Sejak pertama kali melihatmu aku merasakan sesuatu yang berbeda pada perasaan ini, entah itu apa namanya namun aku sungguh tak nyaman. Seberapa besar usahaku untuk menyingkirkan rasa ini, maka perasaan itu semakin menjadi dan melekat dalam setiap memori ingatanku. Aku adalah orang yang tak percaya pada ungkapan "cinta pada pandangan pertama" namun melihatmu, perlahan aku dipaksa untuk mempercayainya. Aku masih ingat saat pertama kita bertemu, waktu itu kita berada di dalam ruang kuliah dan kebetulan kita mengambil mata kuliah yang sama. Entah kebetulan atau tidak saat dosen membagi kelompok untuk tugas akhir, aku mendapat kelompok yang sama denganmu. Namun saat itu tak ada perasaan apapun kepadamu, aku hanya berpikir semoga kita dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik dan mendapat hasil sesuai dengan apa yang diharapan.

Semenjak saat itu pertemuanku denganmu cukup intens, walaupun ada beberapa teman kelompok yang ikut serta karena kita masih membicarakan tugas akhir yang diberikan oleh dosen. Perbincanganku denganmu hanya seputar tugas, tak ada yang lain. Kadang diselingi oleh canda tawa karena membicarakan lelucon yang dilakukan oleh teman-teman kelompok kita, minimal untuk menghibur kita dari kejenuhan mengerjakan tugas. Waktu berlalu, hari demi hari dan tak terasa sudah sebulan kita bekerja sama rasanya ada getaran dalam hati yang berbeda saat menatapmu. Kadang aku mencuri-curi pandang ketika mengerjakan tugas bersama, karena aku tak cukup berani untuk menatapmu apalagi memulai percakapan denganmu. Aku sungguh tak cukup berani, seakan ada sesuatu yang menahan keberanianku.

Semakin hari rasa ini selalu menggangguku, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari dirimu. Jujur sebelumnya aku tak pernah tau apa itu cinta, "namun apakah ini defenisi cinta?" sesuatu yang abstrak dan sangat sulit untuk dijelaskan. Sejak saat itu aku mulai memperhatikanmu walaupun dalam diam, akupun mulai peduli denganmu dengan selalu memberikan perhatian minimal menanyakan kabarmu hari ini, ya itulah yang saat itu aku bisa lakukan karena aku tak tau harus berbuat apa. Namun kelamaan aku menangkap sinyal, bahwasanya dirimu tak pernah ada rasa yang sama kepadaku, kau menganggapku tak lebih dari sekedar teman kelompok saja. Akupun tak berani mengungkapkan rasa itu karena tentu aku berpikir tak ingin merusak pertemanan ini hanya demi keegoisanku semata.

Hubunganku denganmu ibarat sebuah rel kereta, mereka selalu berdampingan dan beriringan. Namun kita tak akan pernah melihatnya bersatu. Bagiku ada disampingmu saja aku sudah cukup membuatku bahagia, aku berharap hubungan kita tidak hanya sampai tugas kelompok saja namun kita masih tetap berteman. Bersama tak harus selalu saling mencintai, bersama karena rasa peduli satu sama lain juga bisa kita lakukan. Toh apalah arti dari sebuah "status" jika kita selalu berdampingan dalam suka dan duka layaknya sebuah rel kereta. Percayalah tak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan berkehendak kita akan menyatu walaupun tidak untuk saat ini.