Lumayan menyenangkan melihat artikel saya yang kemarin (berjudul : Move On Yuk!) mendapatkan jumlah share yang cukup banyak. Bila kamu menjadi salah satu orang yang turut men-share artikel tersebut, saya ucapkan terimakasih. Artikel tersebut saya tulis dengan cara mengalir begitu saja, tanpa ada konsep dan ekspektasi tertentu. Yang terpikirkan hanyalah membuat artikel yang anti mainstream (di Hipwee).

Mungkin kalau nanti artikel yang bermunculan mulai agak anti mainstream, saya akan membuat artikel yang kebalikannya, artikel cinta galau nan alay atau artikel menyek-menyek (cengeng). Yah, semuanya kembali ke selera masing-masing. Saya nggak bilang dua jenis artikel mainstream itu jelek. Pasti butuh kemampuan khusus untuk menulis yang seperti itu, dan kemampuan itu tidak saya miliki.

Well, hari ini sepertinya ada sedikit berita pengalihan isu. Berita yang cukup nggak penting, mengenai peraturan yang melarang untuk menghina Presiden.

Selagi Dollar Amerika masih di tigabelasribuan dan ogah turun, bagai kuntilanak yang betah nangkring di pohon beringin….berita online dan TV diselipkan berita mengenai rancangan aturan ini. Presiden Jokowi pun sempat mengeluarkan pernyataan bahwa peraturan ini demi kebaikan rakyat, agar tidak terjadi pasal karet (menjerat semaunya).

Memang sih, sejak Pilkada DKI sampai Pilpres sahut-sahutan antara pendukung Pro Jokowi (biasa disebut Panastak di sebuah forum online) dan anti Jokowi (biasa disebut Panasbung) masih menghangat. Entah sudah jadi profesi alias dibayar seperti buzzer twitter yang rajin ngiklanin grup abege macam CJR dan JKT48, atau memang pengangguran nggak ada kerjaan.

Advertisement

Bila memang profesinya adalah menghina dan mendukung Jokowi, benar-benar cara hidup yang unik. Mungkin mereka sudah lupa mengenai apa yang disebut cita-cita. Hidupnya hanya mengharap uang pulsa untuk menjadi pasukan dunia maya. Padahal menghina atau memuja Jokowi tidak akan memberi kontribusi apa-apa pada kemajuan kehidupan secara pribadi maupun kemajuan negara.

Apa kalau sudah menghina atau memuja Jokowi terus bisa lulus kuliah cepat gitu? Atau kalau bikin meme Jokowi jabatan di kantor langsung laku ? Atau mungkin kalau aktif di grup pemuja Jokowi dagangan cepat laku? Sungguh luar biasa (katro!).

Sebaiknya waktu yang terbatas digunakan untuk kontribusi nyata di bidang pekerjaan masing-masing. Atau setidaknya jadilah orang yang berguna bagi keluarga. Jangan jadi jagoan perang online, tapi lebih baik jadi jagoan yang mau berkorban untuk kepentingan orang lain. Bisa dengan mengajar anak jalanan, mengunjungi lansia, mengajarkan keterampilan pada yang membutuhkan dan lain-lain.

Dari sisi spiritualitas pun saya rasa kita tidak dianjurkan untuk menghina orang lain (entah itu Jokowi atau bukan) serta tidak melakukan pemujaan yang berlebihan. Membuat berita negatif yang kebenarannya nggak jelas sama dengan fitnah. Begitu juga membuat berita pencitraan juga sama saja dengan berdusta.

Menurut saya biarkan saja Jokowi bekerja sesuai programnya. Tidak perlu dihina-hina. Tidak perlu juga terus menerus disanjung. Kita kerjakan yang memang jadi bagian kehidupan kita. Kalau kinerja Jokowi menghasilkan sesuatu yang baik ya diapresiasi. Tetapi kalau masih ada yang belum bagus ya beri saja masukan (bukan hinaan).

Kalau masukan saya buat Jokowi sendiri ya jangan pusingkan soal hinaan, sampai-sampai bikin peraturan segala (sebenarnya peraturan itu sudah ada lo…dari dulu). Pak Jokowi malah jadi keliatan kurang kerjaan. Sebaiknya berikan pernyataan yang terkait dengan masalah bangsa, bukan personal. Misalnya masalah Dollar Amerika gimana tuh? Kemudian belum lagi sistem ospek dan mos primitif yang masih membudaya (ini masalah lo…masak budaya primitif dibiarkan sih Pak?)

Sejak Pak Harto lengser memang hinaan, candaan terhadap figur Presiden meningkat drastis. Hampir semua presiden setelah Pak Harto mengalaminya.

Yang paling jelas adalah SBY dan Jokowi. Antara yang menghina memang kurang kerjaan atau karena kinerja Presiden dinilai belum maksimal. Kalau belum maksimal pun nggak ada gunanya menghina Presiden. Buang-buang waktu dan tenaga (kecuali Anda buzzer yang sudah menjual jiwa Anda pada uang hanya untuk menghabiskan sisa hidup Anda memuja dan menghina pihak tertentu).

Akhir kata, saya hanya mencoba memberi pandangan pribadi. Banyak hal yang lebih berguna daripada mendengki atau memuja-muja Jokowi. Mungkin sebagai jalan pertobatan, pihak pro dan anti Jokowi bisa mulai menyalurkan energinya menulis artikel cinta nan alay atau artikel menyek-menyek.

Siapa tau nemu jodoh dari pembaca artikel . Dia akan lebih terpesona dengan kata-kata cinta daripada membaca tulisan kedengkian terhadap Jokowi atau tulisan penyembahan pada figur Jokowi. Judulnya bisa seperti tren yang berlaku (judul panjang) : Kepadamu Pendukung Jokowi dari Aku Anti Jokowi yang Diam-diam Mencintaimu.