Setiap manusia di bumi ini, pasti pernah ngerasain yang namanya 'Patah Hati'. Omong kosong kalo lu bilang ga pernah. Karena jujur, gue yang laki-laki, pernah ngerasain yang namanya patah hati. Sebenernya banyak hal yang bisa dinominasikan dalam kategori 'Patah Hati' ini, contoh :

Seorang anak yang sedih karena ga dibeliin mainan baru tiap kali jalan ke mall *padahal dirumah udah setumpuk mainan*.

Seorang pelajar yang sedih karena dapat rapor merah.

Seorang karyawan yang dibentak oleh atasan karena hasil kerja kerasnya tidak memuaskan hati atasannya.

Dan terlebih, seorang yang patah hati karena ditinggal oleh calon belahan jiwanya karena alasan tertentu.

Advertisement

Semua contoh diatas, kita semua pasti pernah ngalaminnya. Tapi tanpa kita sadari, semua pasti bisa terjadi karena ada sebab. Ga mungkin ada asap kalo ga ada api. Anak kecil tadi yang nangis karena ga dibeliin orangtuanya mainan, mungkin karena maksud baik orangtuanya yang tidak ingin memanjakan anaknya. Kalau dipikir-pikir, masa tiap kali pergi ke mall, harus beli mainan? Bisa-bisa rumahnya jadi mall khusus mainan nantinya.

Seorang pelajar yang sedih ngeliatin rapornya. Jika rapor merah, pasti ada sebabnya. Mungkin siswa itu tidak fokus. Fokus terhadap pelajaran, fokus terhadap guru, atau bahkan fokus terhadap tujuan sekolah. Dan seorang pelajar harus patah hati, karna mungkin, dengan ia mendapat rapor merah, ia akan membuat orang lain patah hati juga. Orangtua. Banyak lagi kejadian-kejadian yang membuat kita, manusia patah hati. Terlebih lagi dalam hal 'cinta'. Perkara inilah yang paling sering dialami oleh manusia baik anak kecil, sampai orangtua.

Belajar dari kisah 'manusia setengah salmon'-nya Raditya Dika, gue banyak ngambil pelajaran dari tulisan dia, terutama tentang 'perpindahan'. Tiap kita pasti pernah ngalamin sedih saat harus pindah kelas waktu naik kelas. Kita harus ninggalin suasana kelas yang udah nyaman buat kita, ketemu sama teman-teman baru, dan beradaptasi lagi dengan kelas baru. Tapi perpindahan itu mutlak harus kita jalanin. Pindahan rumah, rumah adalah tempat yang harusnya nyaman buat kita, karena rumah adalah tempat kita berlindung, tempat kita bersenda gurau dengan orang yang kita sayangi, orangtua. Tapi semua akan terasa berat kalo kita harus ninggalin rumah lama demi nempatin rumah yang baru.

Suasananya pasti beda, kamar tidurnya, ruang tamunya, pintunya, terasnya, bahkan letak lemari penyimpanan mie instannya pasti beda. Tapi semuanya tergantung kita mau cepat beradaptasi atau ngga. Sama halnya dengan patah hati karena cinta. Seseorang yang baru patah hati bisa dipastikan akan ngerasa dunia bakal berakhir, baik dia cowo atopun cewe *situasi ini hanya berlaku bagi mereka yang bener-bener mencintai pasangannya*. Dia bakal menyendiri, pikirannya ga bakal fokus, lebih sering merenung.

Dia juga akan berpikir, dia ga bakal hidup tanpa mantan kekasihnya, dan saat itu, semua kenangan tentang kebersamaan mereka akan terlintas di otak manusia itu. Semua itu wajar. Semua itu normal. Karena patah hati adalah bagian dari seribu satu perasaan yang harus kita rasakan. Tapi akan ada fase dimana kita harus merelakan. Kita juga harus mengasihani diri kita sendiri. Kita harus berani melangkah.

Percuma kita menggenggam sesuatu yang semakin kita genggam, akan membuat hati kita sakit. Dan yang kita genggam itu adalah rasa tidak rela untuk melihat dia bahagia dengan yang lain. Kita harus berani pindah. Dan satu hal yang gue dapet dari cuplikan 'manusia setengah salmon' adalah, untuk jadi manusia super, kita ga perlu jadi super hero, kita hanya perlu menjadi manusia setengah salmon, hanya perlu berani pindah.

Percuma kita berlarut-larut dalam kesedihan, belum tentu orang yang kita tangisi memikirkan kita. Yang perlu kita ambil dari pengalaman pahit itu hanyalah hikmah, dan belajar menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Mungkin kita tidak bisa membahagiakan mantan kekasih kita, makanya kita ngalamin yang namanya 'diputusin'. Fase-fase patah hati akan ngebuat kita ngerasa terpuruk, tapi ingat, masih banyak tugas kita untuk membuat bahagia orang-orang disekitar kita. Masih banyak hal-hal yang harus kita kejar. Cita-cita dan impian. So, sekali lagi, patah hati itu wajar.

Semua kenangan tentang 'dia' ga bakal mudah kita lupain, semua tempat-tempat yang pernah kita kunjungin dengan si 'dia' juga akan membuat kita melayangkan memori tentang 'dia'. Biarkan waktu yang menyembuhkan luka hati kita. Sampai tiba saatnya kita siap menjadi 'manusia setengah salmon'-nya Radit, yang siap untuk berani pindah. Pindah dari kenangan pahit, menuju ke masa depan yang lebih cerah. Untuk semua hati yang pernah patah. From, Penulis.