Dalam gelap hening malam yang kelabu. Aku, bagai gadis malang duduk sendiri termangu menahan rindu. Tentang cinta yang dulu selalu meretas pilu. Kamu, lamunan yang tak dapat buyar meski aku tak sedang melamunkanmu

Sementara kamu berdiri di sana menjejalkan banyak keresahan. Peluk ini terbuka namun beku dalam udara. Kamu tak lagi bisa kuhampiri seperti sebelum-sebelumnya. Rasa perih memenuhi dada, saat kamu tersenyum tapi bukan lagi untukku

Ada luka menganga di dalam hati paling kelam. Entah cinta atau hanya terbiasa. Yang pasti pergimu cukup jadi hal paling menyakiti. Kita yang dulu selalu duduk bersama. Kenapa untuk hari ini, meski hanya sekedar bertanya kabar? Bibir terasa tak dapat bicara, bagai balita yang baru mengenal kata.

Aku mengagumimu dalam kebodohan. Bagai pantai merindukan ombak saat surut melanda lautan. Ada bisik yang begitu membuatku ingin kembali menyentuhmu. Kamu di hadapanku tapi kaki tak bisa berlari merengkuhmu. Lelah aku dengan bayangmu, meski berkali-kali ku tunggu kamu pulang

Nyatanya aku hanya pantai yang sesekali disentuh pesonamu. Kita masih punya jumpa, tapi bukan lagi untuk bersatu dalam rasa. Namun meski begitu, berkali-kali kutanya hati. Jawabnya tetap sama, . Kamu masih jadi puisi yang tak sanggup kuselesaikan. Dan alasan teratas dalam setiap kegelisahan

Advertisement

Meski begitu kuharap Tuhan tak akan bosan. Karena selalu dengan redup kusapa namamu dalam doa. Sungguh, dengan ringkih aku tahu. Dada ini selalu menyimpan rinduku, untukmu.