Kenapa drama Korea? As simply as I can tell you, mungkin karena ya~ aku penggemar drama Korea. Tapi bukan berarti aku tidak suka dengan segala film atau karya dari anak negeri. Sebelum akhirnya jatuh cinta sama drama Korea aku sudah jatuh cinta pada film Indonesia bahkan sinetronnya. Tapi belakangan sudah mulai berkurang, kenapa? Karena sinetron di Indonesia idenya sudah mainstream banget ; benci-bencian terus jatuh cinta, jatuh cinta dari awal nggak direstuin, kisahnya mbulet di situ tanpa ada konflik yang greget. Kalau untuk film Indonesia sih aku masih suka jatuh cinta. Oke let me to show 'bout my trully opinion. Just for opinion no judgement.  

Mari bicara soal genre 

1. Kedokteran (medical)

Rasanya jarang banget melihat sinetron Indonesia yang concern untuk dunia kedokteran. Bukan berarti nggak pernah nyentuh genre ini sama sekali lho. Tapi biasanya seringkali genre ini hanya jadi 'bumbu pelengkap' dalam drama kayak krupuk dalam nasi gorengmu. Contoh yang pernah mengangkat genre ini adalah film "Surat Kecil Untuk Tuhan" meski sense of medicalnya hanya berupa penjelasan penyakit yang diderita oleh si tokoh, but itu menurutku sudah keren banget. 

Di Korea sana pun juga pasti susah nyari drama yang pure untuk kedokteran. Karena pasti ada genre campuran seperti romance, fantasy, comedy bahkan thriller. Tapi setidaknya drama yang memilih genre ini, mereka konsisten untuk menampilkan bidang medis. Contoh : Good Doctor, Doctor Stranger, Medical Top Team, D-Day, dll. 

Advertisement

Memang sepertinya untuk pembuatan drama seperti ini akan menelan biaya banyak karena setting tempat, sewa peralatan dan biaya lain. Kayaknya keren juga kalau idenya sedikit 'dibelokkan', mungkin ke masalah medis kejiwaan (psikologi). Ngurusin psikologi kayaknya  nggak terlalu makan banyak biaya. Contohnya seperti drama Korea It's Okay That's Is Love atau Kill Me Heal Me. 

Bayangin deh betapa kerennya kalau sinetron Indonesia coba untuk menggarap genre ini. Mungkin bisa fokus ke psikologi orang-orang yang tertekan karena suatu keadaan misalnya, ekonomi, bullying, stres karena pekerjaan. Kira-kira judulnya apa ya?!

2. Sejarah (hystorical, sageuk

Envy banget kadang kalau ngelihat drama Korea dengan genre ini. Mereka bisa sangat suka dengan sejarah mereka. Memang sih ada juga dulu sinetron Indonesia yang terjun ke genre ini, sebut saja Angling Dharma dan Tutur Tinular. Tapi seiring berkembangnya waktu, sepertinya genre ini mulai terlupakan. Padahal seharusnya cerita fiksi soal sejarah Indonesia itu beragam secara kan Indonesia punya banyak kepulauan dan cerita rakyat yang banyak. 

Poin yang bikin jatuh cinta sama drama sejarah adalah kemampuan drama untuk mengajak penonton hanyut dan merasakan bagaimana kisah sejarah itu dimulai. Pasti ada juga beberapa orang yang belum paham bagaimana sejarah bisa terjadi. Seperti masa kerajaan Goryeo rasanya bisa juga sih diterapkan di drama Indonesia, misalnya soal Kerajaan Majapahit. Atau tentang Ttokkaebi (Goblin) yang di Indonesia sendiri misalnya kita punya Gajah Mada. Soal pejuang-pejuang Indonesia juga sepertinya keren untuk dibuat sinetron. 

3. Thriller, Action, Spy atau Militer.

Genre ini memang sudah sukses banget diangkat jadi film layar lebar Indonesia. Sebut saja The Raid, The Killer, Modus Anomali dan lain sebagainya. Tapi kalau dibikin sinetron pasti bakalan keren banget. Untuk masalahnya sih nggak perlu yang terlalu rumit. Mungkin menceritakan satuan unit Kepolisian Indonesia tentang menumpas beberapa kejahatan seperti pembunuhan, pencurian atau jadi mata-mata. Mirip-mirip sama The K2, Healer, atau Signal. Kan keren jadinya.

