Fenomena sosial media yang mengutamakan foto sebagai alat komunikasi utama merebak. Begitupula dengan penggunanya, mereka berbondong-bondong mendownload aplikasi itu bahkan tak jarang semuanya di-download. Kehausan menguplod foto semakin meningkat terlebih haus like dll. Mereka berusaha untuk mendapatkan foto-foto terbaik mulai dari makanan, minuman, tempat nongkrong, tempat wisata dan gunung.

Akibat ini, banyak tempat yang tereksplore menjadi tempat yang ramai dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penyebaran budaya dan hal positif lainnya, tetapi di balik hal positif selalu ada hal negatif. Seperti kerusakan dan sampah. Jika di kafe, restoran, atau tempat wisata yang dekat dengan pemukiman mungkin hal-hal tersebut akan mudah diatasi. Namun bagaimana dengan alam, gunung misalanya. Kerusakan kecil bisa berakibat fatal.

10 alasan agar kamu mikir ulang kalau mau naik gunung dibuat agar pendaki bisa siap terhadap semua pendakiannya. Apalagi kalau kalian anak mall yang lebih nyaman terkena AC daripada sinar matahari.

1. Naik Gunung Itu Capek

Serius deh, naik gunung (gunung bukan bukit) bukanlah piknik yang asyik, kamu harus berjalan dengan jalur menanjak yang gak bakalan tahu kapan ujung jalur itu. Selain jalur menanjak ada juga jalur bebatuan, tebing dan pastinya saat kita pulang kita akan menemukan jalur turun. Ya saat kamu naik kamu akan merasa jalur menurun itu adalah bonus tapi percaya deh, saat kamu pulang kamu akan sedikit benci dengna jalur menurun karena kamu harus mengunakan dengkul dan tumit untuk mengerem.

Advertisement

Begitulah manusia jarang bersyukur dengan apa yang sedang dihadapi. Karena perjalanan yang cukup jauh dan jalur yang beda dari jalur perjalanan kita biasanya, makan selama 3-4 hari kedepan kaki akan pegal-pegal di bagian paha, betis, dengkul dan bagian tulang hasta. Ada juga rasa seperti kapalan di telapak jempol kaki.

Selain pegal dibagian bawah tentu saja pegal dibagian atas juga, pundak dan punggung. Alasannya karena kita habis mengangkut beban yang cukup berat yaitu tas punggung kita sendiri. Gak mungkin dong naik gunung cuma pake waist bag atau sling bag kembang-kembang? Tentunya kita harus bawa keril atau daypack lah minimal. Ingat di gunung gak ada indoteet jadi kita harus bawa bekal.

Gak enak bro seriusan deh gak enak.

2. Gak Ada Kamar Mandi

Nah ini nih, mungkin kalau bagi cowok point ini gak terlalu penting, tapi buat cewek. Kamar mandi adalah sebuah surga dunia yang dirindukan ketika kebelet, mau ganti baju atau berkeringat. Mungkin kalian gak apa-apa kalau gak mandi 2-3 hari, tapi kalau buang air kecil? Setidaknya dalam sehari bisa dua kali lah, apalagi kalau dingin, Beuh bisa bulak-balik kamar mandi to? Buat ciwi-ciwi cantik yang gak suka rempong pikirin lagi deh kalau alasan naik gunung kalian adalah foto keren kalian yakin mau buat jongkok di semak-semak. Kadang ada ulet, uler atau mata lelaki pengintip. Hiiiih

3. Makan, minum seadanya.

Sikap mandiri dibutuhkan , kita gak bisa kaya biasanya, yang anak rumahan dimasakain mama atau si bibi, yang anak kos tinggal beli ke warung. Disini kita harus masak makanan sendiri dengan resiko rasa ditanggung sendiri. Kebersihannya gak tahu, air yang diminum gak tahu higienis atau enggak pas proses pemasakannya juga ga ada yang jamin bersih atau enggak. Udah deh buat kalian yang banyak pilih-pilih gak bakalan bisa buat yang namanya makan di alam bebas kaya gini.

4. Gak ada sinyal dan listrik.

Buat anak gaul, kalian harus bersabar dengan masalah sinyal. Tidak semua provider memiliki jaringan luas, mungkin ada yang bisa dipakai buat smsan aja tapi gak menutup kemungkinan ada yang menjangkau untuk akses internet juga. Tapi ingat, kita harus berhemat batrai. Jadi sabar dulu ya buat posting-posting fotonya.

