Malam ini malam kesekian kalinya, kamu sibuk dengan kenanganmu. Kisah-kisah yang telah berlalu yang tak mungkin kamu rajut ulang. Senyum-senyum yang telah berlalu yang tak mungkin kamu rasakan lagi. Tatapan mata yang telah berlalu yang tak mungkin kamu lihat sinarnya lagi.

Hei, itu sudah berlalu sayang. Coba lihat dua orang yang sedang duduk, berbincang dan tersenyum itu. Matanya yang teduh, garis-garis muka yang sudah tegas terlihat tanda sudah tak sedikit umur mereka, tangannya yang kasar karena kerja kerasnya, wajah yang mulai lelah dan menua.

Merekalah yang setiap detiknya berdoa kepada Yang Maha Pemurah untuk kebahagiaanmu. mereka yang setiap jengkal dari kerja kerasnya berharap akan jaminan masa depanmu. Mereka yang memberi limpahan kasih sayang, memberimu segalanya dan tak pernah mengharapkan sedikitpun pembalasanmu.

Apa yang sudah kamu perbuat untuk mereka sayang? Apa? Ah, bukankah kamu selama ini hanya sibuk dengan dirimu sendiri? Sibuk dengan kisah-kiah yang sia-sia belaka. Sibuk memikirkan mereka yang datang beberapa saat dalam hidupmu dan dengan mudahnya merebut semua perhatianmu, merebut semua waktu, pikiran dan hatimu. Lalu apa yang kamu dapat dari semua itu sayang? Apa?

Tidakkah kamu ingat apa mimpi-mimpi masa kecilmu, yang dengan polos berkata "kelak ketika besar aku ingin jadi orang sukses dan membahagiakan orang tuaku." Lupakah kamu itu sayang?

Advertisement

Tidakkah kamu ingin membuat bahagia di sisa umur mereka? Sedikit saja bangga kepadamu, sedikit saja tertawa dan tersenyum akan prestasimu. Tidak! Mereka tidak mengharapkan balasan materi darimu. Yang mereka ingingkan hanya satu "kamu bahagia!" Sudah itu saja!

Ah. mulai sadarkah kamu? Betapa pecundangnya kamu? Selama ini kamu sibuk meratapi mereka yang telah dengan mudahnya menancapkan luka hingga berbekas di hati. Lalu pernahkah kamu berpikir? Berapa kali kamu menyakiti orang tuamu? Berapa kalikah mereka memaafkanmu, tanpa kamu harus minta maaf.

Betapa menyedihkannya kamu sayang? Sungguh jika di dunia ini ada nominasi untuk seorang pencundang, mungkin kamu yang mendapat tropi kemenangan itu?

Kini, masih ada waktu untukmu. Tidak! tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki semua. Buatlah sedikit saja senyum untuk mereka. Tersenyum bangga akan prestasimu, tersenyum akan perubahan sikapmu, tersenyum bangga atas dirimu.

Dan kini berjanjilah kepada dirimu sendiri, tak akan pernah membuat mereka kecewa, tak akan pernah menyakiti perasaan mereka. Selagi ada waktu perbaikilah sikap, kejarlah mimpi dan cita-cita. Dan, jangan pernah tenggelamkan dirimu lagi pada kisah yang sia-sia. Betapa berharganya waktu yang miliki sekarang, isilah dengan ukiran-ukirasn prestasi.

Dan selalu ingat! Mereka tak butuh balasan materi darimu, yang mereka butuh hanya satu "kamu bahagia!" Sudah itu saja."

Untukku,

Yang mulai ingat apa mimpiku.