Hai waktu, yang detiknya selalu cepat berganti. Bahkan terkadang hanya dalam kedipan mata. Kemudian akumulasinya menjadi menit yang cukup untukku berjalan, kearahmu. Lalu terakumulasi lagi menjadi jam, dimana Aku bisa menatap siluetmu tengah hari.

Waktu, apa kabar masa lalu ? Yang telah menghampiri, kemudian membungakan hati lalu pergi dan memberi pelajaran diri. Masih ada bekas – bekas jejak kaki dan peristiwa yang terkadang membuat degup hati menjadi lebih kencang dari biasanya. Tetapi pada waktu yang lain, mampu ku benci dengan sebenci – bencinya, seperti sampah yang baunya busuk dan malas sekali untukku sentuh.

Tertawalah dengan masa lalu mu, karena kadang banyak sesuatu yang terjadi tanpa kita sadari. Itulah mengapa bersahabat dengan masa lalu masih sangat menyenangkan. Meski ada jarum – jarum tersembunyi yang siap menggores kapanpun ia mau.

Lalu bagaimana dengan masa depan ? Yang jarak dan jejaknya masih sangat hitam untuk sekedar ku raba. Apalagi ku sentuh, tak bisa. Hanya bisa ku semogakan melalui doa dan ku usahakan dengan kerja keras.

Tersenyumlah. Masa depan tak semenakutkan film setan di masa kecil kita. Cukup selipkan namaku dalam bait – bait doa sepertiga malammu. Usahakan dengan menjaga diriku semampu mu. Tuhan pasti punya tangan – tangan yang akan membahagiakan kita. Entah dengan senyuman atau malah tangis. Lebih baik pasrahkan saja, karena sebagai hamba kita tak patut memaksa.

Advertisement

Jadi, sekarang Kita ada dimana ? Ya, di masa sekarang. Dimana detik, menit, dan jam selalu berganti tak kenal henti. Menjadi jembatan masa lalu dan masa depan. Penyambung antara semu dan nyata. Dan masa sekarang adalah kombinasi keduanya.

Dengan segenap kehilangan dan pertemuan, waktu akan terus berjalan. Nyata dan semu akan bergilir bergantian. Bahkan kesenangan dan kesedihan. Bukankah tidak ada yang abadi ?Ya benar, karena semua sedang berputar pada porosnya, Tuhan.