Aku menyadari satu hal bahwa kita tidak akan pernah bisa menjalani pertemanan seperti saat pertama kali aku mengenalmu

-ketika kamu belum mengetahui kebenaran bahwa aku mengagumimu-.

Awalnya aku sangat bahagia ketika respon yang kamu berikan saat kamu mengetahui semuanya begitu manis. Kamu menghubungiku, bahkan selalu memiliki alasan untuk bertemu denganku dan mencari tahu tentang kebenaran perasaanku padamu. Namun, aku terlalu bodoh untuk menjelaskan apa yang kurasa hingga mungkin kamu salah mengartikan tingkahku yang selalu mencoba untuk menjauhimu sejak saat itu.

Aku tidak ingin teman-temanku mengusikmu dengan gurauan mereka, aku tahu kamu tidak nyaman dengan semua itu. Dalam keramaian aku selalu mencoba untuk tidak menyapamu meskipun setiap detiknya aku harus menikam seluruh panca indraku ketika bertemu denganmu agar rasa itu tidak muncul.

Aku melihat kekecewaan dimatamu begitu dalam terhadapku.

Advertisement

Aku sadar Ini salahku, aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman dengan perasaanku. Perlahan tapi pasti, kamu semakin menjauh dan terus menghilang dari setiap aktifitas yang pernah kujalani bersamamu di dunia maya. Aku bahkan tidak pernah mendengar suaramu lagi ketika kita saling menatap seperti waktu itu.

Kini, aku hanya bisa mengagumimu dalam senyap. Ini sangat menyakitkan karena aku selalu mengingat hal-hal kecil yang pernah kulakukan bersamamu. Dalam kesendirianku, rinduku padamu selalu datang tanpa mengenal waktu.

Aku bahkan lupa bagaimana caranya untuk menangis, karena aku sudah terlalu lelah untuk meneteskan air mata disetiap detik kerinduan itu muncul.

Aku berharap kamu tidak membenciku. Maafkan aku yang telah datang dan pergi tanpa mengutarakan kebenaran perasaanku.