“26 April 2016”

Hari ini hari istimewamu, kamu lelaki yang dulu menjadi satu-satunya tujuan hidupku. Ah… Harusnya malam ini aku bersiap-siap memberikan surprise seperti tiga, dua, dan satu tahun yang lalu. Bukankah bila diingat, sudah tiga kali kita meniup lilin berdua di tanggal ini setiap tahunnya.

Maaf untuk tahun ini tak ada kue special untukmu, bukannya aku tak mau, hanya saja aku tak punya lagi hak untuk itu. Oiya (jika kau membacanya) anggap saja tulisan ini kado untuk ulang tahunmu kali ini. Lagi pula untuk saat ini sekedar memberikan ucapan langsung padamu sangat sulit (semua akun medsosku sudah kau blokir).

Hmmmm…. Meski begitu tidak mengapa, do’a dalam sunyi yang setiap malam kupanjatkan untukmu sudah lebih dari cukup sebagai perantara. Tahukah kamu, saat kurangkai kalimat-kalimat ini, tanganku gemetaran, jantungkku berdegup kencang, entahlah… Mungkin karena lukaku memang belum sembuh benar.

Harusnya tujuh bulan setelah keputusanmu untuk pergi dari sisiku sudah cukup untukku mengikhlaskanmu,

Advertisement

tapi nyatanya untuk sekedar merangakai kalimat ini pun dadaku masih terasa sesak.

Bagaimana kau rayakan ulang tahunmu kali ini? Oiya tanpa sengaja kudengar dari teman-teman kita, tanggal 15 April kemarin kekasih barumu memberikan do’a berupa bait-bait indah dalam akun sosomedmu. Apa kau belum memberi tahunya bahwa ulang tahunmu sebenarnya hari ini, memang sih pada semua kartu identitasmu tertulis 15 April, tapi, bukankah itu salah.

Hmmmm…mungkin saja kau lupa memberi tahunya, kamu kan memang sering lupa. Lagipula tak penting lagi mana yang benar dan mana yang salah, kenyataanya kau lebih memilihnya dari pada aku.

Jika aku ingatkan kenangan kita tiga tahun terakhir ini akankah kau marah padaku? Belum tentu juga kau membaca tulisan ini atau jika mungkin tanpa sengaja kau membacanya tak akan berpengaruh apapun dalam kehidupanmu sekarang.

Dulu kisah kita berawal dari sebuah persahabatan, di tanah perantauan aku yang jauh dari orang tua kau berikan perhatian. Kebetulan kau juga payah dalam beberapa mata kuliah dan aku sering membantumu waktu itu, jika diingat–ingat dari situ kita mulai dekat.

Takdir seperti apa yang Tuhan tuliskan kepada kita. Awalnya kita saling membutuhkan, tanpa kita sadari tumbuh tunas baru dalam diri kita berupa sayang. (Untuk Apa by Maudy ayunda).

Semua yang kau miliki adalah miliku begitu pula sebaliknya hanya satu yang tidak, yakni orang tuamu.

Tanpa terasa tiga tahun kau dan aku bersama bahkan mungkin lebih. Meski dalam masa tiga tahun itu tak pernah sekalipun kau memperkenalkanku dengan orang tuamu, padahal sudah berkali – kali kau bertemu dengan orang tuaku. Di sinilah akar masalahnya, entah apa yang membuat orang tuamu tidak menyukaiku, padahal aku sekalipun belum pernah bertemu beliau. Usut punya usut ternyata orang tuamu bermasalah dengan kota kelahiranku. Entah orang tuamu yang terlalu kolot ataukah memang takdir yang harus kita jalani seperti ini.

Aku memilih diam, sebab aku tahu jika kau benar – benar serius kepadaku kau akan mempertahankanku. Salahku juga yang terlalu yakin padamu, setelah sekian banyak waktu yang kita lewati bersama. Dan hal yang paling tak bisa ku lupa, saat aku menemanimu berkelilinng kota mencari sebuah lowongan kerja yang akhirnya kau dapatkan pekerjaanmu yang sekarang.

Masih aku ingat wajah gembiramu saat kau bercerita kepadaku bahwa kau telah diterima kerja di tempat yang kau suka itu.

Waktu berlalu, sedikit berbeda ketika masih kuliah, yang mana kita bertemu setiap hari, setelah kita sama – sama bekerja waktu yang kita miliki berdua semakin terbatas. Dan aku juga tidak begitu mengenal dengan rekan – rekan kerjamu, padahal dulu waktu masih kuliah temanmu adalah temanku.

Sebenarnya aku sungguh khawatir sebab rekan kerjamu pria dan wanita, apalagi di tempat kerjamu wanitanya cantik – cantik. Namun meski begitu aku sangat percaya padamu, aku selalu berfikir positif dan yakin kau adalah orang yang profesional.

Seiring berjalannya waktu, tanpa ku sadari sedikitpun ternyata kau mendua. Apa yang aku takutkan selama ini terjadi, kau mendua dengan rekan kerjamu. Entah kau aktor yang sangat handal ataukah aku wanita yang terlalu bodoh, selama satu bulan kau mendua dan aku tak mencurigaimu.

Masih sangat ku ingat September 2015 kau menghilang, semua kontak yang berhubungan denganku kau putuskan. Hanya satu kalimat yang saat itu baru sebentar aku baca “aku tak bisa lagi melanjutkan semuanya denganmu, aku lebih memilih orang tuaku”(itu katamu), lalu kalimat itu hilang dari layar ponselku (soalnya langsung kamu didelcon).

Apapun alasanmu entah karena orang tuamu tak merestui kita atau apalah, harusnya kau tak seperti itu. Kau memilih langsung pergi tanpa perkataan apapun. Masih di bulan yang sama ku ketahui kau memperkenalkan kekasih barumu kepada orang tuamu.

Wanita yang baru kau kenal beberapa bulan, sedangkan aku bukankah aku sudah mengenalmu, menemanimu, membantumu dalam waktu yang sangat lama.

Heeiii….apa yang telah wanita itu berikan padamu?Masih kurangkah semua yang aku beri selama ini? Sehingga kau memilihnya daripada aku.Aaahhh sudahlah…. Otak saya lelah memikirkan semua itu tanpa tahu jawabannya. Bait – bait cerita kita berujung luka karena dustamu, segala yang telah kita lewati seakan tak ada arti bagimu. Jalan yang pernah kita lewati berdua akhirnya tiba pada persimpangan, dan kau memilih pergi dengan mengenggam tangan lain.

"Kini ku tahu bila cinta tak bertumpu pada status
Semua orang tahu bila kita sepasang kekasih
Namun status tak menjamin cinta" by Untuk Apa_Maudy Ayunda

Di moment ulang tahunmu yang ke 27 tahun ini dan di kehidupanmu yang baru tanpa aku, ku ucapkan semoga kau bahagia dengan pilihanmu. Kekasih barumu yang ternyata memang lebih cantik dari pada aku (eeiittss…. Aku gak stalking facebookmu kok, itu aku tau dari teman-teman kuliah kita, kamu kan upload foto berdua mesra di sosmedmu). Dan aku dengar hubungan kalian telah mendapat restu dari ortumu, selamat ya…kamu udah gak perlu pusing lagi mikirin masalah restu orang tuamu, mereka sudah setuju kamu dengannya. Sekali lagi BAHAGIALAH, DEWASALAH, TEGASLAH, jaga kesehatan, kerjanya harus semangat, ibadah kalau bisa jangan bolong-bolong.

Dari aku, wanita yang dulu pernah kau janjikan kebahagian denganmu.