Tulisan ini kuawali dengan kata bijak dari Sang Manusia Indonesia Pertama “Bung Karno”. Beliau pernah mengatakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Kata-kata tersebut beliau sampaikan saat pidato hari pahlawan 10 November 1961. Benar, Indonesia memang mempunyai banyak pahlawan yang telah berjasa semasa dulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Benar pula jika Indonesia dikatakan bangsa yang ‘besar’. Besar korupsinya, besar kriminalitasnya, besar tingkat kemiskinannya, dan banyak hal lainnya yang menjadikan Indonesia negara ‘besar’. Prestasi negara ini bahkan tersamarkan oleh besarnya sisi negatif yang terjadi.

Berbeda halnya makna ‘besar’ dahulu yang memang Indonesia dikatakan bangsa yang besar, karena sangat menghormati pahlawannya. Jika tidak ada seorang Bung Karno dan kawan-kawan lainnya, kita mungkin masih terjajah saat ini dan diliputi ketakutan perang. Sungguh, manusia mana lagi yang berjasa selain beliau? Tidak ada lagi sosok Bung Karno di masa sekarang.

Nama Bung Karno kini tinggallah nama. Perjuangannya hanya terlintas saja di hati masyarakat saat ini. Masyarakat sudah kehilangan nilai juang. Mereka banyak yang tidak mengenal sosok Bung Karno, yang mereka tahu hanya idola-idola saat ini. Idola yang hanya mengumbar wajahnya atau mencari popularitas semata. Idola yang bilang cinta Indonesia hanya tanggal 17 Agustus.

Tidak heran jika kepribadian masyarakat saat ini, khususnya pemuda-pemudinya semakin tercoreng (walaupun sebagian pemuda-pemudi telah berprestasi), namun tertutupi oleh sikap dan tingkah mereka yang sudah luntur nilai kemanusiaan dan rasa cinta tanah airnya. Jangan pernah menyebut demi Indonesia atau aku cinta Indonesia, jika masih ada rakyat Indonesia dalam gubuk kemiskinan. Kalimat ‘yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin’ harus dihapuskan, jika diri kita memang mengaku cinta negeri ini.

Kini, Indonesia semakin lama semakin tidak mengenal lagi siapa rakyatnya dan di mana pemimpinnya. Rakyat yang seharusnya menjaga negaranya ini, malah mereka lah yang satu persatu telah merusak negeri ini. Rakyat yang seharusnya hidup dalam damai dan persaudaraan, tapi mereka juga yang telah memulai pertikaian di mana-mana.

Advertisement

Kemudian pemimpin? Tidak ada pemimpin yang mempunyai nilai juang dan rasa cinta air yang tinggi seperti Bung Karno, dan menyorakkan “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Makna kalimat tersebut di masa sekarang berbeda. Kalau sekarang para pemimpin akan menyorakkan, “Berikan aku 1000 massa, maka aku akan memberimu ‘hadiah’, berikan aku 1 proyek, akan kuguncangkan dana alirannya”. Apakah ini yang disebut pemimpin? Kekuasaan dan semakin tingginya ilmu menjadikan penguasa menyalahgunakannya. Itulah yang terjadi pada pemimpin saat ini.

Kepercayaan masyarakat pun semakin berkurang terhadap pemimpin. Dulu, masyarakat sangat percaya pada Bung Karno, bahkan mereka rela mati demi pemimpinnya saat itu. Presiden di negara lain pun sangat menghormati beliau. Berlandaskan cinta tanah air, beliau membangun negeri ini. Lantas, semua ini akan menjadi sia-siakah perjuangan beliau? Sungguh malunya negeri ini yang tidak berterima kasih pada pendahulunya.

Benarlah makna kata Bung Karno yang mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Inilah kegilaan yang terjadi di era saat ini. Banyak kriminalitas yang dilakukan bangsa kita sendiri. Berperang menumpas kejahatan yang dilakukan oleh rakyat negeri ini. Ternyata Indonesia masih dijajah, bukan oleh sekutu, melainkan ‘mereka’ yang berkuasa dan menindas rakyat jelata dengan kekuasaannya. Inilah fakta di negaramu!!! Negara tempat kita berpijak dan bernaung.

Masih pantaskah kita duduk santai?! Tentu, buat apa kita turun tangan, apakah keuntungannya buat kita? Kita sudah hidup nyaman dan senang. Benar bukan? Uang, uang, dan uang, alasan yang paling klasik di negara ini. Semua lancar jika ada uang, bahkan negara ini dapat diperjualbelikan demi setumpuk uang. Lihat saja beberapa pulau di Indonesia sudah dimilki negara lain. Perusahaan-perusahaan asing pun telah merajai negara ini. Jika bangsa ini mau, Indonesia dapat berdiri sendiri.

