Untukmu yang dulu sangat sulit aku lupakan.

Akhirnya tiba saatnya dimana hati dan pikiranku sudah tidak berisi kisahmu lagi. Kenanganmu sudah tidak lagi menginspirasi tulisanku. Wangimu sudah tidak bisa lagi memindahkan duniaku. Cintamu sudah tak bisa lagi mengubah jalan hidupku. Ada sepenggal kisah yang ternyata mampu membuatku berhasil melupakanmu. Tentunya kisah dengan orang yang baru.

Walaupun bersama orang itu kisah tak seindah bersamamu, namun hatinya mampu membuatku lepas dari cerita yang pernah kita tulis bersama. Walaupun bersama orang itu kisah tak sepanjang yang aku harapkan, namun dirinya mampu menggantikan posisimu yang dulu selalu menjadi nomor satu di podium hatiku. Setidaknya kisahmu kini sudah tergantikan.

Entah mungkin karena pekerjaan yang membuatku tak sempat memikirkanmu atau dia yang selalu mengisi hariku yang perlahan kisahmu sudah menjadi asap yang mengepul lalu hilang pergi terbawa waktu, aku tak tahu. Jujur saja, pertama kali aku mengenal dia, aku melihat sosokmu yang pernah ada dalam dirinya. Sifatnya, wajahnya, harinya, dan pola pikirnya tentu tatapan matanya itu persis seperti apa yang pernah kulihat dalam dirimu.

Bersamanya aku mengerti kapan harus berhenti. Ketidaksanggupanku menunggunya membuatku melepasnya pergi. Sudah kubilang di paragraf awal, kisah dengannya tak sepanjang kisah yang kuharapkan.

Advertisement

Untukmu yang tanpa sadar kulupakan,

terima kasih karena membuatku sangat bahagia karena bisa melupakan sosok yang bertahun-tahun menjadi hantu dalam pikiranku. Mengerikan jika kenanganmu hadir dalam tawaku dulu. Namun kini, ketika namanu terlintas, entah ada sedikit usaha untuk mengingat kenangan bersamamu tetapi aku tidak mengingatnya. Bukan tidak mengingat, namun terlalu bingung untuk memilih kenangan yang mana.

Mungkin aku sudah sangat bosan menjadikanmu inspirasi dalam pikiranku. Mungkin saja aku sudah jenuh menjadikanmu bahan pertimbangan untuk memulai hubungan yang baru.

Untukmu yang tanpa sadar telah membuatku bahagia,

aku sadar, ini hanyalah masalah waktu yang perlu kujalani. Entah senyum sumringah seperti apa yang menghiasi wajahku saat ini karena aku merasa menang. Menang melawan diriku sendiri. Menang untuk menaklukkan hatiku untuk membuatnya mengalah dan berhenti mengingatmu. Bullshit? Ini bukan tulisan bullshit, namun ini tulisan tentang kepuasan seorang yang mampu mengalahkan hati dan pikirannya. Karena waktu sudah memberikan jatah untuk setiap kisah.

Karena waktu sudah memberikan ruang untuk kisah baru yang sudah mengantri panjang di depanmu.