Setiap orang punya makna cinta sendiri. Ada yang bilang bahwa cinta layaknya api, yang bila tak bisa dijaga akan membakar hangus diri kita. Sedangkan Albert Einstein percaya, “Selagi ada cinta, tidak perlu ada lagi pertanyaan, jadi lanjutkan!” Lalu kaum religius ikut komentar arti cinta ialah perpanjangan rasa kasih sayang Tuhan kepada umat-Nya. Seterahlah mau yang mana arti cinta yang kita kutip.

Yang jelas cinta sendiri punya keanehan. Entah kenapa saat ada orang yang saling mencintai menjalin hubungan. Justru disitulah mulai banyak perbedaan ditemukan. Perbedaan itu seolah jadi sekat penghalang untuk tidak lagi romantis dan harmonis. Ya cerita manis jadi tinggal kenangan saja. Dari situlah perpisahan dimulai jadi penyesak dada dan berubah jadi derai air mata. Ada yang tersakiti cukup lama, ada yang bisa langsung cari pengganti. Ada yang bisa bangkit untuk tidak terjebak pada pacaran, ada yang terjatuh ke lubang yang sama. Setiap kita berhak memilih apapun, asal bisa mempertanggung jawabkan.

Pantas saja Bernard Batubara dalam novelnya membuat sebuah puisi tentang keanehan cinta itu sendiri. Begini puisi goresan tangannya Surat Untuk Ruth:

“Satu hal yang ingin ku tanyakan kepadamu sejak lama,

Bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta,

Namun ditakdirkan untuk tidak bersatu?

Aku dan kamu tidak bisa memaksa

Agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan,

Jika waktu telah usai dan perpisahan ini harus terjadi,

Apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah ada waktu untuk kita bersama?”

Ya begitulah anehnya cinta, ia berlari saat kita sudah memilikinya. Rasa yang dulu dipuja tiba-tiba terbang ke alam lain membawa rasa aneh yang penuh kebencian. Disinilah letak salahnya orang yang jatuh cinta, kebanyakan berharap untuk memilikinya. Seperti anak kecil yang mengejar layang-layang susah payah, setelah didapat malah dibuang tak diterbangkan. Ada yang dirusak, ada yang malah mengejar layang-layang baru yang terombak-ambing di ombak udara.

Advertisement

Keanehan cinta selanjutnya adalah saat kita terlalu memaksa Tuhan. Berdoa sepanjang siang dan malam untuk dijodohkan dengannya. Sedang cinta kita dibalut dengan hubungan pacaran. Maka jangan salahkan Tuhan terpaksa mengabulkan. Jodoh kita memang sesuai keinginan tapi hidup kita jauh dari keberkahan. Adakah ini yang disebut cinta? Memulai sesuatu dengan cara yang salah.

Mengertilah bahwa CINTA yang AGUNG adalah saat kita yang bisa menyembunyikan cinta. Untuk tidak diungkapkan, ditindaklanjuti cukup dirahasiakan. Tapi kita dengan diam-diam memberinya perhatian tanda peduli. Tanpa merasa bersalah dan takut kehilangannya. Dimana kala kerinduan padanya mengisi ruang hati dan makin memuncak, segera kita ubah dengan mengingat Ilahi dan Nabi. Karena sadar dengan tamparan pesan bijak Ibnu Qayyim, “Setiap kali kau mengingat kepada orang yang kau cinta, kau akan semakin jauh dari Allah.”

PECINTA SEJATI adalah saat orang yang dicintainya mulai mencintai orang lain atau ditakdirkan tak bersamanya. Namun dengan lantang dan penuh senyum ia berkata, “Aku turut senang atas bahagiamu.”

Sebab bila Tuhan tak merestui cinta kita dengannya, kita bisa apa?

Yang terpenting, tetaplah mencari dan mulai mencintai yang lain lagi. Carilah ia yang tidak pernah meninggalkan Tuhannya. Karena bila Tuhannya saja berani ditinggal, apalagi kita yang hanya manusia.

Source