Ia adalah sosok laki-laki tangguh yang selalu berkelahi dengan waktu, untuk membahagiakan anak-ananknya. Untuk selalu mengguratkan senyum di bibir anak-anaknya. Untuk selalu melihat anak-anaknya berlonjak riang, dan untuk selalu memberikan yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk anak-anaknya.

Ia adalah sesosok pria yang ku panggil “ayah”. Sosok pria tangguh yang dipilih ibu untuk menjadi ayah dari anak-anaknya. Untuk jadi panutan dalam keluarga kecilnya. Ia adalah sesosok pria yang dipilih ibu yang bisa menggantikan tugasnya untuk waktu yang sangat lama.

Ayah, keringatmu tak akan pernah bisa aku ganti, cintamu tak akan ada yang menandingi, dan kasih sayangmu tak akan ada yang bisa menggantikan.

Telah beribu hari yang kau lewati dengan kesendirian untuk menghidupi dan membahagiakan aku. Butir keringat yang tak aku tau berapa banyak yang sudah kau keluarkan untuk membiayai sekolah dan kuliah ku. Aku anak paling beruntung yang memiliki ayah sepertimu.

Tak pernah aku lihat bagaimana raut lelahmu. Tak pernah aku lihat bagaimana raut sedihmu. Kau selalu saja bisa menyembunyikan semua itu dariku. Meski sendiri kau lebih semangat untuk mewujudkan impianku.
Universitas impianku, yang memerlukan rupiah tak sedikit, meski aku tau kita tak akan bisa. Kau selalu mencari cara untuk mewujudkannya, dan akhirnya aku bisa memakai toga yang selama ini ingin kau lihat.

Advertisement

Ayah, itu masih bukan apaapa, setelah toga hotam terpasang di kepalaku, aku ingin mewujudkan impianmu, untuk dapat bertamu ke rumah Allah. Meski sekarang aku masih belum bisa memberikanmu apa-apa. Meski sekarang aku masih belum bisa melakukan apa-apa, aku ingin engkau selalu sehat sampai aku bisa mewujudkan mimpi kecilmu.

Ayah meski aku belum tau apa aku mampu melakukannya, meski aku belum tau apa aku bisa melakukannya yang pasti aku akan selalu berusaha untuk mewujudkannya. Apapun itu impianmu.

Ayah dalam tadah tanganku seusai lima waktuku dan di 1/3 malamku, aku tak lupa berdoa agar engkau selalu diberikan kesehatan, dan selalu diberikan kebahagiaan, dan aku selalu berdoa agar aku di berikan kesempatan untuk membahagiakanmu seiring rambutmu yang semakin memutih, tubuhmu yang semakin merenta.

“Ya Allah, ijinkan aku membahagiakan ayah meski sekali saja, berikan aku kesempatan untuk membuat senyum lebar di bibirnya, berikan aku pekerjaan untuk bisa menabung agar ayah bisa menyentuh ka’bah, aamiin”

Ayah, kumohon tetaplah sehat sampai hari itu tiba.
Ayah, doakan aku agar bisa membahagiakanmu. Doakan aku mendapatkan laki-laki sepertimu. Laki-laki yang tak pernah putus asa. Laki-laki yang tak pernah menyerah sesulit apapun keadaan yang dihadapi.,Laki-laki yang menyayangi keluarganya. Laki-laki yang akan menjaga anak-anaknya dengan sekuat tenaga meski nanti aku sudah tiada.

“Ayah, engkau seperti lentera di kegelapan, bak kompas ketika tersesat, dan engkau jalan pulang yang akan selalu aku tuju”

Ayah aku hanya ingin mengatakan, aku sangat menyayangimu, terima kasih telah menjagaku,dan terima kasih telah menjadi ayah yang kuat untukku.

Anakmu yang sedang berusaha membanggakanmu…