Tidak pernah ada yang bisa menebak, akan berakhir seperti apa suatu hubungan. Mungkin bahagia, atau mungkin saja luka.

Setidaknya kita pernah bersama; Menebar tawa, berbagi beban, merajut asa dan merencanakan masa depan.

Apakah kau masih ingat tawa lepas kita sore itu? Dibawah langit oranye kemerahan kau memberikanku seikat mawar merah. Katamu tidak sabar menunggu malam, karena bersamaku setiap waktu adalah spesial.

Apakah kau masih ingat pecah tangisku kala itu? Ketika kau jatuh sakit dan aku yang berada jauh diluar Kota. Kau meneleponku dengan suara yang dipaksakan baik, takut kalau-kalau aku merasa khawatir. Sepanjang malam aku terjaga karena menunggu kabar darimu, berharap kamu segera membaik dan membuat lelucon lagi untukku.

Apakah kau ingat harapan-harapan yang kita masukkan kedalam wadah yang kita sebut 'botol harapan'? Betapa banyak keinginan didalam sana, baik itu keinginanku, keinginanmu maupun keinginan kita. Suatu hari kau pernah membocorkan sekali keinginanmu padaku; bahwa sampai waktunya nanti, apapun keadaannya, bagaimana pun kondisinya, kau akan tetap berada disisiku. Menemaniku dalam suka dan duka. Berjanji untuk selalu bersama, dan tidak pernah meninggalkan.

Apakah kau ingat memoar-memoar yang kita tempel didinding kamarmu? sebuah harapan-harapan sederhana yang akan kita rancang di masa depan. Bersama sampai kita siap, lalu menikah dan memiliki anak. Memiliki rumah idaman kita yang dindingnya terbuat dari kaca dan lantainya yang keseluruhannya kayu. Klasik, tipe kita berdua.

Advertisement

Tapi semua itu hanya tinggal kenangan. Karena merasa tidak bisa menyelesaikan masalah ego dan kau mengatakan bahwa kita tidak cocok lagi, kau memutuskan untuk pergi. Meninggalkanku yang masih betah berjibaku dengan semua hal tentangmu kini.

Aku memilihmu, benar-benar memilihmu. Tapi sekarang memilihmu adalah dengan cara memperhatikanmu dari jauh, dan mencintai dalam diam.

Sekarang, tawa itu bukanlah milikku lagi. Airmatamu sudah bukan untukku lagi. Harapan-harapan itu sudah pupus dan kau kini tengah merajutnya dengan orang lain. Dan, rencana-rencana sederhana untuk masa depan yang sering kau ceritakan padaku, kini tidak akan pernah aku dengar lagi.

Memperhatikanmu dari jauh sudah menjadi rutinitasku. Silahkan saja menyebutku 'psycho', karena cinta seharusnya seperti itu; Merelakan tapi sebenarnya hati berteriak tidak ingin. Bahkan setelah kau memiliki pendamping baru, kau masih akan tetap menjadi seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali. Aku sudah kebal dengan perih dihati ketika sudah bukan tanganku lagi yang kau genggam, bukan kepalaku lagi yang kau usap sayang, dan bukan mataku lagi yang kau tatap penuh cinta. Ada orang lain disana.

Mendoakanmu adalah caraku mencintaimu dalam diam. Disela-sela doa yang aku panjatkan kepada Semesta, selalu saja terselip namamu, doa agar kau bahagia serta doa agar aku bisa ikhlas menerimamu yang sudah tidak lagi bersamaku. Kenyataan memang pahit, tapi lebih pahit lagi ketika aku menipu diri untuk berhenti mencintaimu. Aku memilih membiarkan sampai cinta itu memudar dan sampai saatnya nanti dia menemukan rengkuhan.

Hidup itu ibarat busur panah. Ketika kau ditembakkan ke bumi, maka kau harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapi.

Kesalahanku pernah mencintaimu berlebihan. Seharusnya aku sudah sadar resikonya ketika memutuskan untuk meletakkan seluruh hatiku padamu. Setelah perpisahan ini, aku baru menyadarinya. Sulit sekali untuk mendapatkan hatiku kembali, bahkan saat kau tidak ingin repot-repot membawa hati dan setumpuk rindu yang kau tinggalkan, menyiksaku bersama pahitnya kenangan. Kau dengan tega membiarkannya begitu saja.

Ketika busur panah ditembakkan, dia tidak akan pernah tahu akan menancap dimana. Keuali dengan pengukuran yang baik, dia akan berada ditengah-tengah, titik sempurna. Seperti hidup dan memutuskan untuk jatuh cinta. Dia tidak bisa memilih pada siapa dia akan, tapi cinta mengalir begitu saja. Seperti kisahku, ketika aku memilihmu, aku mengira kau yang akan menjadi pendampingku selamanya. Bukan karena tanpa alasan, tapi karena aku pernah mengira, bahwa kau adalah orang yang tidak pantas untuk disia-siakan.

Tapi ini adalah takdir yang sudah tertulis atas nama kita berdua. Percuma melawan dan mengelak, hasilnya akan tetap sama walaupun dicoba berkali-kali. Dia akan tetap berputar disatu titik saja, perpisahan.

Aku bersyukur pernah bersamamu. Kau mengajarkan banyak hal, dari itu kebahagiaan sampai memilih mana yang terbaik.

Aku tidak pernah ingin menyalahkan kepada siapa aku jatuh cinta dan oleh siapa aku lalu disakiti. Aku hanya menjadikannya itu sebuah pelajaran untuk masa depan.

Kau terlalu indah apabila aku menyebutmu sebagai sebuah kesalahan. Bagaimana pun, kau pernah membuatku mengerti arti sebenarnya dari bahagia. Memberitahuku caranya tertawa lepas. Mnecintaiku seperti aku orang paling beruntung di dunia.

Sampai tahap dimana aku harus menerima, bahwa kau pergi meninggalkan luka. Aku berusaha tidak apa-apa.

Pada akhirnya, sebuah masa lalu akan memiliki kenangannya sendiri.

Terima kasih waktu itu kau pernah memilihku diantara sekian banyak orang yang juga mengagumimu. Tidak ingin mempermasalahkan seberapa lama, tapi aku ingin mengingat waktu yang berharga. Antara kau dan aku yang waktu itu sedang dilambungkan tinggi ke udara, sebelum dihempaskan ke bumi yang aduh perihnya.

Kau dengan segenap kenangan yang tidak ingin aku hilangkan, bertahan didalam jiwa. Tidak ingin repot-repot memudarkannya, karena kau dengan kenanganmu adalah bagian dari cerita masa muda.

Akhirnya, terima kasih. Setidaknya kita pernah bersama, menikmati cinta.

Setiap orang yang pernah singgah dihati, memiliki kenangan tersendiri. Kau tidak perlu mengusirnya pergi, hanya biarkan lah dia menetap lebih lama lagi. Pada akhirnya, ketika kau menemukan orang yang pas dihati, dia akan kabur berlari. Kembali ketempat asalnya tadi.

Dariku, yang pernah menjadi setengah dari jiwamu.