Semua sudah ada di Indonesia. Sandang, pangan, papan, pariwisata, kebudayaan, dan masih banyak lagi yang dimiliki Indonesia. Negara asing pasti takut jika kita melepas diri. Tanpa Indonesia, ekonomi mereka akan menurun, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk membuat tipu muslihat agar bangsa ini percaya pada mereka. Mulai dari mengirim pemuda-pemudi bangsa untuk menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa penuh, atau memberikan fasilitas dan kenyaman jika rakyat kita ke negara mereka.

Alhasil, dengan mudahnya para pemimpin, penguasa, dan rakyat memberikan negara ini. Yah, kita terjajah kembali. Bukan pertumpahan darah yang terjadi, tapi keyakinan dan rasa cinta tanah air yang dikorbankan.

Apakah ini yang diajarkan seorang Bung Karno? Tidak!!! Bung Karno dengan tegas mengatakan “Tidak seorang pun yang menghitung-hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. Sudah pasti kaya jika beliau menagih keuntungan pada negara ini.

Bagaimana tidak, demi mengusir penjajah dan kemerdekaan Indonesia beliau pertaruhkan nyawanya, adakah yang seperti itu? Tidak!!! Namun, lihat pemimpin saat ini, banyak yang mengobral janji-janji demi Indonesia maju, yang kelak tersiar kabar di berita mereka melakukan korupsi. Mengapa? Sebab mereka sudah pasti menagih keuntungan pada negara ini, padahal mereka hanya duduk-duduk santai di kantor pemerintahan. Itulah jika semakin tinggi ilmu bukan semakin merunduk, tapi semakin tinggi pula egonya.

Kalau begitu, apakah rakyat kita tidak mempunyai sisi positifnya? Tentu ada! Misalnya dari kesenian Indonesia. Pemuda-pemudi saat ini mulai memperkenalkan tarian, budaya, dan lagu khas daerah. Pernah mendengar program ‘Pesona Indonesia’? Ya, saat ini sedang gencar-gencarnya bidang pariwisata Indonesia digalakkan ke khalayak bahkan ke mancanegara. Hal ini guna memperkenalkan panorama dan budaya Indonesia yang begitu kaya dan unik. Salah satu kesenian unik yang tidak ada di negara manapun, hanya di Indonesia yaitu wayang. Seorang Bung Karno pun jatuh hati pada kesenian ini.

Sejak kecil, Soekarno sangat menyukai cerita wayang. Beliau hafal banyak cerita wayang. Saat masih bersekolah di Surabaya, Soekarno rela begadang jika ada pertunjukan wayang semalam suntuk. Beliau pun senang menggambar wayang di batu tulisnya. Saat ditahan dalam penjara Banceuy pun, kisah-kisah wayanglah yang memberi kekuatan pada Soekarno. Terinspirasi dari Gatot Kaca, Soekarno yakin kebenaran akan menang, walau harus kalah dulu berkali-kali. Beliau yakin, suatu saat penjajah Belanda akan kalah oleh perjuangan rakyat Indonesia.

"Pertunjukan wayang di dalam sel itu tidak hanya menyenangkan dan menghiburku. Dia juga menenangkan perasaan dan memberi kekuatan pada diriku. Bayangan-bayangan hitam di kepalaku menguap bagai kabut, dan aku bisa tidur nyenyak dengan penegasan atas keyakinanku. Bahwa yang baik akan menang atas yang jahat," ujar Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007.

Soekarno tidak hanya mencintai budaya Jawa, beliau juga mengagumi tari-tarian dari seantero negeri. Soekarno juga begitu takjub akan tarian selamat datang yang dilakukan oleh penduduk Papua. Oleh karena kecintaan Soekarno pada seni dan budaya, istana negara penuh dengan aneka lukisan, patung, dan benda-benda seni lainnya. Setiap pergi ke daerah, Soekarno selalu mencari sesuatu yang unik dari daerah tersebut. Beliau menghargai setiap seniman, budayawan, hingga penabuh gamelan. Soekarno akan meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang tentang seni dan budaya setiap pagi, di samping bicara politik.

Namun, kini masih terdengarkah kisah wayang dan pertunjukannya? Sunyi, semakin tergerus oleh kesenian modern. Entah mengapa, pemuda-pemudi jaman sekarang semakin fanatik dengan seni dan budaya modern yang berkembang. Alat musiknya pun sudah melantunkan lagu-lagu cinta ABG.

Di mana lagu-lagu mencerminkan Indonesia?

Di mana alat musik gamelan, gambang, dan lainnya?

Di mana seni dan budaya khas Indonesia?

Apakah kolot jika masih ada yang memainkannya? Apakah nggak up to date jika masih ada yang mendengarkannya? Jelas pertanyaan yang sangat salah. Kita ini rakyat Indonesia atau bukan? Seharusnya pertanyaan-pertanyaan di atas tidak akan muncul jika kita memang rakyat Indonesia.

