal kau tahu, ayahku sangat susah bertemu dengan orang baru yang akan menggantikan posisinya untuk menjagaku kelak. Umur tidak akan ada yang tahu, bisa saja ayahku pergi menghadap Tuhan dengan cepat, dan aku tidak ingin ayahku menyesal jika belum menyerahkan aku ke lelaki yang sangat dipercayainya untuk menjagaku dan membimbingku ke syurga-Nya.

Ah, sepertinya entah kenapa aku selalu menyukai orang yang bahkan aku belum pernah bertemu langsung dan mengapa orang tersebut lagi-lagi berada di negara yang sama. Aku tidak bermaksud seperti itu, tetapi hati ini berkata lain, memang aku tidak ingin terluka lagi. Aku hanya ingin menjadikan engkau lelaki terakhir pilihan hatiku yang sudah lama bimbang dan tidak karuan, aku hanya ingin membahagiakan kedua orangtua dan membuat mereka tidak memikirkan aku lagi karena aku sudah aman dan bahagia bersama dengan mu. Aku hanya memikirkan keadaan kedua orangtuaku yang sangat jauh disana pasti sedang mengkhawatirkan anak satu-satunya ini.

Untukmu yang sepertinya akan kembali hanya menjadi bayangan semu di kehidupanku, terimakasih setidaknya kamu pernah hadir di kehidupanku walaupun hanya sementara dan bahkan kita belum saling bertemu, tapi aku harap suatu saat kita akan bertemu entah sebagai teman ataupun sebagai orang asing. Jika memang dimensi itu tidak bisa kutembus, maka izinkan aku mengenangmu sebagai orang yang pernah hadir didalam hidupku. Sejujurnya aku tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi, kalah sebelum berperang, tidak berani mengatakan atau berkenalan dengan lelaki yang aku kagumi secara diam-diam selama bertahun-tahun dan tiba-tiba aku mendengar bahwa ia akan menikah. Aku hanya tidak ingin merasakan kesedihan seperti itu lagi, tetapi jika memang sekarang aku tidak diberi kesempatan untuk hadir di hidupmu, aku akan meminta kepada Sang Pemilik hati ini agar aku ikhlas sebagaimana seharusnya aku ikhlas.

Aku akan mencoba mengikhlaskan jika memang kau bukanlah takdirku. Aku akan bersabar dan terus memantaskan diriku hingga akhirnya Tuhan mempertemukan aku dan engkau disaat yang tepat. Semoga siapapun engkau yang nantinya kelak akan menjadikan aku tulang rusukmu selalu bersabar untuk terus berdoa kepada pemilik alam semesta ini untuk mempertemukan kita dikemudian hari.