Cinta itu adalah sifat dasar manusia yang sudah ada sejak manusia pertama diciptakan. Dalam perkembangannya cinta itu banyak menimbulkan moment yang indah tapi tak jarang menimbulkan tragedi yang memilukan. Seperti kisah cintanya shah jehan dan mumtaz mahal yang dibuktikan dalam sebuah monumen fenomenal Tajmahal di india atau kisah Qabil yang tega membunuh sadaranya Habil hanya karena cintanya tak sampai. Kecewa karena cinta memang menyakitkan dan tak jarang menganggap orang yang menyakiti sebagai seorang penjahat yang tak patut untuk diampuni.

Mencintai seseorang itu bukan tanpa resiko, pasti selalu ada resiko salah satunya adalah kecewa. Kecewa karena pasangan memutuskan untuk tidak melanjutkannya hubungannya. Kondisi itu tak jarang membuat kecewa berubah jadi kebencian. Kebencian tersebut menimbulkan kesimpulan bahwa “orang yang sudah mengecewakan tak boleh diberikan kesempatan lagi”. Bila kita berpikir seperti tadi, kita hanya melihat cinta dari satu sudut pandang saja. Kita melihat bahwa cinta harus melulu ada setiap saat, tuntutan ingin selalu diperhatikan dan tak pernah membuat kecewa. Cinta seperti itu namanya cinta yang egois.

Orang yang memiliki cinta egois hanya memikirkan dirinya sendiri, bila dirinya merasa tak diperhatikan dia akan protes dengan berlebihan dan menuntut pasangannya agar memperhatikannya. Bila dia disakiti dia akan mengklaim bahwa dirinyalah korban yang paling layak dikasihani tanpa memikirkan alasannya..

Contoh kasusnya adalah saat seseorang seirus menjalani hubungan sampai bersepakat melanjutkannya ke jenjang pernikahan. Namun tanpa diduga si pria membatalkan hubungan ini karena jika diteruskan banyak faktor teknis dan non teknis yang akan membuat hubungan mereka tak akan tenang dan kemungkinan besar akan karam. Akhirnya si pria bersikap seolah membenci perempuan dan memaksa si perempuan melupakannya.

Kesimpulan banyak orang adalah si pria tidak pemberani, si pria pengecut, bahkan si pria pecundang. Memang tak ada salahnya berpendapat seperti itu. Namun kenapa kita begitu egois memandang dari satu sudut pandang akal? kenapa tidak berbaik sangka. Mungkin saja si pria melakukan itu karena sangat mencintai si perempuan. Lho kok bisa? membenci adalah salah satu cara (atau mungkin satu-satunya) supaya perempuan itu terbebas dari beban, terbebas dari bahaya yang bisa mengancam hidupnya atau menyelamatkan dia dari orang-orang yang membencinya.

Advertisement

Tidakkah kalian rasakan cinta seperti apa ini? cinta yang ikhlas, cinta yang tulus, sampai harus membencinya karena sangat mencintainya. Sayangnya tak semua orang paham situasi seperti ini. Orang yang mempunyai cinta seperti ini tidak memperdulikan lagi cintanya pergi yang terpenting dai bahagia.

Pepatah berkata Cinta memang tak harus memiliki, karena bagi orang yang berbuat seperti ini adalah cara menyelamatkan kebahagiaan pasangannya, walaupun sangat menyiksa untuk dirinya. Lebih ekstrimnya cinta yang sangat besar itu dia ekspresikan dengan cara membenci.

Kita harus jeli melihat orang-orang yang seperti ini karena sangat jarang ditemukan. Justru orang-orang seperti inilah yang bisa membuatmu bahagia di masa depan nanti dan bangga pernah berdekatan dengannya. Dan orang yang memilih cara seperti ini akan mengenang pasangannya sampai akhir hidupnya.

Karena … dia melihat cinta bukan sebagai kata sifat yang harus ada pada setiap manusia justru dia memandang bahwa cinta adalah sebuah kata kerja yang harus dibuktikan dengan perbuatan walaupun perbuatan mencinta itu adalah sebuah kebencian.

Aku tak tau apa yang terjadi Antara aku dan kau Yang ku tau pasti… Ku benci untuk mencintaimu… (dipopulerkan naif: benci untuk mencinta)