Hujan seperti tertumpah dari langit. Suara petir terdengar berulang kali. Aku hanya berdiri tertegun di depan pintu. Seperti tak punya daya untuk membuka pintu. Sementara di belakang terpaan angin bercampur air hujan tak henti menerjang.

Apa yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini berputar cepat di kepalaku. Dari awal kita bertemu secara tak sengaja di sebuah kafe. Kau meminta nomor kontakku. Kebetulan aku dan kau dulu berasal dari sekolah yang sama, hingga saat itu aku dengan senang hati memberikan nomor kontakku padamu.

Sejak saat itu kau rajin berkirim pesan dan meneleponku setiap hari. Kau berusaha mendekatiku. Aku tak percaya begitu saja padamu. Ada banyak hal yang memang harus dipertimbangkan. Terlebih aku tak mau hatiku terluka lagi.

Kau tak menyerah. Hingga pada suatu hari aku luluh. Kita berdua terikat dalam sebuah komitmen. Kau menawarkan masa depan untukku dan meminta untuk bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku mengiyakan permintaanmu. Pertemuan itu terjadi. Orang tuaku merestui hubungan kita.

Aku pikir setelah itu kau tak akan pernah meninggalkanku. Nyatanya di suatu siang yang mendung, kau mengatakan bahwa orang tuamu menentang hubungan kita. Mereka memaksamu untuk melanjutkan study, demi kau semakin jauh dariku. Aku tertegun. Asaku porak poranda dalam sekejap.

Advertisement

Tak ada yang bisa ku lakukan. Aku takut berdosa bila karenaku kau harus menentang kedua orang tuamu. Kau bergeming. Aku memaksamu untuk membuat keputusanmu, mengabaikan hatiku sendiri yang berlahan berderik patah. Firasatku tak baik saat itu.

Dengan menghela nafas dalam-dalam, kau menggenggam tanganku. Meminta maaf sembari matamu berkaca-kaca. Benar, seperti dugaan dan harapanku kau memilih mundur dari hubungan ini. Kau memilih mundur dari tanggal pernikahan yang pernah kau ucapkan di depan kedua orang tuaku.

Terima kasih untuk cinta yang singkat. Terima kasih telah mengajarkanku untuk menempatkan kebahagian orang tua di atas segalanya. Ku akui, hatiku memang terluka parah, namun hubunganmu dengan kedua orang tuamu jauh lebih penting. Seiring waktu, lukaku akan membaik dengan sendirinya. Tapi ketika kau sampai menentang kedua orang tua, hal itu akan kau pertanggungjawabkan hingga nanti.

Selamat tinggal, semoga kau selalu bahagia dalam rengkuhan kasih sayang tulus kedua orang tuamu. Jangan khawatirkan aku! Aku masih bisa membuka pintu kebahagianku meski tanpamu lagi.