Sahabat terbaik yang kau miliki bukanlah ia yang selalu ada di sisi, tapi ia yang selalu mendukungmu meski tak selalu di sisi.

Mentari mulai terbenam di ufuk barat. Hari pun beranjak senja. Tapi aku masih ingat, tiap detik, menit, jam yang telah terlewat. Bukan untuk hari itu, tapi beberapa tahun terakhir yang telah terlewat. Di pantai ini aku mengukir sejuta rindu akan hadirmu yang selama ini selalu menemaniku. Walau apa pun yang terjadi, kebersamaan denganmu tak akan pernah terganti.

Mungkin saat ini jarak telah memisahkan kebersamaan kita. Dulu, di mana pun engkau ada, di situlah aku ada. Kini kita terbelenggu dalam kesibukan masing-masing. Kau dengan segala aktivitasmu, dan aku dengan segala aktivitasku. Tiada lagi kebersamaan yang tercipta saat kau dan aku masih di satu kota yang sama. Di situlah kita sering menghabiskan waktu. Bercengkrama dengan obrolan dan guyonan khas, sampai kadang tak sadar banyak waktu yang telah tersita.

Lihatlah! Setiap jejak langkah kaki yang membekas di pinggiran pantai ini membawaku pada satu memori di mana dulu aku dan kau memulai kisah kita dari sini. Entah kenapa kau dan aku jadi akrab, padahal sebelumnya tak pernah terpikir olehku untuk mengenalmu lebih dekat. Berbeda budaya, kebiasaan, saling bertolak belakang, tapi justru itulah yang pada akhirnya mempersatukan kita. Kau tak pernah lelah menemaniku ke mana-mana. Dalam berbagai kesempatan, kita saling dukung satu dan lainnya. Sering kita ke tempat-tempat hiburan, mulai dari pasar tradisional sampai mall pun kita jelajahi bersama. Terkadang kita sekadar duduk di kos menghabiskan waktu sembari menunggu jadwal kuliah berikutnya tiba.

Arus waktu pun terus berjalan. Tanpa terasa pendidikan yang kita tempuh pun telah sampai pada ujungnya. Sebuah prosesi wisuda menjadi bukti perjuangan kita selama ini. Namun apakah semua akan berhenti di sini? Jawabnya tentu tidak. Perjuangan ke depan masih sangat panjang usai upacara kelulusan kita ini.

Advertisement

Aku ingat, bagaimana kau sangat ingin tetap bertahan di kota ini. Kau sudah merasa sangat nyaman sejak pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru beberapa tahun yang lalu. Tapi apalah daya, pada akhirnya kau kembali juga ke kota kelahiranmu dan mengabdikan ilmu yang kau punyai di sana.

Deburan ombak menyadarkan lamunanku. Selepas kau pergi, tentu aku merasa sepi. Kau adalah tempatku berbagi, mencurahkan segala keluh kesah di kala suka maupun duka. Meskipun begitu, aku selalu mendukungmu. Sejauh apa pun jarak yang membentang, tapi persahabatan kita tak akan hilang hanya karena jarak. Kau dan aku tak akan terpisahkan, meski kebersamaaan tak akan seperti dulu lagi.

Kesibukan yang saat ini kita jalani, bahkan terkadang hanya sekadar berkomunikasi pun jarang terjadi, tapi aku di sini tak akan pernah melupakanmu. Kau, tetaplah sahabat terbaik yang kumiliki, dan tak akan pernah terganti meski ribuan orang silih berganti kutemui.