Aku percaya bahwa hidup ini tak selalu berjalan sesuai rencanaku ataupun harapanku. Semuanya telah terlukis sesuai skenario Sang Pemilik Waktu. Namun aku percaya bahwa usaha dan doa tak akan pernah berbohong di akhir hari. Sesuai janji-Nya bahwa selalu ada jalan untuk orang yang berusaha.

Hal tersebutlah yang aku sadari ketika aku mulai mengais-ais memori lama di pikiranku. Suara rintikan hujan semakin membawaku lebih dalam dalam ingatanku di waktu lalu. Akhirnya aku berhenti pada satu ingatan. Ingatan tentang kamu. Dan rasanya aku ingin menyapamu.

Hai kamu, Apa kabar? Masihkan kamu di sana? Iya, tempat yang sama. Di tempat yang dingin dengan cahaya temaram beraroma lembab. Tempat yang selalu membuatku merinding. Masihkah kau mengawasiku? Mencari suara-suara yang bercerita tentangku. Ataukah kamu ingin melihatku secara langsung?

Kemarilah dan lihatlah aku. Jangan ragu-ragu, tapi tolong jangan terkejut ya. Aku harap kamu masih mengenal pribadi ini. Aku masihlah sama. Ya, kamu lihat bukankah aku masih sama? Inilah seorang pribadi yang kau lihat di waktu lalu. Seorang yang penuh rasa penasaran. Seorang yang penuh semangat akan hal baru. Coba perhatikan langkahnya. Langkahnya masih juga diselipi dengan lari-lari kecil ketika menuju sesuatu.

Mendekatlah! Perhatikan gerak tangannya. Tangan yang mengepal mantab. Ah, kamu masih saja kurang jeli. Apa kamu tak tertarik dengan tarian jemari-jemarinya yang terus ingin berkarya. Berkarya di manapun jemari itu diletakkan. Sekarang kamu mulai sedikit mengerutkan dahimu. Bukankah sudah ku bilang di awal padamu, jangan terkejut.

Oh, sekarang kamu mencoba meneliti senyumnya ya. Tak apa. Pandanglah senyum itu. Bukankan itu senyum yang cukup menenangkan? Apakah kamu setuju? Hmm, lagi-lagi kamu kembali mengerutkan dahi. Kali ini lebih banyak kerutannya dibanding sebelumnya. Jangan heran. Itulah senyum yang dipunyai.

Advertisement

Apa? Kamu masih tak percaya? Dan kamu mencoba untuk melihat ke matanya. Layaknya aku yang percaya bahwa mata itu selalu jujur, begitupun dengan kamu. Itulah kenapa kamu ingin memastikan hal-hal sebelumnya lewat sorotan matanya. Bagaimana? Kamu menemukan sesuatu di sana? Itulah tatapan penuh kasih yang berselimut semangat untuk tak mudah menyerah. Kamu juga menemukan tawa dan senyum di sana bukan?

Kamu masih saja tak percaya dengan apa yang sudah kamu lihat dan temukan. Itulah fakta yang harus kamu terima. Baiklah, akan aku perlihatkan hal terakhir yang dapat meyakinkanmu. Lihatlah ke hatinya. Telitilah setiap detailnya. Setiap detak dan semburatnya. Semburat keemasan dan kuning. Yups, sebagaimana semburat fajar dan senja. Semburat fajar dengan aura yang selalu memancar semangat untuk memulai. Dan senja yang memiliki wadah untuk merenung di ujung hari.

Aku minta maaf. Sepertinya kamu benar-benar terkejut. Tapi kupastikan ini masihlah orang yang sama seperti waktu lalu. Maaf karna mengecewakanmu dan tak menemukan sosok yang seperti dalam ingatanmu. Seseorang yang dengan wajah murung tertunduk. Hati penuh amarah yang terpendam. Pikiran yang masih tak paham apa yang harus dilakukan dan yang akan di perbuat. Pribadi yang mudah patah semangat untuk berjuang.