Apapun yang kutulis detik ini, percayalah, aku tidak sedang mengarang sebuah mitos yang mungkin bisa membuatmu mengernyitkan dahi sebagai tanda bahwa kau tidak memercayainya. Aku tidak sedang berusaha membuatnya sedramatis mungkin agar kau berteriak histeris. Aku tidak sedang mengada-ada. Aku juga tidak sedang merajut kata-kata puitis agar kau terpesona. Aku bahkan tidak sedang menyusun rangkaian kata yang mengalir menjadi kalimat agar kau terhanyut bersamanya. Percayalah, apa yang kutulis adalah aku dan diriku sendiri.

Seseorang pernah bertanya padaku,”Kenapa kau suka menyendiri?” Jawabku, “Karena aku suka sepi.”

Sepi adalah satu-satunya cara bagiku untuk mampu menikmati lara dengan leluasa. Dalam sepi, aku bebas menangis dengan cara yang kuinginkan. Aku bebas berteriak. Aku menyukai sepi lebih dari siapapun yang menyukainya. Maksudku, mungkin. Bertahun-tahun lalu, ia mengetuk pintu rumahku yang begitu sunyi, lalu menyentuh kulitku bersama hembusan angin yang menyelinap masuk bersamanya. Begitu dingin, begitu tajam dan begitu kejam, ia memelukku erat, menusukku tepat di sana – di hatiku. Aku tidak bisa menolak.

Aku hanya bisa pasrah, menerima pelukan itu sambil menikmati aliran lara yang menetes dari sudut-sudut mataku.

Aku menangis sejadi-jadinya. Kau tak perlu khawatir, tidak akan ada yang mendengar tangisanku. Bukan karena semua orang tuli, sama sekali bukan. Tapi karena aku memang sendiri. Ya, hanya ada aku – aku dan sepi.

Advertisement

Kau tahu? Sejak saat itu, aku menjadi mengenalnya lebih dalam, lebih jauh dan lebih baik, hingga aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku ingat, ketika aku mulai terganggu dengan kehadiran kaki-kaki yang berjalan bersamaku dan mulut-mulut yang berusaha berbicara denganku. Aku mulai terusik dengan suara-suara yang menjejali telingaku. Aku mulai benci dengan keramaian, aku muak dengan kemunafikan. Aku ingin sendiri. Maksudku, berdua bersama sepi.

Dan kau tahu? Aku selalu menikmati saat-saat di mana aku berada dalam kungkungan kesepian, dimana hanya ada aku bersama siang panas yang bisu atau bersama malam dingin yang mencekam. Aku bisa menikmati setiap aliran air mata yang menetes di pipiku ketika aku sangat merindukanmu. Aku bisa menikmati suara tangisku sendiri ketika aku sedang bermandi-mandi ria di dalam kamar mandiku yang sempit. Aku sering memutar keran air sampai habis, agar suara air yang mengalir deras mampu menutupi suara tangisku yang keras. Ya, kau pasti mengerti bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah tindakan antisipasi atau pencegahan agar tidak seorangpun yang mendengar tangisanku. Aku bisa leluasa memandangi setiap sudut kamarku yang kaku dan kosong. Ya, hanya ada aku dan kekosongan yang mencengkeram tubuh mungilku dengan erat.

Tahu jugakah kau? Sepi mencintaiku lebih dari siapapun – bahkan lebih dari kau mencintaiku. Entahlah. Aku tidak tahu apakah ini hanya sebuah penafsiran atau spekulasi burukku, tapi setidaknya itulah yang kurasakan. Ia mencintaiku begitu dalam, hingga ia adalah satu-satunya teman yang kumiliki. Ia adalah sebuah banyangan tak bersosok yang tak akan pernah meninggalkanku saat semua orang menjauh dariku. Bahkan, ia selalu mendekap erat tubuhku saat kau berpaling dariku, saat aku tak menemukanmu di sisiku atau bahkan saat aku sangat merindukanmu. Ya, jujur aku kecewa pada sepi, aku marah pada sunyi.

Begitu cintanya ia padaku, sehingga ia datang menggantikan kehadiranmu saat yang kuinginkan adalah kau dan semua tentangmu.

Aku sering berharap kau yang datang, tetapi yang kuterima adalah sebuah kekecewaan karena ia selalu mendahuluimu, membawa sebuah kabar pilu yang mengatakan bahwa kau tidak akan datang atau bahwa menunggumu adalah sebuah hal yang sia-sia. Aku sering berharap bahwa kau tiba-tiba datang mengusap pipi dan menghapus air mataku, tetapi yang kudapat adalah sebuah kegetiran karena ia selalu mendahuluimu, merajam hatiku dengan pedih hingga pipiku basah dan butir-butir bening berlarian keluar dari sudut-sudut mataku. Ya, aku membenci sepi karena ia terlalu mencintaiku. Ingin rasanya aku lari dari dekapannya menuju pelukan hangatmu, tapi ia selalu menarikku dengan paksa agar kembali padanya. Dan lagi, sekalipun aku berhasil melarikan diriku darinya, aku tak bisa memaksa dirimu untuk menyelamatkanku lantaran tanganmu selalu kau lipat dengan rapat – sebuah tanda bahwa pelukanmu tertutup untukku. Akhirnya, mau tidak mau, rela tidak rela, sepi adalah satu-satunya tempatku untuk kembali.

Aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Semua ini seolah-olah telah menjadi teka-teki bagiku, aku tidak bisa memecahkannya, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. Aku tidak tahu jeruji macam apa yang telah berani membatasiku sedemikian kejamnya.

Yang kutahu, sekarang aku mencintaimu lebih dari aku mencintai sepi dan sunyi. Bahkan, baik dalam sunyi ataupun sepi, aku tetap mencintaimu.

Aku lebih memilih untuk berada dalam sepi jika bukan kau orang yang ada bersamaku. Aku lebih memilih untuk berada dalam sunyi jika bukan kau orang yang berbicara dan tertawa bersamaku. Aku tak butuh ramai jika di dalamnya tidak ada dirimu. Dan jika itu bukan dirimu, aku lebih baik menikmati kesendirianku bersama sepi dan sunyi.