Setelah makan siang bersama, dengan jatah yang sudah ditakar, sehingga tidak bisa menambah, perjalanan dilanjutkan menuju War Museum. Tempat ini berada di Provinsi Kanchanaburi, berada di samping Bridge River Kwai (Kwae). Masuk museum yang ditarik ongkos 40 bath, pengunjung bisa menyaksikan perjalanan bangsa Thailand dalam Perang Dunia II, di sini sangat jelas bagaimana posisi tentara Jepang di sana seperti saat di Indonesia. Di dalam museum terlihat berbagai peninggalan alutsista perang mulai dari kereta angkut buatan Jerman hingga mortir. Tak jauh dari museum ada sebuah jembatan yang sangat bersejarah yakni Bridge River Kwai. Jembatan ini bukan jembatan penyeberangan manusia namun sebuah jalur kereta dari Thailand menuju Myanmar (Burma) atau sebaliknya. Jembatan untuk lewat kereta yang memiliki panjang lebih dari 100 meter itu menjadi saksi Perang Dunia II sebab pernah rontok atau ambruk karena kena serangan ledakan.

Di atas jembatan ini, ratusan wisatawan asing bisa melintasi dengan jalan kaki atau naik kereta bolak-balik. Terlihat jembatan itu meski tegak berdiri namun tidak kelihatan kokoh sehingga para wisatawan hati-hati saat melintas. Bagi yang phobia ketinggian, tentu tidak berani melintasi jembatan itu sebab di bawahnya menganga Sungai Kwai yang dalam. Tak lama wisatawan menikmati tempat wisatawan Museum War dan Bridge River Kwai.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke Tiger Temple. Perjalanan ke sana yang berjarak 30 km d tempuh dalam waktu yang terbilang cukup singkat, selain karena jalanan lengang, jalannya cukup besar.

Memasuki area Tiger Temple, pemandu wisata menjelaskan ada aturan yang harus dipenuhi, misalnya pengunjung tidak boleh memakai pakai berwarna menyolok seperti merah, kuning, dan pink. Tak hanya itu, pakaian harus sopan. Saat itu ada pengunjung yang menggunakan pakaian terbilang seksi sehingga oleh pemandu disuruh menggunakan kaos penutup. Aturan kesopanan itu diterapkan bisa jadi karena memasuki tempat suci para biarawan Budha. Bila pengunjung memasuki tempat wisata lain dengan senyum dan ceria namun berada di gerbang Tiger Temple semua nampak tegang sebab seperti dalam video atau brosur wisata, mereka tahu akan memasuki sebuah tempat di mana macan atau harimau berukuran besar dilepaskan. Mereka sadar bahwa mereka akan bertemu dengan binatang liar, buas, pemakan daging, dan tak bisa dianggap remeh dalam memberlakukannya. Hal demikianlah yang bisa jadi membuat pengunjung menjadi tegang. Sebelum menjumpai binatang berkulit emas loreng itu, pengunjung masuk dengan berjalan kaki sejauh 200 meter dari gerbang.

Dalam perjalanan terlihat bahwa area Tiger Temple berada di daerah tandus, tanahnya mirip seperti di Nusa Tenggara Timur atau daerah Bali bagian selatan seperti Jimbaran dan Pecatu, yakni tanah keras dan banyak batuan karang. Dalam temple, biarawan Budha tak hanya memelihara macan namun juga banyak memiliki hewan lain seperti sapi, kerbau, rusa, dan babi hutan. Hewan-hewan berkaki empat itu dilepasliarkan di area itu. Setelah berjalan 200 meter dari gerbang, pengunjung mendapati Tiger Canyon.

Advertisement

Tiger Canyon adalah sebuah tempat di mana dikelilingi oleh tebing cadas. Di area ini ada sekitar 5 macan besar dan 2 anak macan yang dirantai. Sebelum pengunjung diperkenankan masuk Tiger Canyon, pengelola Tiger Temple menjelaskan aturan-aturan yang harus ditaati, seperti demi keselamatan atau menjaga tingkah polah maka setiap pengunjung didampingi dua pemandu dari Tiger Temple, satu yang menuntun ke mana mereka harus berjalan dan satunya yang memotret. Di Tiger Canyon inilah, pemandu menuntun pengunjung ke arah macan-macan yang dirantai dan pemandu lain memotret. Jadi pengunjung di tempat itu, tidak bebas mengambil gambar. Pengelola dengan sabar melayani pengunjung untuk mengelus-ngelus macan dan satunya memotret. Selepas di Tiger Canyon pengunjung dibawa ke Tiger Island Area.

Di tempat itu, atraksi terakhir wisata di Tiger Temple, yakni sebuah macan besar yang diikat di sebuah pohon kemudian salah satu biarawan Budha memberi susu kepada macan besar itu. Pengunjung bisa mengambil gambar diri dengan adegan itu satu persatu alias antri. Tak heran di dekat biarawan Budha yang memberi minum susu kepada macan, antrian mengular untuk foto bareng. #IniPlesirku