Awalnya memang tak mudah, seiring waktu akhirnya aku menyerah

Sempat aku menjadi makhuk teregois perkara hati. kusalahkan Tuhan kenapa harus aku yang mengalami. bertahun aku mempertahankanmu dengan peluh tanpa keluh. Kini tak lagi berarti karena hadirnya dia yang mengobrak-abrik kokohnya jalinan dua hati. Dia yang datang tanpa permisi merenggutmu dari sisi. Seakan perjuanganku sudah waktunya diakhiri. kupaksa menyerah meski dalam amarah.

Waktu berlalu namun ingatan luka itu masih tertancap kuat bak sembilu.

Sekarang, aku hanya berdamai dengan waktu. Mencoba maafkan dan lupakan sakitku. Satu waktu aku bertemu dan berbicara dengan hati kecilku. Akankah terus menyiksa diri dengan mengorbankan senyum yang seharusnya selalu melekat di bibir menjadi sebatas ilusi. Hah, mulai detik ini namamu akan terdengar biasa. Sosokmu kuanggap seonggok luka yang tak boleh kuijinkan bersemayam dalam dada. Cukup saat ini, dan kusingkirkan kau dari hati.

Ku percaya, yang baik akan menjaga cinta…bukan merusaknya.

Mulai hari ini kuputuskan mengikhlaskanmu pergi. Bukan hal mudah menata kembali ruang yang telah lama terisi olehmu dan kenangan saat denganmu. Kurapikan ruang itu mungkin nanti untuk sosok baru yang akan lebih menjagaku, menghargai dan bersyukur dipertemukan denganku. tentang itu, aku percaya Tuhan akan berikan ganti yang lebih baik bagi orang yang baik pula.

Kehilanganmu kini tak kusesali, justru ku syukuri segenap hati.

kehilanganmu memang bukan perkara mudah, tapi darimu aku belajar banyak hal. Dimana semesta akan menjauhkan keburukan dari kebaikan yang terus dijaga. aku berterimakasih padamu. Yang menjadikanku kuat menerima segala takdir Tuhan. kehilangan yang menjadikanku dewasa. Kehilangan yang membuatku bersyukur bahwa Tuhan terlalu menyayangiku sehingga Dia menjauhkanku dari cinta burukmu. Terimakasih banyak untukmu. Sosok yang sama yang menggurat luka.