Andai sang purnama bisa menjawab gundah gulita yang kesepian. Dibalik remang bayangan sang jingga berselimut kabut. Duduk termenung di tepi pantai yang menyimpan keindahan pesona deburan ombak. Jalan menuju keagungan sang Maha Kuasa terbentang layaknya samudra luas. Memanggilnya dengan penuh mesra dalam genggaman kesunyian. Sehelai kapas terbawa oleh semilir angin. Jatuh diantara karang yang kokoh terhalang oleh gelombang air pantai. Melebur menjadi satu dengan dinginnya malam. Sunyi terasa di sekeliling hamparan pasir putih yang menyiratkan sebuah kehampaan. Berbagi keluh kesah dengan kilau yang menentramkan jiwa.

“Hai?”, sapaku pada bulan di ujung sana.

Senyum sumringah ku berikan seperti setulus kasih sang bunda. Rona merekah semakin terlihat ketika kilaunya semakin menyorot semesta. Keajaiban yang tak akan pernah terganti oleh kata. Sesi dialog ku dimulai dengan menghembuskan nafas panjang di sepertiga ketukan bunyi jari yang beradu. Ia hanya bisa diam membisu di ujung sana. Menatapku dengan seksama tanpa terlewat sedikitpun. Beradu dalam kilauan yang menyejukkan sukma.

“Oh, sang purnama temani aku dalam kegelapan yang mendekap raga”, ujarku dengan menutup mata.

Pancaran sinarnya semakin menghangatkan jiwa. Tertanam jauh dalam citra khatulistiwa yang membara. Fenomena dalam kesepian yang membuahkan rasa takjub luar biasa. Sendiri, hanya berteman elemen semesta yang mengelilingiku. It’s wonderful!.

Advertisement

Sejenak jiwa ini melambung mencari ketenangan abadi. Jejak yang selama ini ku cari ada di depan mata. Bersama kilau sang penerang malam menenangkan gundah gulana yang mencekam. Ketenteraman yang selalu dirindu oleh sukma. Tetaplah disini sampai surya menjemputku nanti. Engkaulah purnama yang menggenggamku dalam malam yang panjang. Keheningan yang menjadi sebuah kedamaian sepanjang masa. Malam yang menjadi saksi bertemunya insan yang merindu kilau bulan yang menghangatkan raga.