Pertemuan hari itu di sebuah tempat dimana ada berjuta jiwa merayakan pertemuan ataupun perpisahan. Pertemuan pertama yang mengesankan menurutku. Dan tak pernah kusangka kamulah yang setia menemaniku dalam setiap doaku. Ya, karena hanya itulah yang bisa aku lakukan untuk saat ini tiada lagi hal lain yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu.

Beberapa pertemun kita berikutnya aku semakin dibuat terkesima akan dirimu. Bukan tentang kamu yang rupawan. Jauh dari itu, kamu membuatku terkesima dengan berbagai prinsipmu. Tentang agamamu, tentang kehidupanmu atau bahkan tentang rencana akan masa depanmu. Sungguh aku terkesima akan semua yang ada pada dirimu.

Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun kita masih tetap sama. Ya, aku merasakan kebahagiaan itu. Bahkan aku sangat yakin kamulah yang aku cari selama ini. Pernah suatu hari hari aku ingin seperti cewek pada umumnya yang bisa dibilang modis diluar sana. Aku memakai pakaian yang tidak biasa aku kenakan. Aku berharap kamu senang, tapi yang aku dapatkan adalah

“Apaan sih, aku ga suka kamu pake kayak gini. Udahlah kayak biasanya aja”. Yah aku sedikit kecewa pada saat itu.

Aku hanya ingin kamu seneng aku bisa seperti yang lain. Tapi disatu sisi aku juga merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ternyata kamu cukup perhatian denganku. Aku ucapkan terima kasih untuk perhatian yang kamu berikan padaku.

Advertisement

Ya, sepertinya pepatah tak pernah salah. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi aku masih percaya padamu bahwa walaupun kita berpisah kamu tidak akan pernah berubah itulah harapan terbesarku padamu. Awal perpisahan kita kamu masih tetap sama tanpa tatap muka kita bisa bersama melalui media sosial yang ada. Kamu rutin menghubungiku setiap hari bahkan sampai salah satu diantara kita terlelap dalam mimpi masing-masing.

Tapi malam itu semua berubah. Bukan, bukan sunyinya malam yang berubah. Kamulah yang tiba tiba hilang tanpa pesan. Aku masih berharap kamu untuk kembali lagi. Namun, hasilnya nihil bagiku. Masih tetap sama pesan darimu tak kunjung datang.

Aku masih tetap setia menunggu kabar darimu. Beberapa teman menyarankan kepadaku untuk ‘meninggalkanmu’ yang tega menghilang tanpa pesan. Tapi aku tetap bersabar untuk menunggumu kembali. Sampai akhirnya kamu kembali, namun dengan segala perubahan yang ada padamu. Aku bahagia bisa melihatmu kembali, tapi ternyata aku begitu terluka melihat semua perubahanmu. Kamu tak lagi seperti dulu. Jauh berubah, kamu bahkan terlihat sangat acuh padaku.

Entahlah mungkin ada orang lain yang menggantikanku, atau mungkin kamu memang sudah tak lagi peduli denganku. Yang aku sangat paham sekarang adalah kamu seperti orang asing. Tak menyapaku, diam. Lalu aku bisa apa selain mendoakanmu?

Kamu adalah untaian doa yang tak pernah lepas aku lantunkan. Mendokanmu adalah caraku mencintaimu