Dahulu, kita layaknya sepasang senja. Aku siang dan kamu malam. Di peraduan kita dipertemukan oleh jingga yang tak berkesudahan. Kamu yang begitu aku cinta membuatku selamanya ingin menjadi tempat berbagi cerita. Peluh keringat hingga kekecewaan pada sahabatmu aku dengarkan tanpa sedikitpun ada bagian yang terlewatkan.

Kau tau, Cinta. Aku adalah rumah yang sama, meskipun kini caramu masuk ada yang berbeda. Aku adalah penikmat cinta, yang selalu kau hujamkan padaku di setiap detik kebersamaan kita. Seduhan kopimu, petikan gitarmu, hingga syahdu suaramu, menelisik jauh dalam kalbu.

Dulu untuk menunggu lima menit saja kau begitu marah. Sekarang, bahkan tiga hari aku tak memberi kabar saja jawabmu entah. Dunia memang terlalu cepat berputar, hingga aku lupa bahwa kau sudah jauh dari yang aku pikirkan. Aktivitas baru hingga kesibukanmu sepertinya menjadi alasan lupa. Apalagi jarak, yang terlanjur menjadi borok yang menyeruak. Padahal dulu sering kita bahas, bahwa kita adalah satu nafas.

Aku bukan orang yang suka menyalahkan keadaan, meski aku juga mengamini jika perpisahan adalah hal yang menyakitkan. Jarak yang kita hadapi memang sebuah hambatan, namun bukankah cinta sejati selalu penuh rintangan? Bukankah sejatinya cinta itu saling menguatkan? Bukan menyalahkan keadaan. Apalagi mencoba untuk berubah pikiran. Karena cinta sejati itu tetap, jika kita mau saling berbagi-berucap.

Aku tetap disini, menunggumu kembali ke pelukanku. Jangan salah, banyak laki-laki yang mencoba mendatangiku. Sengaja aku hiraukan. Bukan karena aku tak mau membuka pintu. Tapi karena hatiku sudah penuh untuk mencintaimu. Aku tidak sedang pamer kebesaran cinta. Aku hanya ingin bercerita jika cintaku tak pernah berkurang kadarnya.

Advertisement

Dari awal, sebenarnya aku sudah tau. Bahwa mencintaimu adalah deretan luka tanpa batas waktu. Namun, hingga saat ini hatiku kokoh dan tak bergeming, karena hanya di bahumu aku ingin dibimbing. Andai boleh jujur, selama hidup aku tak pernah merasakan cinta sebesar ini. Beberapa kali aku jatuh cinta, namun kandas yang terjadi aku bisa menerima. Tapi denganmu, patah hati adalah tentang waktu yang terhenti tepat ketika merindukanmu.

Andai kau berikan aku penjelasan, mungkin aku tak akan terguncang seperti ini. Namun, itulah sifatmu, yang lebih memilih diam lantas pergi tanpa sedikitpun kalimat perpisahan. Bukankah dari dahulu sudah pernah kita perdebatkan, bahwa bersama tak semudah mengerjakan laporan. Kamu yang begitu tinggi, harus aku gapai hanya dengan kekuatan mimpi. “Turunlah sedikit!” Bukankah itu yang dari dahulu aku minta kepadamu.

Dan semakin hari, waktu berlalu tanpa pernah mau peduli. Aku meringkuk penuh kerinduan, sedang kau terlampau jauh berlari tanpa sediktipun meninggalkan bayangan. Namun aku selalu percaya, jika takdir Tuhan tepat di samping mereka yang setia. Dan karena cinta, aku tetap disini, menguatkan diri, memantaskan diri sembari menunggumu kembali.