Cepat sekali terjadinya. Suatu hari kita sedang berkencan dan tertawa bersama, tapi suatu saat kemudian kita menangis dan berdiam di tempat satu sama lain. Sampai hari ini pun aku masih belum bisa menjelaskan bagaimana kita bisa sampai ke titik itu. Mungkin karena kita tidak berkomunikasi dengan baik, atau karena ambisi kita yang berbeda, dan hal terbesar karena hal-hal tentang kita yang tidak bisa ditoleransi lagi antar satu sama lain.

Dan tentunya aku sedih, marah, kacau apapun itu namanya, patah hati. Untuk waktu yang cukup lama aku terus menangis, memutar ulang memori lama, berangan-angan seandainya ada kesempatan kedua, dan bahkan menyalahkan diriku sendiri atas terjadinya semua ini.

Tapi hebat, yang namanya waktu sungguh bisa merubah segala hal. Tanpa kusangka, suatu hari aku terbangun dan aku tidak merasa sedih dan sakit hati lagi. Hari ini aku bangun dengan perasaan damai. Setelah 3 tahun kebersamaan kita sudah berakhir, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak apa-apa.

Aku sadar, penerimaan tidak datang dalam sehari semalam.

Aku pasti bisa menerima kenyataan ini – dan penerimaan ini tidak terjadi dalam beberapa minggu atau bulan. Tapi dengan berjalannya waktu, pasti terjadi. Setelah putus dengan orang yang kamu sayangi, memang normal untuk tetap rindu dan menginginkan dia untuk kembali. Tapi ada alasan kenapa semua ini terjadi.

Manusia bertumbuh dan berubah, keadaan juga berubah-ubah, dan terkadang kita hanya bisa menerima perubahan-perubahan itu. Suatu hari nanti, kamu juga akan bangun dengan perasaan damai itu, karena akhirnya hatimu akan sanggup menerima segalanya dan akhirnya bisa melepaskan hal-hal yang harus kamu lepaskan itu.

Setelah kehilangan segalanya, aku sadar aku bisa melakukan apa saja.

Advertisement

Untuk sesaat aku merasa bahwa hidupku telah gagal, karena aku telah kehilangan orang dan masa depan yang aku anggap adalah segalanya. Bagaimana tidak, sudah tiga tahun kami bersama. Banyak angan dan mimpi yang ingin kami ukir. Tapi akhirnya, aku sadar bahwa kepahitan yang telah terjadi ini bukanlah segalanya dalam hidupku. Ini adalah sebagian kecil dari hidupku, hidupku terdiri dari banyak hal lain selain itu.

Dan sejenak aku menarik nafas ini bukan pertama kali kata berpisah kami ucapkan, namun tentu saja ini menjadi pertama kali aku melepaskan dan kehilangan dia tanpa berharap kau datang kembali. Aku malah sadar, aku tidak perlu takut kehilangan segalanya, karena itu sudah pernah terjadi dan aku tidak apa-apa. Aku malah jadi lebih berani untuk melakukan hal-hal baru atau mengejar hal-hal yang di luar jangkauanku.

Patah hati terbesarmu akan jadi terobosan terbesarmu juga.

Kabar baik buatmu yang sedang berada di bawah, tidak ada jalan lain berikutnya selain ke atas. Setelah jatuh dan hancur berkeping-keping, aku mendapat kesempatan baru untuk membangun kembali hidupku. Aku punya kesempatan untuk jadi diriku sendiri, melakukan apapun yang aku mau, dan mengejar semua mimpiku. Aku juga sadar walau ada seseorang yang tidak lagi mencintaiku dan meninggalkanku, masih banyak orang lain yang sungguh menyayangiku dalam keadaan apapun, dan selalu mendukungku untuk jadi yang terbaik.

Ada perbedaan antara cinta dengan seseorang dan mencintai seseorang.

Aku sadar, mungkin aku tidak akan pernah membenci dia yang telah meninggalkanku. Sudah sekian lama aku menyayanginya, dan sekarang pun aku masih boleh menyayanginya-walaupun aku tidak memilikinya. Perasaan cinta bukanlah hal yang bisa hilang begitu saja. Aku memang tidak sedang mencintainya saat ini, tapi aku tetap memiliki rasa itu untuknya-aku tetap ingin yang terbaik untuknya, ada atau tidak ada aku sekalipun.

Tuan, yang sempat hadir didalam hari hariku. Tuan yang pernah kurasakan keindahan saat kau cintai, teruslah berjuang doaku akan selalu kupanjatkan kepadamu dan kenanglah ini jadi bagian termanis yang bisa kau ceritakan kepada generasi patah hati sama seperti kita.

Dan ketika hal ini terjadi, inilah saat di mana akhirnya aku bisa melihat keindahan dalam perpisahan itu. Aku terima, dan aku tidak apa-apa.