Hai kamu…

Lelaki agamis yang ku kenal baik yang pada awal perkenalan kita sebagai teman saling membully dan melempar lelucon tak jelas. Ada sensasi berbeda ketika kita terus menghibur satu sama lain. Kamu mulai menggenapi apa yang tidak ada dihatiku dan aku nyaman. Tak perlu waktu lama untuk jatuh hati padamu. Kamu yang pertama membuat setiap ekspektasi tentang tipe pasanganku tak lagi berarti.

Yang penting aku bahagia.

Ada hal yang berbeda membuat percakapan kita tidak lagi sesederhana saling membully. Kita mulai saling menyemangati dan melempar perhatian. Tapi… ini mungkin salahku yang terlalu cepat jatuh hati. Kata orang, baper.

Ah… sungguh wanita mana yang tak akan melambung hatinya jika diberi perhatian, wanita mana yang tak bersemu wajahnya jika dipuji? Mungkin aku yang salah…

Advertisement

Waktu pun tidak begitu senang melihatku bahagia karenamu. Waktu mulai menjawab siapa dirimu. Ya.. Kamu… ternyata sudah siap mempunyai pendamping hidup. Lalu aku bisa apa? Rapalan do'aku berguguran mulai saat itu. Kenyamananku terusik, karena nyaman seperti apa yang aku jalani sedang setiap hari aku harus menutup luka?

Selalu begitu, ketika fajar mulai tenggelam dalam peraduannya justru pikiranku tentangmu beringsut naik untuk bisa kuingat. Semua sudah terlanjur. Seperti kopi yang terlanjur banyak gula misalnya. Aku pun terlanjur jatuh hati, aku terlambat untuk pergi.

Yang baik dalam dirimu boleh aku ambil? Selebihnya akan ku buang, termasuk kenangan. Maafkan atas ketidaktahuanku.

Maafkan keegoisanku yang ingin memilikimu walau ku tahu Tuhan menciptakanmu hanya satu tidak dua.

Lanjutkanlah harimu seperti dulu. Aku ingin sendiri karena hatiku butuh jeda untuk sembuh.