Hai, kamu yang meminta aku untuk menjauhimu. Meskipun sempat mendatangkan luka kala kau untuk jauh dariku, tapi ternyata kepergianmu tidak menyebabkan air mataku jatuh. Mungkin awalnya memang terasa menyakitkan. Mungkin ada sedikit rasa kehilangan. Mungkin kala itu aku sudah terlihat rapuh selepas kau menjauh dariku. Tetapi ternyata waktu berbicara lain hal. Aku tidak harus untuk menangisi atas kau menghindar dariku. Aku bahkan tak perlu menyesali ketika menghindar dariku, karena aku tahu Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah.

Tidak terasa waktu memang mengajarkanku banyak hal. Selepas kau menjauh dariku aku memang belajar banyak hal. Mulai dari aku belajar tentang sebuah ikhlas. Ikhlas ketika harus kehilanganmu, ikhlas ketika akhirnya kau menjauhiku memang meninggalkan beberapa bekas luka yang mendalam. Luka yang aku bicarakan disini bukanlah luka ketika kau menjauhiku. Hanya saja ini bicara tentang luka yang lain. Dan aku sudah mulai belajar memafkan. Ternyata memang tidak ada hal yang lebih baik selain memaafkan tanpa harus membalas kejahatan seseorang. Pada akhirnya aku belajar mengikhlaskan dan memaafkanmu. Hanya saja aku tidak belajar untuk melupakan.

Jika kamu temukan aku masih sendiri semenjak kepergianmu itu bukan masalah aku belum bisa melupakanmu. Bukan masalah aku tidak bisa menggantikan sosokmu dengan orang lain. Bukan juga masalah hati ini masih terpaut denganmu. Hanya saja aku butuh waktu untuk sendiri. Aku butuh waktu untuk mengembalikan sisa-sisa kepingan hati yang kau diamkan begitu saja. Aku butuh waktu untuk menerima kenyataan ternyata tak selamanya yang terlihat indah akan berakhir dengan indah pula. Aku hanya butuh waktu untuk menyiapkan hatiku dengan hal-hal yang menyakitkan nantinya akan menerpaku. Memang untuk jatuh cinta kembali itu, aku harus menyiapkan hatiku sekokoh ketika sebelum akhirnya kau hempaskan seperti ini. Tapi layaknya sesuatu hal yang sudah hancur, susah untuk kembali.