Sedikitnya jiwa-jiwa Soekarno kecil saat ini, pemuda-pemudi yang masih mempertahankan nilai seni dan budaya Indonesia. Mereka tetap berjuang melawan era globalisasi. Apakah pernah mendengar tentang mereka? Mungkin, prestasi dan perjuangan mereka kalah oleh berita gosip para idola saat ini. Hebat bukan negara kita ini?

Rindunya Indonesia mendengarkan kisah wayang dan pertunjukannya. Mendengarkan lantunan musik gamelan, gambang, angklung, dan lainnya. Ah iya, alat-alat musik tradisional ini masih ada di sebuah tempat, namanya ‘Museum’. Alat-alat ini dipajang di etalase-etalase museum. Yah hanya dipajang. Tidak, alat-alat ini pun pernah dimainkan. Ketika para pejabat asing berkunjung atau event khusus, alat-alat ini dimainkan mengiringi tari-tarian tradisional.

Walaupun sesekali, setidaknya masih ada yang menghargai. Namun, bukan ini harapan seorang Bung Karno yang sangat menghargai dan mencintai seni dan budaya Indonesia. Ingatlah, bahwa memperkenalkan dan menjaga seni dan budaya Indonesia bukan untuk dijual, bukan untuk mendapatkan berlembar uang, tapi untuk menyadarkan rakyat Indonesia guna mencintai layaknya kita mencintai keluarga, teman, ataupun saudara. Inilah keinginan seorang Bung Karno.

Para seniman dan budayawan sekarang sudah berganti nama, yang mereka sebut ‘artis’ atau ‘public figure’. Lihat dan resapi hal ini, bahwa dengan bangga mereka membuat banyak film, sinetron, lagu, atau project lainnya yang mereka persembahkan untuk Indonesia. Banyak penghargaan yang dibuat untuk apresiasi mereka. Tentu para pemenang akan sangat bangga menerimanya. Banyak acara bergengsi dibuat untuk menghibur, ‘katanya’. Tentu (lagi) mereka akan sangat bangga jika rating mereka naik.

Hebat bukan negara ini? Ini fakta lagi yang harus kita ketahui. Di saat kalian senang atas prestasi yang seperti ‘itu’ dan kalian bilang untuk Indonesia lebih maju? Lucu!!! Lihatlah ke bawah bukan ke atas langit! Saudara kita masih banyak yang kelaparan, kedinginan, kesusahan, yang mereka inginkan hanya hidup tercukupi dan dapat sekolah. Namun, lihat kehidupan kita! Makan saja dengan harga yang fantastik (bestik, burger, pizza, dan lainnya). Apakah masalah kemiskinan hanya tugas pemimpin negara atau daerah? Silakan jika itu yang kalian pikirkan, tapi jangan menginjakkan kaki lagi di Indonesia.

Rakyat kita saat ini sudah menjadi budak para pihak asing yang merajai negara ini. Semua kehidupan kita, mulai dari gaya hidup, pendidikan, makanan, minuman, dan lainnya sudah mengikuti tren negara asing. Pertanyaan terbesarnya adalah beranikah kita melepas itu semua? Rela dalam hidup sederhana tapi kaya cinta? Bisa kita tebak suatu hal yang sangat mustahil. Namun, Bung Karno sangat berani dan tegas menolak itu semua.

Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak” (Pidato HUT Proklamasi, 1963).

Itulah fakta lagi yang Indonesia perlu tahu.

Tulisan ini bukan semata-mata ingin merendahkan atau menjelekkan negara kita sendiri. Bukan juga untuk membuat khalayak terpukau. Tulisan ini untuk introspeksi diri, sembari merenungkan kembali dan membuka hati khalayak. Kita sudah terlalu terlena oleh kehidupan modern, dan tanpa disadari bahwa perlahan kita kehilangan jati diri sebagai seorang rakyat Indonesia. Kalau begitu, buat apa dahulu Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia? Kalau hanya untuk dijajah kembali oleh bangsanya sendiri.

Masyarakat negara ini perlu perlahan-lahan untuk disadarkan bahwa Indonesia adalah harta berharga peninggalan Bung Karno dan para pahlawan terdahulu. Memang, sebagian warga kita banyak yang telah berprestasi dan mengharumkan nama negara ini, tapi seperti kutipan Bung Karno

Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat. Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan”.

Inilah tugas besar bangsa Indonesia. Amanah dari manusia Indonesia pertama.

Indonesia perlu tahu bahwa antara Bung Karno dan Indonesia tidak akan terpisahkan. Mungkin raganya telah tiada, tapi jiwa dan cinta kasihnya selalu ada untuk Indonesia. Sehebat-hebatnya pihak asing merajai negeri ini, tidak akan melunturkan jiwa dan sendi Bung Karno di Indonesia. Namun, jika rakyat kita turut andil dengan mereka, bukan hal yang tak mungkin, kelak Indonesia akan kehilangan sosok Bung Karno untuk selamanya. Indonesia kini dan nanti, kita lah sebagai rakyat Indonesia yang menentukan seperti apa kelak negara ini.