Aku percaya setiap langkah dalam hidupku adalah kehendak Tuhan.

Salah satunya bertemu denganmu.

Saat itu, aku hanya menjalani kehidupanku seperti biasa. Sama sekali tidak terpikirkan olehku akan bertemu denganmu.

Hingga akhirnya pertemuan dan perkenalan itu terjadi. Pertama kali melihatmu, jujur, aku memang merasa ada yang berbeda. Semenjak itu aku berpikir apakah ini hanya aku, atau kamu disana merasakan hal yang sama.

ah, mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan

Advertisement

Sampai suatu saat sepulangnya dari kantor, rasa lelah dan capek karena aktifitas seharian itu pun hilang, saat tiba-tiba namamu muncul untuk pertama kalinya di notifikasi handphoneku. Senang? Iya. Bingung? Iya. Kaget? Iya.

Tidak bisa dihindari, komunikasi yang terjalin antara kamu dan aku, dari hari ke hari semakin intens saja. Seakan kita tidak pernah kehilangan topik pembicaraan. Seakan kita berdua sama-sama tidak ingin mengakhiri percakapan.

Perhatian yang kamu berikan seakan menenggelamkanku dalam perasaan sayang.

Sedikit banyak membuatku berharap kepadamu. Padahal aku belum tau betul apakah kamu merasakan hal yang sama sepertiku, padahal aku belum tau betul apa niatmu kepadaku.

Dalam hati berkata

Sudahlah, jalani saja apa yang ada sekarang

Bulan berlalu dari semenjak aku mengenalmu.

Sampai kabar tidak mengenakkan itu pun sampai ketelingaku, ketika ku dengar bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang sedang dekat denganmu, bahwa aku bukanlah satu-satunya yang spesial buatmu, bahwa aku bukanlah satu-satunya yang ada dalam pikiranmu, bahwa aku bukanlah satu-satunya orang di balik senyum indahmu.

Bahwa kamu sedang berada di dalam dua pilihan

Padahal kamu adalah satu-satunya orang yang sedang dekat denganku, padahal kamu satu-satunya yang spesial buatku, padahal kamu satu-satunya yang ada dalam pikiranku, padahal kamu satu-satunya orang di balik senyumku.

Aku tidak tau lagi harus bagaimana dengan perasaan ini.

Aku tidak siap.

Tidak siap untuk kehilanganmu, tidak siap untuk menjadi pilihan.

Dalam hati aku bertanya

Apakah kamu tau aku disini sakit? Sangat sakit.

Mungkin aku egois, aku tidak tau apakah wanita lain akan berpikiran sama denganku. Tapi aku tidak ingin kamu jadikan sebagai salah satu pilihanmu. Karena kamu bukanlah pilihan bagiku. Karena hatiku mantap memilihmu.

Meskipun pelan, aku menyadari bahwa ini adalah kehendakNya.

Mungkin bukan namamu yang tertulis di lauh mahfudz untukku.

Aku memutuskan untuk mengakhiri ini semua. Mengakhiri pengharapanku kepadamu, mengakhiri perasaan sayangku kepadamu. Meskipun memang kita belum memulai apapun.

Biarlah aku nikmati rasa sakit ini, sambil berdoa kepadaNya, agar aku diberikan kesabaran.

Seperti kata orang-orang

we met for a reason. either you're a blessing or a lesson

And you seems to be a lesson for me