Jika pada akhirnya manusia harus ditakdirkan untuk pergi. Mengapa Allah izinkan mereka datang?

Pada dasarnya kamu memang hanya ditakdirkan untuk mengajarkan ku arti kehilangan. Dan membiarkan aku belajar bagaimana sebenarnya perjuangan.Tau kah kamu, berhari-hari aku berjuang sendiri melawan rindu. Membiarkan gelap malam mengoyak-ngoyak kesendirian itu. Lalu pahamkah kamu tentang orang lain yang bertanya "bagaimana kabarnya, masih baik-baik saja kah hubungan mu dengannya?"

Apa kamu tahu bagaimana aku menjawab setiap pertanyaan orang lain yang menanyakan hubungan kita? Hubungan yang mereka bilang unik dan menarik. Sayang sekali mereka tidak tau bahwa sang lelaki pergi meninggalkan wanitanya dengan alasan jarak yang jauh. Terkadang aku tertawa sendiri, kenapa aku sebodoh itu membiarkan hujan terus menerus mengguyur hati yang hampir tandus itu.

Kenapa tak aku biarkan saja hati itu kering sekering-keringnya. Sampai aku bahkan orang lain sulit menggali kembali kenangan kita. Lucu memang, jika kamu membiarkan hati ku kering tapi ternyata orang lain ingin hati ku tetap basah. Ya! Memang harusnya tetap basah bukan? Karena nantinya aku akan membiarkan orang lain menanam cinta yang lain, lalu membiarkannya untuk tumbuh subur. Dan jika nantinya kamu datang lagi, cinta itu sudah menghalangi mu untuk kembali masuk.

Mungkin benar kata Ali bin Abi Thalib. "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia" Ya! Berharap pada manusia memang sangat pahit, bahkan sepahit kombinasi jus pare dan empedu.