Luka yang kamu ciptakan belum kering bahkan masih terasa nyata saat aku membuka mata dan pesan yang aku tunggu tidak lagi ada disana. Berjam berikutnya aku habiskan dengan tawa tapi fikiranku melayang menuju malam itu , saat kamu memutuskan untuk menjauh dan aku sudah kehabisan tenaga untuk menahanmu. Ucapan selamat makan siang yang biasa kau kirimpun tak lagi hadir meskipun notifikasi pesan masuk tidak berhenti berbunyi.

Sore menjelang dan kudapati aku terdiam memandangi fotomu, satu-satunya yang tersisa sebelum kepergianmu.

Mereka yang tak tau , pasti tidak berfikir bahwa aku baru saja kehilangan orang yang berhasil mengikat hatiku hampir sewindu. Mereka yang tak mengerti , pasti tidak dapat melihat bahwa kepergianmu menyisakan luka menganga yang tak ku ketahui bagaimana akan sembuh. Lukanya terlalu basah untuk di keringkan dan terlalu dalam untuk didiamkan. Tapi sungguh , kali ini aku kehilangan daya untuk sekedar berfikir bagaimana cara untuk mengobatinya.

Kamu benci disalahkan. Karena sesungguhnya aku yang pergi.

Memang kamu yang akhirnya menjauh , tapi bagimu , akulah yang pertama kali pergi. Aku yang angkat kaki dari hubungan tak berujung ini , aku yang menghindar dari ajakanmu untuk bicara. Kamu lelah memaksa dan akhirnya mendiamkan. Jangankan kamu , kadang aku benci dengan diriku sendiri. Dengan apa yang selalu aku lakukan pada hubungan kita.

Aku mengacaukan apa yang kita punya. Aku menahanmu tapi tidak ingin ditahan. Aku mengikatmu tapi memaksa untuk di bebaskan. Kamu awalnya mengerti , memberi kebebasan untukku memilih. Makin lama kamu membenci dirimu sendiri yang diam tak berkutik setiap tuduhan itu aku tujukan. Lalu akhirnya kamu memilih menjauh , meninggalkanku yang merangkak untuk melupakanmu.

Kamu lebih sabar daripada aku. Karena tuduhan itu tidak pernah melunturkan perasaanmu.

Advertisement

Kamu tau kebiasaanku yang tidak pernah berubah , emosi selalu melunturkan kepercayaanku padamu. Emosi selalu jadi pemeran utama di setiap tuduhan yang ku jatuhkan padamu. Kamu tidak diberi waktu untuk menjelaskan , aku terlalu egois untuk mendengarkan. Lantas kamu diam. Diammu adalah tanda bahwa tingkahku memuakkanmu. Kamu diam dan membuatku salah tingkah.

Aku tahu kebiasaanmu yang tidak pernah berubah , diam selalu mengantarkan kita pada perpisahan. Diam adalah jalan terakhir yang kamu tempuh jika aku tak bisa di ajak bicara. Diam selalu menjadi ucapan selamat tinggal dalam pertengkaran kita. Aku akan terus mencercamu dengan berbagai tuduhan dan kamu hanya diam. Membuatku semakin salah tingkah dan akhirnya kamu pergi menjauh, meninggalkan kerusakan yang aku ciptakan di dalam hubungan kita.

Tadinya aku fikir tangisan itu akan hadir. Ternyata kamu begitu berarti untuk hatiku.

Aku tak ingin mengucap selamat tinggal , kamu terlalu berharga untuk dijadikan kenangan. Tapi aku juga tidak ingin memaksamu untuk bertahan. Kamu sedang ingin pergi dan aku melepaskanmu. Kamu sedang ingin menemukan hal baru yang tidak ada padaku dan aku memahamimu. Hanya saja aku kira air mataku akan mengalir seperti air hujan , aku kira tangisanku akan menemani malam tanpa kehadiranmu.

Ternyata aku salah. Kehadiranmu begitu berarti untuk hatiku , keinginan untuk menyimpanmu lebih tinggi daripada untuk mengenangmu. Mungkin itu alasan utama mengapa aku tak kunjung menangisi dirimu. Bukan karena aku menegarkan diri atau berpura-pura bahagia , tapi aku memang bahagia.

Aku begitu bahagia pernah menjadi bagian dari kebahagiaanmu. Aku begitu bahagia pernah berdebat denganmu tentang masa depan. Aku terlalu bahagia hingga lupa bahwa seharusnya aku merasa kecewa telah ditinggalkan begitu saja. Aku terlalu bahagia hingga lupa bahwa seharusnya aku merasa terluka karena dibiarkan berjuang sendirian. Tapi aku tidak merasa kecewa apalagi terluka.

Aku bahagia pernah diijinkan menjadi bagian dari kehidupanmu meski hanya sekejap waktu.

Kepergianmu tidak akan aku ratapi. Kamu bebas memilih. Kehilangamu tidak akan aku sesali. Aku bebas menyimpanmu dalam hati. Lebih baik begini , berpisah jalan namun berhenti menyakiti. Mungkin memang ini yang terbaik yang bisa kita usahakan. Kita tak mampu saling mengikat tapi tak ingin berjalan terlalu jauh dari satu sama lain. Maka keputusan ini yang kita ambil.

Jika suatu waktu nanti kamu menemukan tulisan ini , percayalah. Kepergianmu ku iringi dengan tawa , dengan senyum penuh doa agar kamu tetap bahagia dan selalu dalam penjagaannya. Maafkan atas segala tuduhan yang tercipta karena dikuasai emosi. Maafkan atas ketidak-dewasaan yang harus kamu hadapi selama bersamaku.

Untuk si sewindu yang menyerah (lagi) .