Menjadi sarjana itu impian, istilah kasarannya batu loncatan – siapa sih yang hari gini nggak mikir jadi sarjana? Biar nyari kerja gampang, biar hidup lebih enak, biar temen nambah, dan ilmu juga luas, otomatis kalo sarjana lebih meyakinkan kan? (walaupun bu susi juga nggak perlu jadi sarjana biar meyakinkan) —- tapi biaya yang kian melangit buat para lulusan SMA baru juga jadi momok buat mau nglanjutin sekolah.

Sekarang, hitung aja berapa biaya per semesternya – minimal buat seharga salah satu universitas lokal per semesternya yang 700 ribuan dikalikan minimal semester adalah 8 semester sejumlah lima juta enam ratus ribu rupiah. Angka segitu kalo buat mereka yang kehidupannya pas-pasan juga udah nyesek banget. Itu jelas bukan angka yang dikit, kecuali perhitungan kita adalah cicil mencicil. Alias Kredit.

Tapi tenang aja, dengan segitu banyaknya biaya yang terus bertambah tiap tahun – jurusan yang tambah banyak – dan kampus yang kian menjamur, sudah pasti banyak cara buat ngakalin itu semua. Banyak jalan menuju Roma. Yang artinya, masih banyak cara buat kita biar bisa tetep kuliah es satu, es dua, bahkan sampai es tiga atau mau ngulang lagi sampe budeg dengerin dosen.

Biaya yang segitu banyak tadi masih bisa diakalin dengan cara yang nggak kalah banyaknya.

Apply beasiswa dalam atau luar negeri.

Ini nih yang sekarang lagi ngetrend di kalangan kita. Contoh amannya, kalo kalian emang siap bersaing – pinter, dan aje gile rajinnya, silahkan aja kalian coba apply beasiswa pemerintahan, non pemerintahan, atau perseorangan. Banyak sekali beasiswa jaman sekarang yang syaratnya tidak terlalu ketat, dan hampir sama kualifikasinya, minimal kalian punya toefl 500 aja udah.

Advertisement

Jadi, selain musti banyak baca – indikator kelulusan kita beasiswa adalah ya musti belajar dan fasih bahasa inggrisnya. Kasarannya, kalau kalian mau masuk suatu negara- musti pinter dulu bahasa ibunya kan? Opsi lain kalau kalian nggak suka bahasa inggris? Masih banyak negara lain yang syaratnya nggak saklek kudu bisa bahasa inggris, minimal kalian punya keahlian dan patut dibanggakan kemana-mana.

Jangan pikir yang apply beasiswa cuman buat orang nggak mampu. Banyak figur dari kalangan terkenal indonesia juga daftar beasiswa buat lanjutin sekolahnya ke luar negeri, gita gutawa yang kaya dan berprestasi saja juga ternyata memilih beasiswa sebagai langkahnya melanjutkan kuliah di s2? Apa kalian nggak kepingin juga?

Kerja part time.

Eits, jangan salah. Jangan dipikir kerja paruh waktu di dalam negeri sama dengan di luar negeri yang nggak ngeksis. Di luar sana, tiap kali liburan musim panas – justru mayoritas mahasiswa nya kerja paruh waktu buat ngisi waktu dan bisa buat jalan-jalan keliling dunia. Nah kita? Apa masih bisa diem aja liat mereka yang masih mau kuliah capek capek trus kerja paruh waktu bahkan buat main?

Dengan kerja part time, magang atau apalah, keutungan lain selain menabung adalah kita jelas punya pengalaman dan lingkungan baru selain kehidupan kampus, dan kita jadi tahu betapa susahnya nyari duit dan belajar buat nggak sembarangan berlaku hedonisme sampai pada waktu uang biaya masuk kalian mencukupi – ambil kuliah yang tidak berseberangan dengan waktu kuliah kalian.

Hampir di setiap kampus sudah punya kelas malam untuk mengantisipasi mereka yang sudah bekerja dan sibuknya minta ampun, biaya yang ditawarkan juga nggak nyekik gaji bulanan kalian. Ada yang mewajibkan biaya bulanan yang bisa dijangkau. Jadi kalian bisa tetep kerja ngumpulin duit, main, dan tetep kuliah. Hebat kan?

Menjadi anak berprestasi.

Jika kalian ternyata punya segudang prestasi, tapi masuk kuliah terpaksa dengan biaya sendiri, kalian bisa tetep mempertahankan prestasi itu untuk menarik para investor buat ngelirik kalian dapet beasiswa dari dalam kampus. Yaps, beasiswa berprestasi. Tiap kampus punya kebijakan tersendiri untuk itu, entah yang IPK tertinggi, mereka yang menang lomba, atau paling rajin apalah apalah.

Tapi yang jelas, setiap prestasi selalu diperhitungkan ke depannya. Salah satu contohnya, mereka yang dapet Nilai UN tertinggi hampir dipastikan selalu punya jalan tol buat masuk ke fakultas atau kampus favoritnya dengan keringanan biaya, bahkan dibebaskan dari semua biaya.

Belum lagi sekarang diterapkan lagi aturan penyeleksian nilai raport selama masa belajar, kebijakan baru lebih enak bukan buat kalian?

Menabung.

Ini memang bukan langkah efektif yang mau diambil dan dipilih banyak dari kita, karena memang kurang efektif. Tapi berhenti sejenak dari kehidupan sekolah memang kadangkala menyita niatan. Ambil cuti sejenak dari masa perkuliahan atau rehat sebentar setelah lulus SMA untuk menabung, mencari kegiatan yang menghasilkan uang, entah untuk bekerja – menjadi relawan namun diberikan imbalan, atau mencari pengalaman di luar sana untuk mengumpulkan pundi-pundi uang membayar uang kuliah yang tidak sedikit.

Sebagian dari anak-anak indonesia melakukan hal ini. Merantau, ikut bekerja dengan orang lain, magang, bahkan ada yang rela sengaja vacum dari sekolah hanya untuk mengambil materi lebih intens agar dapat diterima ke fakultas dan kampus yang diimpikannya. Intinya, niat yang benar dan kuat pasti punya jalan.

Minta ridho dari orang tua.

Yang terakhir, tapi bukan paling akhir – cara termudah sekaligus tersusah. Cara ngakalinnya gimana? Bikin kesepakatan sama orang tua apakah mereka ridho atau enggak dengan niatan kita. Itu hal yang paling penting yang harus anda lakukan, setelahnya? Urusan lain setelah dapat ridho orang tua itu nanti bakal menjadi urusan yang lebih mudah karena sudah pasti Allah bakal membantu memudahkan jalan kita.

Gimana enggak? Ajudannya udah oke kok, ya jalan ke Allah seharusnya lebih mudah. Kan Ridho Allah adalah Ridho orang tua.

Pada intinya kalian kelak tahu bahwa, memang banyak jalan menuju kesana – S1, S2, S3. Tergantung bagaimana kalian mengupayakan mimpi yang kalian punya. Penulis buku beasiswa di telapak kaki ibu, bahkan harus menunggu memiliki 2 anak dan umur yang bisa dianggap tidak muda lagi untuk melanjutkan kuliah s2. Tentu, bukan tergantung dari seberapa angka tabungan yang kalian punya, hanya saja – Tuhan memberi jalan bagi kalian yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Terlepas dari kata-kata saya yang panjang bahwa menjadi sarjana itu menggiurkan, sejujurnya saya tahu – belajar tidak hanya disuguhkan disana. dan urusan biaya hanya secuil dibandingkan pelajaran yang didapat disana.

Mari belajar!