Sosial media di jaman sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Mulai dari bayi sampai lansia, semuanya sudah memiliki akun sosial media. Update status, upload foto sampai mencari teman hidup dilakuin di sosial media.

Demi mendapatkan like, mendapat perhatian dan kasih sayang, dan juga demi mendapatkan uang.

Semuanya sah-sah saja, tidak ada yang melarang dan tidak ada yang keberatan, sosial media memang menjadi salah satu wadah untuk bercerita, mencurahkan isi hati, dan show up kelebihan-kelebihan yang dimiliki.

Yang dilarang adalah bila penggunanya menjadikan sosial media untuk mencari teman kencan sementara dirinya sendiri sudah memiliki pasangan resmi (menikah).

Seperti kata orang bijak “lakukanlah semua yang ingin kau lakukan di masa muda”, bila kita memaknai nasihat tersebut maka berarti kita sudah tidak sepantasnya melakukan apa yang biasa anak muda lakukan di masa tua kita, contohnya flirt to the other guy or girl.

Advertisement

Menjadi playboy atau playgirl di masa muda tidak akan ada yang melarang, bahkan bisa dimengerti sebagai sesuatu yang wajar karena memilih pasangan hidup harus selektif,

Tetapi bila menjadi playboy atau playgirl di masa tua dengan keadaan sudah memiliki pasangan resmi apa masih pantas disebut wajar?.

Menjadi alay di masa muda tidak akan terlihat janggal, karena masih bisa dimengerti sebagai pencarian jati diri, tetapi menjadi alay di masa tua apa masih pantas disebut sebagai pencarian jati diri?.

Bila kita amati dan teliti lebih jauh lagi, pengguna social media saat ini didominasi oleh mereka yang sudah tua bergaya alay. Ciri-cirinya antara lain upload foto dengan pose menjulurkan lidah atau mengambil gambar dari atas kepala sambil menengadah dengan jarak dekat.

Apa kalian pernah melihat seorang ibu-ibu atau bapak-bapak (mereka yang sudah menikah dan memiliki anak) berpose demikian?. Sungguh tidak ada yang salah dari mereka, hanya saja kita yang melihatnya merasa mereka sudah tidak cocok melakukan hal itu, apalagi dengan kerutan di dahi dan pipi yang sudah mulai kendor.

Ciri-ciri lainnya adalah update status curahan hati. Biasanya mereka para alay tua akan ngomongin keburukan orang yang baru dia lihat di sebuah tempat umum yang menurutnya nggak banget, memamerkan kegiatan sosialnya seharian, menceritakan keluh kesahnya, dan lain sebagainya dengan harapan ada banyak like dan komentar.

Padahal itu semua lebih wajar dilakukan oleh anak-anak muda. Sudah tua mah sudah tidak wajar curhat di status sosial media atuh, malu sama yang muda.

Selain ciri-ciri di atas ada juga alay tua yang suka saling berbalas komentar mesra dengan lawan jenis. Sekali lagi, tidak ada yang salah dan tidak ada yang melarang, apa lagi bila alay tua masih berstatus single.

Hanya saja bila alay tua berstatus telah memiliki pasangan resmi bisa membuat kita yang melihatnya sebagai indikasi perselingkuhan.

Menjadi alay memang terlihat norak, tetapi akan jauh lebih norak lagi bila alay di saat sudah tidak pantas menjadi alay. Oleh karena itu mumpung masih muda dan single, jadilah alay yang sealay-alaynya.

Nikmati masa-masa kealayan kita agar ketika tua kita sudah “bosan” menjadi alay. Ketika kita sudah tua bukan tidak boleh berjiwa muda, tetapi bila menjadi alay di masa tua apa kata dunia?.