Terima kasih untukmu yang telah mencintaiku apa adanya dalam kecuekanmu.

Awal kau berkata jika sangat menyayangiku, kita rangkai mimpi-mimpi indah bersama, inginkan menuju pelaminan bersama. Setiap sepertiga malam aku berdoa agar dapat disandingkan denganmu. Rasa nyaman yang begitu luar biasa, membuatku yakin akan ajakanmu.

Kau, bukan orang yang mempunyai akhlak sempurna, begitupun aku. Namun aku berusaha segenap hati, sekuat tenaga untuk memperbaiki akhlak. Tapi bagaimana denganmu? Aku melihat usaha itu, segenap usahamu untuk belajar apa yang diinginkan ayahku sebelum melepas putrinya kelak.

Hanya satu yang aku sayangkan, ketika kau berkata kasar kepadaku. Aku berbalik dan menangis, lalu aku kembali dan berkata “jangan ucapkan kata-kata itu lagi kepadaku. Kasar sekali! Aku tak ingin mendengarnya lagi", kau hanya tertawa sambil berkata “Yang penting aku tidak menyakiti dengan tanganku. Aku tidak main tangan”

Maaf, aku ini seorang perempuan yang lemah hatinya. Sangat peka terhadap perasaan kasar, menyayat hati jika mendengarnya. Apakah kau tau akan hal ini?

Advertisement

Sudah dua minggu kau tak bertukar kabar.

Ada apa gerangan?

Masih ingatkan mimpi-mimpi yang kita rangkai bersama ?

Saat kau mendekatiku, aku sangat paham bila kau terlalu cuek dengan kehidupanmu. Apapun kau anggap let it flow, apakah aku bisa bersanding denganmu? aku pikir aku bisa dengan menahan segala keinginanku agar tetap bersamamu.

Di sisi lain aku mencari kebenaran, apakah dia tidak secuek yang aku pikirkan, hanya saja aku yang terlalu posesif. Segala perasaan bersalah menyelimutiku, hingga aku tak berani untuk memulai bertanya kabar kepadamu.

Untukmu yang terlalu cuek dalam mencintai seorang wanita