4. Politik (politic)

Genre ini mungkin akan menjadi sensitif di sebagian masyarakat. Tapi kalau kita bisa mengemasnya dengan baik, rasanya politik ini cukup keren untuk jadi genre suatu sinetron. Politik kan ngga melulu soal partai politik saja. Bisa saja masukkan soal kehidupan pengacara, jaksa para aktivis masyarakat juga keren kan. Misalnya mengangkat kasus tentang korupsi di suatu badan lembaga atau yang lain.

5. Sekolah, Cinta Remaja (school, youth romance)

Di Indonesia kalau urusan sekolah, rasanya ngga pernah lepas dari yang namanya cinta-cintaan. Di Korea juga sih, tapi bisanya kalau mereka memang ambil genre ini biasanya mereka akan konsisten untuk menampilkan konflik-konflik yang antara penghuni sekolah. Contoh kerennya ada Master God Of Study. Juga ada tentang sekolah musik seperti Dream High, Monstar dan lainnya. Dulu sih rasanya pernah ada di Indonesia sinetron seperti ini tapi nggak bertahan lama. 

6. Fantasi (fantasy) 

Nggak ada salahnya kok Indonesia menggunakan genre ini untuk sinetronnya. Buktinya dulu Saras 008, Panji Manusia Millenium juga sukses-sukses aja kan. Drama fantasi ini seperti drama yang ngga ada tuntutannya, para penulis skenario merasa bebas mengkespresikan idenya. Tapi jangan terlalu nggak masuk akal juga sih.

7. Kehidupan sehari-hari (general romance)

Ini mungkin merupakan genre yang paling banyak diambil sama pembuat sinetron. Cerita tentang kehidupan sehari-hari. Nggak salah sih. Keunggulan cerita kehidupan sehari-hari itu adalah karena ceritanya sangat dekat dengan kehidupan kita sehinga membuat kita mendalami alur yang diciptakan. Tapiiiii kalau misalnya alurnya terlalu 'ajaib' (baca : berbelit-belit, ngga jelas dan mengada-ada) nanti yang timbul malah rasa bosan. 

Kalau di general romance nya Korea biasanya sih mereka tetap mempunyai suatu kesimpulan atau misi atau kenyataan yang bisa ditarik di bagian ending. Contoh general romance yang cukup keren di drama Korea itu seperti Shopping King Louis, High Society dan lain-lainnya. 

Coba mulai sekarang perhatikan juga untuk : 

a) Durasi per tayangan 

Drama Korea setiap episodenya ngga pernah tuh tayang sampai dua jam lebih. Mentok banget di satu setengah jam.

b) Waktu tayang

Please, jangan lagi ada striping di sinetron kita. At least, mungkin ini cuman pendapat aku sih. Entah kenapa sedikit nggak suka aja sama sinetron yang tayang tiap hari. Karena apa? Karena ada saatnya si penulis skenario pasti merasa bosan dan mungkin kehabisan ide. Dan akhirnya malah membuat alur yang kurang greget. Pernah ngga sih, dalam satu hari kamu melihat sinetron selama dua jam tapi nggak ada info apa-apa? Kalau aku sih pernah. Dan itu yang ngga pernah aku rasakan saat nonton drama Korea. Plot mereka itu lugas, nggak bertele-tele dan penuh pesan yang bisa kita tarik. 

c) Penokohan

Kalau di Indonesia, sinetron tentang Adinda dan Anandhi misalnya pasti akan meleber kemana-mana, nyeritain tetangganyalah, sepupunya, saudara tiri dan macem-macem. Dan itu yang akhirnya buat kita bingung menentukan siapa sih Lead Male dan siapa Lead Female. Porsi figuran pun kadang jadi kurang penting dan nggak penting. Tapi kalau dari drama Korea, sekilas lihat aja kita bisa lihat siapa pemeran utama, siapa figurannya. Mereka juga cuman fokus untuk menyorot penokohan-penokohan yang terkait dengan Lead Male atau Lead Female.

Sebenarnya sih sah-sah saja untuk mengadaptasi atau mengadopsi ide selama itu bukan bentuk plagiarisme. Kalau istilah kerennya sih inspired by, hehehe. Dan sebagai penikmat~penikmat lho ya, bukan film expert aku masih berharap semoga perkembangan sinetron di Indonesia lebih maju lagi.