Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun berkenalan, berteman dan bersahabat dengan banyak orang, terutama mereka yang sedang dalam masa ‘pencarian jodoh’ atau ‘penantian’, saya sering sekali mendapati pertanyaan semacam "kapan ya aku bisa ketemu the one?" atau pernyataan "aku lagi nunggu the one."

Saya percaya bahwa tidak ada yang namanya the one. Bukan hanya saya berpikir bahwa the one itu tidak nyata, saya juga bersyukur bahwa the one itu tidak ada.

Inilah mengapa saya percaya bahwa tidak ada yang namanya the one. Kita, manusia, ingin mempercayai bahwa di dunia ini ada the one. Salah satu alasan mengapa kita melakukannya adalah karena kita lebih menyukai hal- hal yang sederhana. Kita tidak menyukai ide bahwa bisa jadi ada banyak orang yang merupakan the one untuk kita, karena kita lebih menyukai ide bahwa hanya ada satu orang yang tepat untuk kita. Hal tersebut telah diajarkan kepada kita oleh film, buku, kolega maupun teman. Kelihatan simple bukan?

Karena jika hanya ada satu orang di luar sana yang memang benar-benar tepat untuk kita maka kita hanya perlu terus mencari orang yang semestinya sempurna untuk kita itu. Yang harus kita lakukan hanya duduk santai sambil menunggu. Dan seperti yang telah teman saya katakan, ketika the one telah hadir di kehidupan kita, maka seketika itu kita akan tau.

Ada alasan mengapa saya tidak menyukai konsep the one: Apa yang akan terjadi jika anda dalam hubungan dengan the one, dia ternyata mengkhianati anda dengan cara berselingkuh? Apa yang akan terjadi jika seseorang yang semestinya adalah the one tidak lagi menghargai dan menghormati anda atau bahkan memperlakukan anda dengan sangat tidak baik?

Advertisement

Maka akan ada orang-orang di sekitar anda yang berkata "pertahankan hubunganmu, kan dia the one." Yang merupakan nasehat yang sangat buruk menurut saya. Karena jika anda mempertahankan hubungan dengan orang yang seperti itu, maka kebahagiaan yang dibilang orang semestinya anda dapatkan dengan the one akan semakin jauh dari jangkauan anda.

Akan ada pula orang yang mengatakan "sudahi saja, berarti dia bukan orang yang tepat. Dia bukan the one." Yang pada akhirnya akan membuat kebanyakan orang terus menuerus mengakhiri hubungan yang mereka anggap ‘tidak sempurna’, mengakhiri hubungan dengan orang yang tidak bisa sempurna pada tiap harinya.

Kita hidup di masyarakat di mana kepercayaan bahwa kita akan menemukan the one telah ditanamkan sejak pertama kali kita mengenal kata cinta. Kemudian kita mempercayai bahwa suatu saat kita akan menemukan ‘orangnya’, dan ketika saat itu datang, hidup akan serasa begitu indah dan semua hal akan terasa menakjubkan. Kita mulai mempercayai bahwa kita berhak untuk mendapatkan the one. Menurut saya, disitulah letak permasalahannya. Kita tidak berhak mendapatkan sesuatu, tapi kita memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu.

Beberapa dari anda ketika membaca tulisan saya mungkin akan berkata bahwa takdir akan membawa the one kepada kita, mungkin pada saat itu kita akan mengalami cinta pada pandangan pertama. Sayangnya, menurut saya cinta pada pandangan pertama adalah bentuk cinta yang paling tidak romantis.

Jika kita percaya bahwa the one akan datang dengan keadaan yang sangat sempurna untuk kita, maka kita tidak akan perlu berjuang dalam suatu hubungan. Karena orang ini akan datang kepada kita dalam keadaan ‘siap’ untuk kita. Menurut saya, hal tersebut sangat aneh.

Ide bahwa saya bisa melihat seseorang untuk pertama kalinya dan kemudian seketika saya tahu bahwa orang tersebut tepat untuk saya, tanpa dia harus melakukan apapun untuk saya, dan saya dengan begitu saja tahu bahwa dia orang yang tepat adalah hinaan bagi seluruh hubungan yang telah bertahan bertahun-tahun.

Bandingkan saja dengan pasangan yang telah menikah dan bertahan selama puluhan tahun, di mana mereka telah melakukan banyak hal untuk satu sama lain, berjuang dan bahkan berkorban untuk pasangannya menurut saya jauh lebih spesial dan romantis.

Bagi saya, hubungan yang indah itu dibentuk, bukan ditemukan.

Hidup lebih baik tanpa konsep the one. Karena jika pasangan memutuskan hubungan dengan kita, maka kita masih bisa keluar dan mencari orang lain. Bisa saja kita telah dipisahkan dengan pasangan kita oleh maut, namun tanpa konsep the one, kita masih mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk keluar dan mencari kebahagiaan lagi. Jangan sampai hal tersebut teradi kita, tapi jika memang terjadi, saya tidak ingin mengkhawatirkan mengenai the one dan bagaimana saya tidak akan lagi bisa bahagia tanpanya.

Jadi apakah semua orang bisa jadi orang yang tepat untuk kita? Tentu saja tidak. Ada beberapa orang yang mungkin tepat untuk kita, bisa jadi jumlahnya sangat sedikit. Tapi bukankah kesempatan kita untuk menemukan mereka jauh lebih baik daripada menemukan the one?