Aku ingin menikah. Nanti.

Nanti ketika umurku sudah 24 atau 25 tahun mungkin. Nanti ketika pendampingku sudah mapan dalam bekerja dan aku sudah berpenghasilan cukup untuk membantunya berjuang dalam hidup. Aku ingin segera mengenakan baju pengantin, berwarna merah tua atau biru muda. Ah, warna pink juga lucu. Baju pengantinku nanti tak perlulah yang mewah, asal aku terlihat anggun memakainya pun sudah cukup. Nah, untukmu, bagaimana kalau berpeci saja daripada berblangkon? Ya aku tahu kita sama-sama orang Jawa, tapi ayolah, peci lebih membuatmu terlihat menarik di mataku karena hanyalah imam yang pantas mengenakannya. Aku jarang membayangkan bagaimana nanti kita akan duduk di panggung dekor pengantin. Percakapan apa yang akan kita bahas untuk mengisi kekosongan waktu sembari memandangi tamu undangan yang sedang menikmati hidangan. Apakah aku akan bertanya kepadamu, “Ah, apakah itu teman-teman kuliahmu?”, “Siapa namanya?”, “Oh, dia sudah menikah?”. Atau mungkin kamu akan bertanya padaku, “Mereka keluarga jauh dari mana?”, “Oh, itu yang dulu di reuni waktu itu?”, “Wah, sudah besar ya anaknya.”

Namun, yang sering aku bayangkan adalah bagaimana prosesi temu kita nanti.

Apakah aku akan melempar daun sirih dengan tepat di dadamu? Apakah kamu akan tepat melempar juga di dadaku? Mengingat filosofinya adalah mengenal satu sama lain. Mungkin dengan begitu aku bisa menebak ada apa gerangan hati yang di balik dadamu, juga sebaliknya. Kamu akan menginjak telur mentah, kemudian kakimu kau angkat dan aku bersimpuh untuk mencuci kakimu itu dengan penuh sayang. Kata orang, dengan begini berarti sebagai istri aku akan tetap menyucikanmu dari segala kokotoran yang mungkin kau dapatkan, akan kubilas apapun kegelisahan yang menaungi pikiranmu, juga hatimu, kelak hidupmu. Seorang ayah harusnya membawa kain dan menarik kita di belakangnya. Namun, bapak sudah tiada dan hanyalah ibuk yang mungkin akan menarik kita, membimbing menuju kebahagiaan. Demi Allah SWT, bagian mana dari sebuah adat pernikahan yang paling menyentuh hati selain bagian ini? Siapa yang mungkin akan mendorong kita? Kakakku dan suaminya kah, sayang? Ya, mungkin. Aku masih dapat mengingat bagaimana proses adat sindur binayang di pernikahan kakakku. Bagaimana bapak menarik kakakku dan suaminya. Bagaimana bapak sembari tersenyum dan separuh menahan haru harus menikahkan putrinya dengan laki-laki yang beliau restui. Jujur aku sedih jika harus membandingkan jika di hari pernikahanku nanti, bapak tidak lagi hadir sebagai yang membimbing kita, tetapi dalam hatiku aku yakin, bapak akan selalu membimbing kita. Nantinya, ibuku akan kita pangku bersama. Di situlah makna restu hadir senantiasa melengkapi pernikahan kita. Dalam pangku, ibuku siap kita rawat bersama, kita temani bersama, kita angkat bersama, kita layani bersama, dan kita sayangi bersama. Bagaimana perasaanmu nanti? Gugupkah? Setelah ibuku berlalu dari pangkuan, nantinya kau akan menghadiahiku terjunan beras-beras kecil sebagai simbol bahwa kau siap menafkahiku setelah hari itu. Kugenggam rezeki itu kuat-kuat dan kusimpan untuk bekal kita nanti. Ah, tunggu. Tanganmu turut serta menggenggamnya, membawaku bersama-sama menuju ke orangtuamu. Kau tunjukkan pada mereka bahwa inilah jerih yang sudah kau lalui untuk membahagiakan hidupku. Bahwa tetaplah pada ibumu kamu menghaturkan hormat tertinggi dan kepadamulah hormatku tertinggi. Dalam bayanganku kemudian berjalan mereka yang muda dan mudi, yang berkenan membawakan kita sepiring nasi dan dua gelas air. Aku tahu kita sama-sama lapar dan sama-sama haus nantinya. Kita saling menghaturkan gelas berisi air putih segar, kita minum bersama-sama karena jika kau haus aku haus dan jika hilang hausku maka kau pun harus hilang hausmu. Lalu terima kasih telah menyuapiku makanan terlezat yaitu dari nafkahmu, juga kugantikan kau kusuapi karena aku tahu kau sudah lelah bekerja untuk keluargamu ini. Suatu hari nanti di pernikahanku, pernikahan kita. Kau genggam tanganku dan kau bawa aku ke orangtuaku untuk kita cium kaki mereka. Lalu kau bawa aku ke orangtuamu juga untuk kita cium kaki mereka. Kita saling mengajari bagaimana harusnya kita tetap menghormati mereka dan membanggakan mereka. Sudah cukupkah selama kita masih sama-sama bujang mengabdi untuk mereka? Rupanya belum cukup, rupanya surga masih di kaki ibu kita masing-masing, rupanya dosa yang dulunya menjadi beban ayah kita masing-masing haruslah kita balas dengan pahala yang melimpah untuk beliau. Juga ayahku, yang insyaAllah akan kita peluk bersama di surga nantinya kita akan tuju setelah wafat bersama.

Aku ingin menikah. Nanti.

Advertisement

Nanti ketika umurku sudah 24 atau 25 tahun mungkin. Nanti ketika kau sudah mapan dalam bekerja dan aku sudah berpenghasilan cukup untuk membantumu berjuang dalam hidup. Lantas kapan? Pejamkan matamu dan tanyakan pada hatimu. Mungkin aku belum siap hari ini, tapi paling tidak aku ingin meyakinkanmu bahwa di hari pernikahanku nanti, aku ingin kamu yang ada di sampingku, sebagai imam yang akan membimbing hidupku ke depan. Amin. Kutitipkan seribu harap.