Tiga bulan telah berlalu. Luka ini belum juga mau kering, masih mengangah merah. Semua berubah begitu saja. Tak ada lagi pelangi yang terbingkai indah dalam alunan kasih yang dahulu begitu melenakan. Aku yang mengenalmu dalam sebuah wawancara kerja. Kita bertemu saat itu, lebih tepatnya kamu mendapat tugas untuk mewawancaraiku dalam suasana yang sedemikian formal. Aku memang akhirnya tidak bekerja di tempat itu. Entah karena alasan apa kau kemudian meminta nomor teleponku. Sejak itu kedekatan kita terus berlanjut. Kebetulan yang dulu amat aku syukuri.

Aku memang sengaja membiarkan pintu hatiku terbuka selebar-lebarnya untuk kehadirannmu. Kau yang begitu taat dengan Tuhanmu, bahkan untuk bersentuhan tangan denganku untuk sekedar berjabat tangan pun kau tak mau. Sungguh, pesonamu saat itu telah membuatku luluh dan menjadi sedemikan percaya padamu. Namun ternyata kesimpulanku sedikit salah, aku yang mengira kau akan konsekuen dengan kata-kata manis yang kau ucapkan hanya bisa menelan getir pada akhirnya. Hatiku berderik patah. Luka lebar menganga seketika selepas itu. Aku akui, aku hancur saat itu.

Ekspektasiku terhadap dirimu terlalu tinggi. Nyatanya, kau tak sanggup mempertanggungjawabkan kata-katamu sendiri. Hatiku terluka, mati-matian aku berusaha menyembuhkannya. Komunikasi yang terjalin nyaris setiap hari tak membuat hatimu tergerak untuk mengirimkan satu pesan saja guna memberitahukan rencana pernikahanmu. Aku melihat foto undangan pernikahanmu dari instagram rekan kerjamu tepat lima hari sebelum hari pernikahanmu. Undangan cantik berwarna merah yang di dalamnya tertulis nama kalian berdua dengan pilihan huruf yang artistik.

Tak berartikah ratusan hari yang telah kita lewati bersama itu? Kenapa harus kau ucapkan kata-kata manis yang menunjukkan seolah-seolah kau telah memilihkan untuk menemanimu menghabiskan sisa hidup bila akhirnya hanya seperti ini. Terima kasih telah melambungkanku sedemikian tinggi. Terima kasih telah membuat orangtuaku sempat bahagia begitu mengetahui anak perempuannya tengah dekat dengan laki-laki yang sedemikian taat pada Tuhan. Tenang saja, hingga saat itu namamu tetap baik di mata orangtuaku. Aku tak keberatan mengarang sedikit cerita demi nama baikmu. Aku hanya tak ingin mereka sedih begitu mengetahui anak perempuan semata wayangnya disakiti. Disakiti oleh laki-laki yang dahulu ucapannya nyaris selalu santun dan berisi nasihat indah.

Tiga hari menjelang hari bahagiamu, kau mengajakku untuk bertemu. Kau berusaha membujukku agar mau datang ke pesta pernikahmu. Namun aku hanya wanita dengan hati biasa. Saat itu aku masih kalang kabut menyelamatkan hatiku mencoba menghentikan darah yang masih menetes deras dari lukaku. Toh, untuk apa juga kita bertemu? Apa kau hanya ingin melihatku bertepuk tangan untuk keberhasilanmu melukaiku?

Advertisement

Maaf, saat itu aku tak bisa bertemu denganmu. Keputusanku untuk menolak undangan pernikahan yang akan kau berikan padaku mungkin menyakitkan. Namun, aku jelas lebih terluka. Aku hanya tak mau menerima undangan pernikahanmu, tapi kemudian aku tak memiliki cukup kekuatan untuk menyaksikan kebahagian kalian bersanding di pelaminan. Bukankah akan lebih baik bila undangan pernikahan itu kau berikan pada orang lain yang pasti datang saja? Aku tak ingin undangan pernikahanmu menjadi sia-sia di tanganku. Aku harap kau bisa mengerti.

Kata maaf mungkin memang tak akan menyembuhkan luka sepenuhnya, tapi kata itu menunjukkan penyesalan dan niat baik untuk memperbaiki hubungan. Malangnya tak ada maaf yang terucap dari bibirmu. Entah, hingga saat ini aku belum bisa memahami jalan pikiranmu. Pada akhirnya akulah yang berbesar hati yang meminta maaf padamu. Mati-matian menekan egoku, meminta maaf untuk hal yang aku pun sendiri tak tahu. Aku hanya tak ingin ada bayang-bayangmu dalam kehidupanku nanti.

Pada akhirnya aku harus menyadari, tak ada manusia yang sempurna. Terima kasih untuk nasihat indah yang sedikit banyak telah membuat hidupku lebih baik. Tak ada yang salah dengan nasihat-nasihat itu. Selamat untuk pernikahanmu.

Semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi hidupmu.