Ada yang hilang dari pemandangan kampus ini sepeninggal sejarah, ada perbedaan yang cukup jelas dengan kondisi kampus di masa lalunya. Hanya dengan mendengar kisah dan cerita yang berujung bukti sebuah kejayaan dari jejak-jejak prestasi –prestasi terbaik, sangat berbanding terbalik terasa, sungguh.

Hampir setiap sudut hingga teduh sudah sangat jarang sekali dijumpai lagi kegiatan-kegiatan akademik mahasiswa yang dinamis, selain hanya ada pada dalam kelas atau perkuliahan itu sendiri.

Ada yang hanya sibuk lalu lalang mengurusi urusan akademik dengan nilai di atas kertas saja, ada yang hanya sibuk berbicara atau sekedar berbincang mengenai masalah-masalah yang mereka dapatkan, ada yang hanya duduk diam menggenggam sebuah androit versi terbaru sambil menunggu jadwal kuliahnya, dan terkadang ada di antara mahasiswa tersebut yang hanya menyendiri meratapi sesuatu tanpa sebuah solusi yang mengindahkannya.

Sama sekali tidak ada sesuatu yang menggairahkan yang mampu menyihir mahasiswa untuk berkreasi dalam sebuah miniatur kehidupan luar selain dalam kelas semata, itupun sesaat ketika kelas berakhir semua akan terasa buyar rasanya.

Wadah aplikatif yang sesungguhnya mesti di adakan dan menjadi kewajiban suatu perguruan tinggi justru di tiadakan. Barangkali inilah yang dikatakan dunia akademik, dunia ilmiah atau dunia kampus?

Advertisement

By the way, jika bertutur membahas permasalahan seperti ini mungkin hanya semata dan sebatas realita biasa saja (mereka). Tak akan mampu menemukan titik temu dan terangnya, hanya ada sebuah kegelapan yang membutakan. Semua akan terjawab seiring waktu terus berjalan ke peraduannya, tanpa sebuah kepastian bagai sebuah hari kiamat.

**

Mata merupakan salah satu indera yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup saya, bagaimana dengan kalian? Dari sekian, beribu hingga berjuta masalah yang membelit sebuah kehidupan ada di antara keindahan yang justru tidak di sadari keberadaan dan kehadirannya mengindahkan masalah itu lalu berkata “Welcome to my life’’. Bahkan mata tak berdaya memikirkannya, apalagi menemukannya.

Dalam kondisi kampus yang serba hampa itu, terdapat sesosok manusia tampan berambut panjang lurus melewati bahu dan mataku. Dengan pakaian yang kelihatannya pas dengan sebuah karakter yang periang atau perasa, mengenakan sepatu tak biasa dengan seumurannya (Nonfeminisme), dengan kemeja terbuka sama seperti sebuah cakrawala dan sebuah kaca di depan matanya sebagai alat bantu untuk melihat indahnya dunia.

Saya sempat membayangkan ketika pertama kali melihat manusia seperti itu memukulku dengan satu pukulan tepat di perutku, rasanya seperti apa yah? Apa sama ketika sebuah cinta terdiamkan..

Daun yang jatuh bukan karena angin, atau ingin membencinya. Namun daun yang jatuh itu iri kepadamu sebab kau bebas untuk mengarahkan kehidupanmu ke manapun tak terenggut. Ada tempat di mana tempat itu menjadi suka ketika menyempatkan waktu di situ, menghabiskan waktu bercengkrama, atau hanya sekedar bersilat lidah terkait masalah-masalah kehidupan masing-masing ala mahasiswa.

Kondisi lelah dan bosan pun tak terdeteksi ketika itu, itu ketika sebuah kondisi dan sebuah pertemanan datang menyapa dengan hangat. Namun, hingga detik ini hal itu sepertinya tidak terlalu penting untuk dituliskan lebih jauh di banding ketika sebelum mengenalmu sama sekali. Ada banyak cerita, cerita yang muncul bukan dari sebuah realitas. Namun imajinasi dunia mimpiku itu sendiri menggemakannya.

“Jujur saja aku sering bermimpi tentangmu.”

Setiap mata kuliah dan dosen itu memiliki sebuah tujuan yang mesti harus mahasiswa pahami dan tunjukan. Baik itu bersifat tersurat atau tersirat, sama ketika pertemuan ini. Ada yang mesti menjadi sebuah penegasan bahwa kita adalah diri kita.

Siang itu, sebelum aku menunaikan ibadah sholat dhuhur di mesjid kampusku. Sosokmu hadir di sebuah koridor kampus salah satu tempat mahasiswa menghabiskan waktu di sela-sela perkuliahan. Kebetulan koridor itu tepat berada dekat kantin fakultas ungu itu. Jadi tak heran beberapa di antara mahasiswa-mahasiswi itu hanya ada duduk ngobrol bersama seperti di sebuah warung kopi di temani segelas kopi berasal dari kantin dekatnya.

Ada juga mahasiswi yang sekedar ngoceh dengan laptop di hadapannya sambil mencari informasi yang di inginkan, ada juga mahasiswa yang mengerjakan beberapa tugas menulisnya seraya tempat itu sebuah perpustakaan. Hiruk pikuk dan riuh suara dari berbagai macam jurusan yang ada di dalam fakultas tersebut, menggambarkan sebuah ciri khas kampus yang dinamis, elit dan bersahaja.

Bahasa & sastra menyatu untuk mengubah dunia. Engkau hanya ditemani sebuah buku novel yang tidak asing lagi di mataku, kesendirianmu mulai terganggu ketika aku menyapamu secara terpaksa dan tak ikhlas.

Seketika sapaan itu menjadi akhir dari sebuah pertemuanku siang itu, sebab kala itu niatku ingin menuju ke sebuah mesjid untuk menjalankan sebuah kewajiban. Sekitar dua puluh menit berlalu begitu cepat, hari itu sebenarnya aku tidak memiliki kegiatan perkuliahan lagi. Tapi hatiku mendorong niatku untuk kembali ke kampus demi sebuah kata “ada apa?” .

Aku berjalan ditemani terkaan cahaya sinar matahari siang yang begitu menyengat. Namun tak lama, aku kembali melihat sosokmu di sebuah tempat mirip tempat yang tadi ketika aku menyapamu. Tanpa risau aku mendekatkan diriku dan memulai perbincangan kepadaku, mulailah sebuah cerita dari sepotong kisah-kisah yang nyata.

“Engkau sama sekali tidak cantik, tidak sama dengan pengguna rok itu. Namun, engkau adalah wanita ‘tertampan’ yang pernah aku temui. Tetaplah pada feminisme terbalikmu.”

**

Ternyata engkau penyuka Almarhum Michael Jackson, sama ketika aku bertanya mengenai alamat blog kamu. Di sela nama feminim ada nama Michael yang menghiasinya. Bahkan, blog itu sebagian besar di penuhi oleh sosok raja pop tersebut.

“Kalau saya sebenarnya suka sama ferly Cherrybelle dan JKT48, namun tidak se fanatik kamu. Yang memasang foto hingga menuliskan biografinya. Saya hanya mengagumi sesuatu tanpa sebuah kelisanan, cukup aku sendiri saja yang tau akan hal itu”

***

Hari itu adalah hari yang berkisah, hari yang menemukan dan mengharukan. Setiap individu memiliki hak pada individu lain. Namun yang menjadi rahasia, hal apakah itu?