Ahh waktu, begitu cepat melesat, menyisakan kenangan yang tak berarti dalam perkembangan diri ini. Aku terlena dengan segala kelonggaran yang seolah aku ciptakan sendiri, padahal sesungguhnya masih banyak sekali pekerjaan yang harus ku kerjakan. Sepersekian menit tak memandang instagram, rasanya tanganku gatal. Sepersekian hari bahkan jam tak melihat chat wa, bbm, line walaupun tak ada pesan yang hinggap darimu, akupun belum bisa.

Hingar bingar orang bermunculan di jagad sosial media, berbicara tentang agama, politik, traveller, kriminalitas, dan yang paling sering kujumpai adalah memamerkan privasi diri yang sebenarnya tak ada untungnya bagiku. Seperti terdapat candu antara aku dan dunia maya. Tapi maksudku disini bukan untuk mengeluhkan kemajuan era digitalisasi, toh dia tetap menjadi penghiburku dikala kamu tak berada bahkan tak ingin ada untukku.

365 hari x 21, sepersekian minggu, jam dan detik telah kuhabiskan untuk menjalankan kehidupan di dunia. Tak ada perubahan untukku dan bangsa ini yang tercipta dariku. Aku hanya berputar menjalankan aktivitas yang monoton tiap harinya. Bahkan terkadang lebih buruk dari hari kemarin. Tak ada pesan-pesan semangat yang kau titipkan untuk merubah hidupku. Kau hanya fokus menjalani hidupmu dan hidupmu. Ahh kamu! Mengapa selalu membuatku berhasil berfikir tentangmu? Tolong berhenti, aku capek!

Kemudian aku sadar, bila tanggung jawabku didunia bukan hanya memikirkan tentangmu. Aku manusia yang tercipta untuk siap dikembalikan kembali kepadaNya dengan membawa sebuah pertanggungjawaban selama bernafas dimuka bumi ini. Hai kamu, terima kasih telah mengajariku arti sebuah kangen yang mendalam yaitu rindu. Karena dengan adanya rindu, aku tak ingin terus-terusan berdiam diri, menunduk melihat layar handphone, tak ada pekerjaan yang tuntas dikerjakan. Rindu, mengajariku bagaimana terus bertahan menghempasnya jauh-jauh dengan segala rutinitas yang bermanfaat untuk masa depanku. Rindu, mengajariku bagaimana berkomunikasi denganmu melalui Allah SWT. Ahhh, tapi dengan adanya rindu itu artinya aku tetap memikirkanmu, bukan? Padahal aku ingin fokus, hanya, cukup untuk diriku, saat ini.

Biarlah kalimat “aku tak ingin berbicara tentangmu” hanya menjadi judul dalam tulisanku ini. Judul yang akan terus ada, namun tak kekal. Karena suatu saat nanti, mungkin saja aku berhak untuk terus memikirkanmu. Untuk saat ini aku hanya berhak berfikir tentangku dan hanya aku. Tentangku yang terus berjuang menyelesaikan studi, tentangku yang terus berusaha memajukan bangsa ini, tentangku yang harus menjadi anak yang bermanfaat dan membanggakan ibu dan bapak.

Advertisement

Ahh waktu, kali ini aku berjanji untuk menggunakanmu sebaik mungkin. Menikmati sepersekian tarikan nafas yang masih Allah tiitipkan untukku. Bersyukur di setiap kali aku bangun dari tidur, mencurahkan setiap impian dan doa-doaku untuk orang-tercinta dalam sujud di keheningan sepertiga malam. Menjalani segala kewajibanku dengan sebaik mungkin, aku pernah membaca quote dari Pidi Baiq “lakukanlah yang terbaik, bila kamu tak bisa melakukan yang terbaik, jangan lakukan!”. Jika dipikir-pikir, benar juga. Buat apa melakukan sesuatu yang sebenarnya kita sendiri sadar bila yang dikerjakan itu bukan yang terbaik dari usaha kita. Buat apa? Kalau kita bisa melakukan lebih baik dari itu, kenapa tidak?

Memang seyogyanya hidup adalah perjuangan yang harus diperjuangkan hingga tubuh ini menyatu dalam gumpalan tanah dengan balutan kain putih yang menutupi tubuh.