Dikeluasan cakrawala bayu berdesir menyampaikan rindu.

Ada yang aku tunggu di balik jendela berembun yang selalu kutulis namamu. Mungkin setelah hujan reda, bisakah kutemui pelangi yang selalu melukis indah wajahmu. Ahh, tampaknya semua tidak lagi seperi biasanya. Hujan kadang berkhianat, ia lebih sering turun sendiri.

Tanpa pelangi yang menemani.

Entah mereka sudah tak berkawan lagi, atau aku yang tidak pantas menemui. Seperti halnya kita saat ini, aku lebih banyak sendiri. Bukan tidak ingin bersama, hanya aku tidak ingin terus menerus terbawa mimpi yang tak berkesudahan ini. Kamu tau dipinggiran malam aku selalu menenun asa untuk tetap bersamamu. Kamu yang aku percaya sebagai cinta selamanya. Tapi takdir lebih dulu mempermainkan kita.

Ingatkah, dulu hujan dan senja adalah kita. Lampu kota pernah menjadi saksi kebersamaan. Bahkan kedai kopi tempat kita berteduhpun menyimpan banyak kenangan.

Advertisement

Berkawankan hujan kita menari bersama, setidaknya menikmati dingin berdua. Rasanya sulit untuk aku lepaskan segala hal yang pernah kita lalui bersama. Terlebih tentang hadiah istimewa yang kau beri saat itu. Entah tak sengaja atau memang sebuah kenangan-kenangan darimu.

Semua itu masih tersimpan rapi. Aku selalu menjaga dan membaca setiap lembar dalam buku yang kau beri. Kamu yang selalu pandai merangkai kata, hingga aku selalu jatuh tenggelam dalam setiap kalimat yang kamu ucap. Ya lebih dalam tenggelam, hingga aku lupa caranya kembali kepermukaan.

Aku lupa kamu hanyalah manusia, yang bisa saja hari ini atau esok kau pergi. Aku terlalu yakin untuk hidup bersamamu. Menjadi bagian dalam perjalanan hidupmu hingha kita menua bersama. Bahkan aku lupa akupun manusia, yang tidak memiliki upaya untuk menentukan sendiri garis hidupku. Aku yang tidak pernah mengira perjumpaan itu merupakan kebersamaan yang terakhir bagi kita. Hujan yang lebih sering datang melongsorkan mimpi-mimpi tentang hidup bersama. Takdir sedang memainkan perannya diantra hati yang saling ingin memahami.

Namun, mengerti saja tidak cukup jika masih ada ragu dalam dada. Katamu semua akan baik-baik jikapun hari tidak bersama, kau pastikan suatu hari kita akan bersama selamanya. Nyatanya semua itu hanya menjdi kalimat penenang sementara. Ribuan senja kulewati sendiri, riuh diantara aroma gerimis. Jika mimpi hanya menjadi ejekan pagi, untuk apalagi aku menenun asa di pinggiran malam.

Semua tidak mampu lagi ku kembalikan, bahkan dirimupun engga menemuiku dipinggiran malam. Atau sekedar mengucapkan selamat tinggal. Bukan mengucap janji yang tidak terpenuhi. Aku yang bodoh ini, atau kau yang pandai menebar janji. Bisakah kau kembalikan aku ke tempat dimana semua merekam jejak kita. Bukan untuk mengenang, aku hanya ingin pastikan tidak ada hati yang tertinggal.

Sebab hidup harus terus berjalan. Menit detik tidak akan terulang, aku tidak ingin mengenang hanya menjadi kesiaan.