Untukku, kebersamaan kita lebih dari cukup. Cukup untuk membuatku jatuh cinta setiap hari padamu, cukup untuk membuatku berenang ketepian saat ombak menggulungku, cukup membuatku menyajikan senyuman lagi untuk dunia yang sedang gila-gilanya. Kamu saja cukup. Kamu sangat cukup untuk melengkapiku. Kita adalah dua insan yang sedang menuju kedewasaan. Kamu dengan pendidikan S2 mu dan aku dengan jadwal pekerjaan dan kuliah yang mengantri dan siap di jamah.

Menyusun tugas akhir, pasti menguras tenaga dan membuatmu sakit kepala. Belum lagi sidang yang akan kamu hadapi nanti. Sesekali aku menelfonmu karena rindu dan memastikan kamu tak lupa makan. Kamupun mengingatkanku untuk sekedar pakai jaket ketika naik motor dan tak tidur larut malam karena berkutat dengan tugas. Saat itu kita sadar, dunia sedang menguji kita.

Kita mencoba terbiasa seperti ini, tak selalu malam minggu berdua. Tak bisa berjumpa saat rindu sudah menyapa. Tapi kamu akan selalu ada, kamu tak membuatku kehilanganmu walau raga tak berjumpa. Nanti saat waktu untuk kita tiba, kita akan menceritakan deretan kisah. Tentang pekerjaan yang menerpa dan tugas kuliah yang masih banyak tersisa. Dan saat itu, kamu bercerita. Sidangmu berjalan sempurna dan wisudapun telah menanti disana. Kamu membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Akan berkerja dimana dan sebagai apa.

Aku bahagia. Tuhan, engkau tahu aku bahagia karenanya

Dan ya, sebuah gelar pun sudah ada. Kamu bisa menentukan pekerjaan yang kamu suka. Kamu mulai mencari kerja. Saat malam tiba, saat waktu aktifitasku sudah berhenti, kita sempatkan waktu untuk bercerita. Bagaimana perusahaan yang kamu mau, berapa yang ingin kamu dapatkan, apa pekerjaan yang ada di angan. Kamu mengetahui pasti apa yang kamu inginkan.

Advertisement

Kamu sangat tertarik dengan fase baru dihidupmu yang akan kamu jalani segera. Kadang kamu bertanya padaku bagaimana dunia kerja karena memang aku lebih dulu terjun ke dunia kerja. Sekaligus menyandang status Mahasiswa. Aku berada di dua dunia dalam satu masa.

Dan berikutnya, kamu bekerja. Memberikan kinerja terbaikmu. Saat senja menyapa, kamu masih terpaku disana. Diperusahaan yang kamu pilih. Wajar saja, pria dengan deretan ambisi yang ada, waktupun tak akan berarti apa-apa.

Aku mulai kehilangan waktuku, begitu pula dirimu

Tak ada niat membatasi. Tak ada niat menumpas semua ambisi. Kamu terlalu sensitif menanggapi. Aku menyayangimu, itu berarti kamu dan apa yang ada diduniamu. Tapi memang kebersamaan tak bertahan selama itu. Entah karena aku atau karena pekerjaan dan duniamu. Kamu seakan tak ingin merelakan sedikit waktu untukku. Kamu memutuskan untuk berkata "sudah, kita sudah cukup sampai disini saja".

Lalu apa? Aku sadar, hubungan perlu dua orang yang saling mempertahankan. Jadi biarkan saja. Nanti, waktu yang akan menunjukan. Dan memang ambisiku pun tak ingin di kalahkan. Bukankah yang mencinta tak akan pergi untuk waktu yang lama? Dan bukankah orang yang mencintaipun bisa bertahan untuk waktu yang tak diduga juga?. Jadi berdoa saja, kita akan dipertemukan lagi.

Walau kebersamaan tak lama dirasa, kita sudah membuat semuanya bermakna. Karena bagiku kamu saja sudah cukup. Karena sesungguhnya, sudah ada angan untuk menemani sampai nanti, sampai waktu senja menghampiri.