Dua hari yang lalu aku melakukan aktivitas lari sore. Mungkin karena sudah mulai sering hujan, sore itu taman terlihat lebih sepi dari biasanya. Aku berlari berkeliling taman. Kakiku terhenti saat melihat seorang ibu-ibu melempar ice cream yang tergenggam ditangannya pada wajah seorang anak berusia sekitar 10 tahun. Aku bingung, anak itu diam saja. Saat kulihat wajahnya, aku sadar dia anak yang berbeda. Pandangan kosong namun tetap bisa memancarkan rasa takut itu menunjukan bahwa dia tak senormal anak- anak pada umumnya.

Masih belum selesai juga. Ibu itu masih memaki anak itu dengan kasar. "Awas kalo kamu masih berani dekat-dekat dengan anak saya. Dasar sial. cacat!" Ibu itu menghardik sambil mendorong tubuh anak tersebut. Tak tega melihat pemandangan itu, aku pun menghampiri dan bertanya ada apa. Ibu itu menjelaskan, bahwa anak itu tadi berusaha mendekati anaknya yang berusia 3 tahun dan menyodorkan ice cream untuk anaknya. Jijik, itulah alasan dia tak ingin anaknya didekati oleh anak keterbelakangan mental tersebut.

Setelah puas marah-marah ibu itu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah. Aku segera membersihkan wajah anak itu yang belakangan ku tahu Damar namanya. Aku duduk menemani Damar menunggu ibunya datang menjemput. Tak lama kemudian, seorang ibu paruh baya datang menghampiri dengan perasaan khawatir. Berkali-kali dia meminta maaf atas kesalahan anaknya. Aku menjelaskan, aku bukan ibu yang memarahi anaknya tadi. Aku hanya menelpon karena nomor handphone itu yang diingat Damar.

Ibunya menangis sambil memeluk anaknya yang tak berekspresi sama sekali. Sesekali mulutnya berceloteh "adek kecil mau ice cream." Aku tak mengerti maksudnya. Sejenak ibunya bercerita kalau dia sebetulnya selalu melarang anaknya untuk bermain diluar rumah. Karena dia tahu, setiap kali anaknya keluar, hal-hal seperti inilah yang akan diterima Damar. Dihina, dicaci, dan memancing rasa geli. Tapi sore ini dia kehilangan Damar begitu saja. Sehabis mandi, Damar tak terlihat lagi diruang tamu yang lupa dikuncinya.

Dihina? Dicaci? Merasa geli?

Advertisement

Bagiku Damar tak mengganggu sama sekali. Dia hanya diam, tak mengganggu. Dia bahkan tak banyak bicara. Lagipula apa salahnya anak keterbelakangan mental mendapat hak yang sama seperti anak lainnya? Andai bisa memilih, kita tahu bahwa Damar juga tak pernah meminta dilahirkan seperti itu.

Siapa juga yang mau dilahirkan dalam kekurangan. Entah fisik atau apapun itu. Mungkin kita juga belum tentu bisa membantu mengurangi bebannya, tapi yang perlu kita tahu, baik Damar atau siapapun itu, mereka punya hak yang sama untuk diterima. Mereka juga butuh cinta, sama seperti kita. Berhentilah menghakimi takdir yang jatuh pada siapapun itu.

Dan untukmu Damar. Tersenyumlah. Juga tak perlu takut untuk terus berjuang menghadapi dunia. Entah akan ada ataupun tidak orang-orang yang menerima mu dengan tangan terbuka. Mulai hari ini kamu hanya perlu berbahagia dan berjuang lebih keras lagi bersama bunda. Karena sungguh masih lebih baik kamu ketimbang kami yang sempurna tapi cacat dalam hatinya. Kuatlah Damar, agar tak lantas kamu tergilas dunia. Percaya dan bersabar saja, selalu ada hati yang lebih bisa menerima ketulusan. Daripada kesempurnaan yang penuh kepura-puraan.