Kita memang bisa memilih dengan siapa kita menjatuhkan hati. Tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa kita benar-benar menjatuhkan hati sedalam-dalamnya. Dan itu yang terjadi.

Awalnya dia hanya seseorang yang kutahu. Awalnya menoleh pun tidak. Dia hanya seseorang yang kutahu, rasa-rasanya tidak akan mungkin berhubungan dengannya. Toh buat apa juga? Orang-orang di sekelilingku saat itu kurasa sudah cukup membuat bahagia. Sepertinya tidak akan berhubungan. Tidak lagi.

Ternyata dia bukan seseorang yang kutahu lagi. Lambat laun, mau tidak mau, dia menjadi semakin dekat. Dia menjadi semakin dekat dan bersinar. Awalnya yang kupikir dia takkan bisa "memberiku" apa-apa ternyata malah mampu "memberiku" secara berlebih. Melebihi apapun yang bisa kau pikirkan.

Dan ternyata aku mulai nyaman. Nyaman dengan "pemberian" yang sangat-sangat membuatku nyaman. Tapi lupa bahwa kita juga harus memberi. Bahwa ternyata dia juga mengharapkan "pemberian". Dan ternyata ada yang lain yang bisa "memberikan" apa yang dia ingin terima. Dan bodoh.

Setelah itu ketika yang lain mulai berhenti "memberi". Ketika aku sudah mulai belajar bahwa aku juga harus "memberi". Ketika jarak tidak lagi beribu-ribu kilometer, ternyata tidak semudah itu.

Advertisement

Kini aku (ingin) menunggu. Ternyata ini tidak mudah. Saat ini kita "iya", namun besok "tidak". Dan itu terulang lagi. Terus terulang. Bahkan ketika aku mulai "dilupakan" akan dengan mudah aku teringat lagi. Terulang lagi. Lagi. Lagi. Begitu banyak hal yang dengan mudahnya membuat ingat. Dan itu sebenarnya menyiksa. Tapi di dalam sedalam-dalamnya hati aku ingin menunggu. Di dalam sedalam-dalamnya hati aku merasa bahwa "iya" itu masih ada. Lalu kini apa? Aku (ingin) menunggu…