Dalam hidup ini tentu kita menyadari bahwa tidak ada satupun yang instan. Yap, segalanya butuh proses. Bahkan mie instan saja yang memiliki embel-embel instan masih saja butuh proses untuk memakannya. Kita harus merebus air dulu, menyiapkan piring, membuka kemasan bumbu sampai menunggu mie yang kita rebus matang sempurna. Itu baru mie, lalu bagaimana dengan kita manusia yang memiliki habit sejak masih kecil.

Tentu saja untuk merubahnya butuh kebiasaan. Untuk merubah dari yang biasa menjadi luar biasa kita butuh hijrah. Seperti yang kita ketahui makna hijrah adalah berpindah.

Sebagai manusia yang hidup dan memiliki sebuah keyakinan, tentu kita memahami bahwa berhijrah memang sebuah kewajiban agar kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bahkan Nabi Muhammad juga mengatakan bahwa orang yang dari hari ke hari semakin buruk atau sama saja merupakan orang yang merugi. Kita pasti sepakat, karena itulah kita butuh untuk berubah menjadi lebih baik.

Jika kita sudah merasa diri ini lebih baik dari hari ke hari maka kita bisa membantu orang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Tentu saja kita bisa melakukan cara yang paling sederhana seperti menasehati. Dalam menasehati seseorang kita harus hati-hati. Kita tentu ingin apa yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.

Hanya saja di sinilah sering kali kita atau bahkan orang lain mengalami kegagalan. Karena kita hanya berpikir tentang materi atau nasehat yang ingin kita sampaikan dan melupakan cara atau metode ketika menyampaikannya. Apalagi dengan adanya sosmed saat ini, kita dengan mudahnya mencela, nyinyir dan juga menyindir orang lain. Coba kita koreksi cara kita, tujuan baik tetapi cara salah maka orang yang menerima juga akan salah persepsi.

Advertisement

Seringnya kita berlagak seperti kita yang memiliki kunci surga. Dengan mudahnya kita mencela atau nyinyir pada orang lain. Mana bisa seperti itu? Hal-hal baik harus disampaikan dengan cara yang baik pula, perhatikan kalimat yang kita gunakan. Apakah menyakiti orang lain atau tidak. Jika saat ini kita suah bisa lebih baik dari teman atau orang lain, bukan berarti diri kita berlaku seperti Tuhan.

Toh Tuhan saja masih memakai kalimat-kalimat yang baik dalam menegur manusia melalui kitab suci-NYA. Lalu bagaimana dengan kita?

Seharusnya kita memahami, sebelum berhijrah kita juga pernah belum sebaik saat ini. Kita juga pernah melakukan kesalahan.

Dari sini kita harus belajar, bahwa cara kita menyampaikan sesuatu menjadi point yang akan diterima oleh orang yang kita nasehati. Kita boleh mengingatkan tetapi dengan cara yang baik. Segala yang baik harus dilakukan dengan baik-baik.

Jika kita bisa menasehati tanpa mencela atau menyakiti hati seseorang bukankah itu lebih baik?!