Jadi masih mau naik gunung kalau minim teknologi?

5. Harus Belajar Dulu

Ini nih kesalahan yang banyak dilakukan oleh pendaki jaman sekarang. Banyak dari mereka asal naik gak belajar dulu. Padalah sebenarnaya naik gunung ada ilmunya, mulai dari packing, mendirikan tenda, larangan menyalakan api unggun, pengaturan limbah sampahnya, aturan tidak boleh mendirikan tenda di berbagai tempat dan lain-lain. Yah pada faktanya banyak yang ngelanggar dan tidak terjadi apapun. Hello, apa perlu nunggu dulu terjadi, jangan tutup mata, banyak pendaki hilang, jatuh, meninggal dan lain-lain karena hal sepele seperti ini tidak dipedulikan.

Apalagi hal tentang api unggun, bisa terjadi kebakaran yang sering kita dengar pada musim kemarau setiap tahu. Dan jika tidak terjadi kebakaran bekas api unggun biasanya bisa jadi tempat pembuangan sampah bagi pendaki selanjutnya. Padahal kalau pendaki buang sampah di gunung siapa yang bakalan mungutin dan bersihin. Monyet? Monyet gak bisa mengurai sampah Maaan.

Pokoknya sebelum naik gunung pelajari dulu sifat dan karakteristik gunung itu. Mulai dari ketinggian, waktu tempuh, pos, sumber mata air, dan lainnya. Selain belajar tentang gunung kalian juga harus belajar tentang fisik dan mental sebelum naik gunung.

6. Bisa hilang di gunung

Sudah sering mendengar kejadian pendaki yang hilang? Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya keahlian pendaki dan hal yang tabu. Ah, entahlah perlu. Tidak bisa dipungkiri banyak pendaki hilang, padahal jalan setapak sudah ada.

7. Bisa Mati Di gunung

Kalau kamu tipe orang yang nekad, nantang dan tidak mau menerima masukan bisa jadi maut menanti di gunung. Kemungkinan buruk bisa terjadi diatas. Ada beberapa hal yang mengancam tubuh ketika pendakian seperti contoh umumnya hipotermia (kedinginan) dan hipoksia (kekurangan oksigen) mungkin juga sakit bawaan yang biasa terjadi asma, maag, darah rendah dll. Tidak ada dokter di atas.

Kemudian, ada juga penyebab bisa kehilangan nyawa saat mendaki yaitu saat kita tidak mengikuti aturan yang benar ketika mendaki, atau kita menyepelekan aturan-aturan itu, atau ketika kita menjadi tidak sopan kepada aturan yang jelas sudah ada. Intilah kalau kamu seorang pemula, naiklah dengan orang yang tepat, yang bisa mengajarimu.

8. Penyesalan Timbul di malam hari.

Saat malam tiba, saat tenda sudah berdiri dengan tegak, saat badan sudah berada di balik sleeping bag, saat lelah sudah mulai menyapa, saat esok adalah waktunya pulang. Terbesit pemikiran sedikit penyesalan kenapa mau naik gunung, memutar waktu tidak bisa besok adalah perjalanan berat menuju rumah dengan kondisi badan sudah pegal-pegal. Menangisi keputusan sendiri pun tak ada gunannya hanya langkah perlahaan yang dapat mengobati semuanya.

9. Banyak hewan liar dan makhluk liar lainnya

Nah kenapa tadi di atas disebutkan perlu mendaki dengan orang yang tepat, karena gunung bukan hanya milik pendaki tetapi ada penghuni asli di sini yang harus kita hormati.

10. Kulit pecah-pecah

Saat pulang dari gunung, ada masalah lain menanti, kulit kering. Sudah bukan hal baru, setiap pendaki yang pulang dari gunung akan mengalami kulit kering, pecah-pecah, lebih hitam. Ah jadi gak kece deh pokoknya.

Itulah sepuluh hal yang harus kamu tahu sebelum berani naik gunung. Kalau sudah membaca dan berani cobalah untuk mengubah pemikiran puncak adalah tujuannya dan foto keren adalah hasilnya berpikirlah bahwa naik gunung bertujuan menguji sampai mana batas kita, puncak bukan segalanya. Tetap menjaga alam ya.

Mendaki bukan sesuatu yang harus ditakuti, juga bukan sesuatu harus ditantang. Nikmatilah, Cobalah dan tetap menjaga apa yang harusnya dijaga. Maka kamu ingin kembali lagi mendaki sebelum langkah terakhirmu berakhir di kaki gunung.