Aku tak pernah menyesali telah bertemu denganmu. Hanya saja ketika kamu hadir, aku tak lagi sendiri. Begitu juga dirimu. Kamu memberikan warna yang kubutuhkan dalam menjalani hidup. Aku, kamu, kita menunggu. Menunggu untuk berjalan masing-masing.

Kini aku telah sendiri. Tapi tidak denganmu. Kamu bermulut manis. Kamu umbar semua janjimu. Tahukah kamu? Aku tak ingin janjimu. Aku butuh buktimu. Aku ingin kamu di sini, di sisiku seutuhnya. Aku tahu tak semua inginku adalah yang kubutuhkan. Tapi dapatkah kamu mengabulkannya untukku? Aku tak sanggup bila selamanya menjadi yang kesekian di hatimu.

Kamu datang hanya saat kamu bosan dengannya. Saat kamu hanya membutuhkanku. Sekian lama aku bersabar, berharap kamu mengerti. Kamu jadikan aku satu-satunya dalam hidupmu, bahkan nyatanya masih banyak wanita yang mengelilingimu. Tidakkah kamu lelah hinggap ke sana kemari? Tak inginkah kamu pulang untuk melepas penatmu dan berhenti mencari di arena permainanmu? Atau aku bukan rumah yang kau tuju?

Aku tetap mencoba bertahan, entah karena cinta atau egoku. Aku masih berharap agar kamu menjadi yang kuinginkan. Aku, kamu, akankah menjadi kita selamanya?