“Ternyata, semua masih baik-baik saja. Aku kira ini akan menjadi malapetaka. Tanpamu, aku bisa menjalani semua ini. Tanpamu juga, aku bisa menjadi pribadi yang lebih maju.”

Entah kata-kata itu benar atau hanya mewakili sebagian dari keegoisanku saja.

“Kau tak perlu berpura-pura dengan semua ini. Cukup aku, wanita yang kamu permainkan se-lama-ini. Semua ini sungguh menjadi pelajaran sendiri bagi ku.”

Entah kata-kata itu hanya ilusi ku tentangmu, atau bahkan ‘ke-alay-an ku’ saja.

Bagi mu, mungkin ini semua tidak melibatkan perasaan.

Advertisement

Bagi mu, mungkin ini semua tidak penting.

Bagi mu, ini hanya sebuah permainan perasaan.

Bagi mu, aku hanya madu yang bisa kau isap setiap waktu.

Tapi…

Bukan berarti aku bisa ‘tanpamu’

Itu semua bohong. Selama ini aku merindukanmu dalam diam.

Selama ini aku hanya bisa memendam rasa ini tanpa ada titik temu.

Apa kamu tega membiarkan aku seperti ini di waktu yang terus berjalan hingga nanti?

Hingga tak tentu ujungnya.

Aku bukan seperti’mu’ yang bisa menemukan jalan keluar dengan mandiri.

Aku wanita yang ‘mungkin’ hanya menjadikan ‘lelucon’ mu dengan kata-kata puitisku.

Aku hanya wanita yang tak bisa sekuat mental mu ‘disana’.

Aku hanya wanita yang ‘bergengsi tinggi’ hanya untuk mengatakan ‘I love you’

Bahkan… aku tak mengira aku bisa se-tulus ini mencintaimu.

Aku sering berdoa untuk tidak terlalu mencintaimu sedalam ini.

Tapi aku yakin…

Semua akan terbayar suatu saat nanti.

Aku yakin, dengan atau tanpa – mu aku masih bisa menjalani semua ini. Bahkan menjadi diriku yang lebih baik dari sebelumnya.

Terimakasih untuk mengajarkan aku arti kesabaran, kesetiaan dan juga penantian. Walaupun pada akhirnya penantian ini akan berujung ‘tak tentu’.

Kamu telah mengajarkan ku tentang arti kesetiaan, dimana aku tak menyesal menjadi wanita yang berhati keras untuk selalu mengabdi kesetiaan kepadamu.

Komitmen? Aku yakin kamu belum memikirkan tentang hal ini setitik pun. Aku juga yakin dalam hati mu kamu masih ragu akan ‘aku’.

Tenang… aku tak berharap lebih padamu.

Aku hanya sedang menunggu yang terbaik dari versi-versi yang sedang Tuhan datangkan kepadaku.

Someday, jika memang kamu lah yang terbaik. Tak akan ada yang bisa mengambilmu dariku.

Namun… jika ternyata kau bukan yang terbaik bagiku, aku juga yakin akan ada seseorang yang ternyata berharap lebih padaku untuk membimbingku.

Bukan aku ‘pesimis’ terhadapmu. Namun aku tak yakin akan hubungan yang tidak ‘berkomitmen’ ini.

Susah, iya susah mempertahankan suatu hubungan dengan keadaan seperti ini.

Keadaan yang terbentur oleh komunikasi yang tak tentu.

Mungkin ini ujian bagiku. Ujian bagiku untuk mejadikan aku wanita yang sempurna.

Mereka? Mereka hanya bisa berbicara tanpa tau perasaanku.

‘Mereka’ juga yang selama ini slalu ada untukku.

Bukan KAMU.

Entah…

Selama ini aku merasa KOSONG.

Aku merasa, ‘terikat namun tak ter-genggam’.

Waktu? Aku dan kamu pun tak mengenal itu.

Hubungan se-'lama' apapun itu, tidak akan berkualitas tanpa banyak nya waktu yang dihabiskan bersama.

Perasaan? Aku tak yakin. Aku yang selama ini menaruh hati kepadamu 3tahun lebih. Tapi aku tak yakin dengan perasaanmu yang ‘hanya ada aku’ jua.

Aku tak tahu apa masih ada bayang masalalu di dalam hati kamu yang tak semua orang tau?

Hanya perasaanmu sendiri yang mampu menjawabnya.

Tak usah kau ucap, cukup kau nikmati.

Kesetiaan? Kurasa aku meragukannya.

Aku tak tahu lagi bagaimana bisa membangun kepercayaan itu kembali.

Kepercayaan yang selama ini aku rasa ‘berlebihan’ sekarang justru ‘runtuh’ seakan tak bisa terpatri kembali.

Kejujuran? Aku rasa sulit.

Sulit bagi mu pasti, untuk mengakuinya.

Perasaan tidak bisa berbohong meski 1000 kali yang kau ucap tak senada dengan yang ada di hati kecilmu.

Kamu yang selama ini aku kenal ‘baik’, seketika aku sudah tak mengenalnya lagi.

Apakah semua itu karena 'seragam' gagahmu?

Posesif? Kurasa aku tidak begitu.

Semua hati perempuan yang apabila saat ini sedang ada di posisiku, aku rasa dia akan ‘menyerah’.

Tapi tidak bagi aku.

Karna… Aku mencintaimu tanpa alasan.

Entah bagimu…

Dari: Wanita yang kau ikat namun tak kau genggam, yaitu ‘Aku’. Seorang pendusta yang selalu menyembunyikan perasaan rindu. 🙂